Sore ini matahari bersinar terik sekali. Menusuk mata siapa pun yang berani memandang langsung ke arahnya.
Posted with WordPress for BlackBerry.
Selama ini Kabupaten Mimika lebih dikenal dengan kegagahan puncak Cartensz (Amungme: Nemangkawi) yang berkalungkan salju. Sekalipun sekarang salju itu sudah mulai lumer akibat pemanasan global. Padahal jika kita lihat peta dan lihat langsung, mayoritas wilayah Kabupaten Mimika adalah daerah aliran sungai. Mimika sendiri dalam bahasa Kamoro berarti “sungai sedang meluap”.
Hingga kini, sungai masih menjadi denyut nadi perkembangan daerah. Berbagai macam kebutuhan dikirimkan dari Timika melalui sungai, khususnya untuk kampung-kampung di daerah pesisir. Semua kampung masyarakat Amungme di daerah dataran tinggi didirikan di daerah aliran sungai Otomona, seperti Tsinga, Aroanop, dan Jila.
Total ada 28 Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kabupaten Mimika. Ujung timur Mimika adalah daerah yang ditandai dengan sengkarut Daerah Aliran Sungai Namarepi (Nawaripi?), Ararau, Mupuruka, Ekopini, Yara, Aparuka.
Lebih ke barat ada Daerah Aliran Sungai Maparwa, Kipia, Akar, Makirimu, Wakia, Yawai, Urumuka, Karwabeau, Ibrawda, Mimika, Uta (di peta DAS ini sudah masuk Kabupetan Paniai), dan Yawai. Di DAS Urumuka ini kalau tidak salah akan didirikan sebuah pembangkit listrik berkekuatan besar yang mampu memasok kebutuhan listrik kota Timika. Zaman dulu daerah ini adalah pos pemerintahan kolonial Belanda di pesisir selatan Papua, namanya Uta. Seingatku, tanah di daerah Uta memang subur sekali. Terlebih jika dibandingkan dengan Kaokanao yang lebih mirip daerah rawa-rawa.
Mendekati kota Timika, ada DAS Keakwa, Kamora, Wania, Aiwanoi, Otakwa, Mawati, dan DAS Otomona di daerah dataran tinggi. Lebih ke timur ada DAS Akimuga dan Cemara yang sangat subur,serta DAS Noordwest dan Kastel Barat. Tidak heran jika dulu Dinas Pertanahan pemerintah Belanda merelokasi orang Amungme yang tinggal di dataran tinggi ke DAS Akimuga. Sampai tahun 1980-an, Akimuga masih terkenal sebagai daerah pemasok berbagai macam sayur dan buah-buah untuk Mimika.
Seorang paitua Kamoro mengatakan bahwa dia masih ingat benar bagaimana sungai Ajkwa yang kini menjadi hamparan tailing dulunya adalah jalur utama masyarakat Kamoro untuk mengadakan kontak dengan masyarakat Amungme. Paitua Kamoro itu juga bermimpi bahwa suatu saat sungai Ajkwa akan pulih dari limpahan tailing dan bisa kembali disusuri. Dia pasti tidak pernah berpikir bahwa daerah aliran sungai Ajkwa akan jadi hamparan tailing. Dan sekarang jadi medan penembakan misterius pula.
Negara kita sebenarnya sudah mempunyai undang-undang tentang pengelolaan Daerah Aliran Sungai, yakni Undang-Undang Republik Indonesia No. 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air. Di dalamnya, terurai 5 (lima) aspek dalam pengelolaan sumber daya air, yaitu Konservasi Sumber Daya Air, Pendayagunaan Sumber Daya Air, Pengendalian Daya Rusak Air, Sistem Informasi Sumber Daya Air serta Pemberdayaan Masyarakat (Stakeholders). Tapi entahlah bagaimana pelaksanaannya.
“Semua yang berlebihan itu sia-sia,” kata Monsieur Charles Maurice de Talleyrand, Menteri luar negeri Prancis di era Napoleon. Kata-kata itu diucapkan kembali dengan penuh keyakinan oleh Jacques Verges, pengacara Pol Pot. Dan hingga kini, sama halnya dengan para despot lainnya di seluruh dunia, Pol Pot masih belum diganjar hukuman.
Kepada siapa dan dalam konteks apa kalimat itu diucapkan saya kurang tahu. Tapi jika kemudian kalimat itu dipinjam oleh seorang Jacques Verges yang pengacara Pol Pot, maka saya bisa memahami sasaran dan niatan kalimat tersebut. Cukup jelas bagi saya bahwa kalimat itu ditujukan bagi semua orang yang menuntut keadilan atas semua kejahatan Pol Pot. Bahwa hukuman atas Pol Pot adalah sebuah kemustahilan dan bahwa usaha untuk menghukum Pol Pot adalah sebuah tindakan yang berlebihan dan sia-sia.
Di Indonesia kita tidak mengenal sosok seperti Jacques Verges, tapi toh kita sepertinya sangat akrab dengan ancaman halus ala Verges. Marilah kita bertanya pada keluarga korban penghilangan paksa oleh negara yang setiap hari kamis berdemonstrasi di depan istana negara. Sikap negara yang mendiamkan aksi-aksi tersebut dan bahkan memandang penyelidikan Komnas HAM terkena azas “Nebis in idem” (alasan yang mengada-ada) adalah ancaman yang sama intimidatifnya dengan kalimat Menlu Prancis era Napoleon yang dikutip oleh Verges.
Saya yakin, hanya masalah waktu saja sampai ada seorang pejabat atau seseorang yang digunakan oleh pemerintah untuk mengatakan, “sudahlah, mendesak negara untuk mengakui semua kejahatannya itu tindakan yang mengada-ada, dan karena itu sia-sia.” Saya juga yakin, para orang tua korban sudah mendengarkan ujaran seperti itu di pikiran buruk mereka.
Dalam keadaan seperti itulah saya ingin mengenang seorang Sondang Hutagalung. Semasa hidupnya, sejauh yang saya tahu, dia adalah pemuda yang sangat aktif dalam usaha memperjuangkan keadilan bagi para korban penghilangan paksa. Semasa hidupnya, Sondang – dan semua pemuda Indonesia yang sadar – pasti kerap mendengarkan ujaran “kesia-siaan” itu dari sikap dan tindakan pemerintah yang masih memainkan nada militerisme Orde Baru, seperti banyak kejadian di Papua akhir-akhir ini.
Setelah menderita selama empat hari, Sondang Hutagalung akhirnya meninggal dunia pada hari Sabtu (10/12/11) di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Seperti biasa, sikap pemerintah selalu bertolak belakang dengan prinsip keadilan dan malah meragukan bahwa pemuda yang membakar dirinya itu adalah pemuda Sondang Hutagalung.
Bagi kita, tindakan protes berupa pembakaran diri ini adalah sebuah hal yang sangat baru. Kita hanya terbiasa pada aksi bunuh diri yang dilakukan oleh orang-orang muda dan menewaskan banyak orang. Bedanya dengan Sondang, orang-orang muda yang menghiasi dirinya dengan bom itu mati dengan janji akan mendapatkan imbalan di akhirat. Sedangkan Sondang?
Sayangnya Sondang tidak meninggalkan catatan apa pun.
Dalam banyak agama, api tidak hanya melulu dipandang sebagai lambang murka Tuhan, tapi juga lambang kasih Tuhan kepada manusia. Jika kita mau sejenak merenungkan peristiwa ini, bisa jadi kita akan berpikir bahwa Sondang telah memberikan sebuah “Baptisan Api” bagi pikiran kita yang sudah telanjur nyaman dan kehilangan pesona akan kemanusiaan, sebuah kesempatan kedua untuk menjalani hidup yang lebih memuliakan manusia.
Di akhir pekan seperti ini, Kasbi akan bermain sepuasnya di luar hampir sepanjang hari. Di hari biasa, dia baru bisa keluar rumah pada pagi hari sebelum kami berangkat kerja dan sore hari setelah kami pulang bekerja. Sebenarnya kami ingin membiarkan dia lebih lama di luar rumah, supaya dia lebih bebas berlarian, tapi terlalu banyak ancaman di luar; mulai dari anjing tetangga yang pernah menggigit dia, mobil dan motor yang lalu lalang, hingga anak-anak kecil yang ingin membawa Kasbi. Rumah kontrakan kami tidak berpagar, jadi siapa dan apa saja bisa nyelonong masuk ke halaman.
Padahal sebenarnya ada banyak hal yang Kasbi biasa lakukan di luar, mulai dari berburu kadal dan kodok kecil, bermain dengan anak-anak pemilik rumah kontrakan kami, main petak umpet di mobil. Kalau sudah capek dia akan memanjat kasa nyamuk dan duduk-duduk di ventilasi atas jendela rumah.
Bagi Kasbi, akhir pekan yang kurang menyenangkan adalah ketika Utik mulai menggendong dia ke halaman rumah untuk dimandikan. Sekalipun dimandikan dengan air hangat, nampak sekali kalau Kasbi jengkel dengan aktivitas itu.
Setiap hari Kasbi mulai beraktivitas sekitar jam 5 pagi untuk makan dan buang air. Setelah itu dia akan minta keluar rumah untuk bermain di halaman hingga sekitar jam 7. Dari jam 5 hingga jam 7 itu aku menyiapkan sarapan untuk Kasbi dan kami, membersihkan “toilet” Kasbi dan bersiap kerja. Untungnya Kasbi termasuk kucing yang pintar. Dia tidak pernah buang air di luar toiletnya. Dalam satu kesempatan, Kasbi pernah diajak Utik ke Timika untuk menjemput aku sepulang dari pedalaman. Nyatanya sekalipun di sepanjang perjalanan dikurung di dalam mobil, Kasbi tidak berulah, malah tidur nyenyak di jok belakang mobil.
Di hari kerja, Kasbi harus bermain di rumah sendirian sepanjang hari. Entah apa saja yang dia lakukan. Tapi yang jelas, daerah favoritnya adalah rak sepatu dan tumpukan koran di bawah televisi. Apalagi jika kami kelupaan menaruh tisu gelondongan di meja. Bisa dipastikan sepulang kerja dan pintu rumah dibuka, Kasbi langsung lari keluar meninggalkan rumah yang sudah dia acak-acak.
Kasbi baru mau masuk rumah kalau aku membuka kaleng makanannya. Setelah makan, dia akan sangat aktif sekali. Semua dipandangnya sebagai mainan. Bahkan kaki dan tangan kami. Utik apalagi. Tangan dan kakinya paling sering jadi sasaran Kasbi. Kami sering berpikir bahwa itu cara Kasbi menunjukkan bahwa dia ga suka ditinggal sendirian di rumah sepanjang hari. Mungkin juga karena giginya mulai tumbuh.
Saking nakalnya, Kasbi pernah keracunan. Di suatu hari sabtu yang tenang, dia tiduran di kasur bersamaku ketika mendadak dia batuk-batuk dan mulutnya mengeluarkan busa. Awalnya aku tertegun, sempat ada kesan lucu juga bahkan melihat wajahnya yang pilon itu, tapi lalu aku jadi panik.
Di Timika tidak ada dokter hewan. Yang ada hanya pelayanan vaksinasi hewan di kantor Dinas Peternakan. Temanku seorang dokter menyarankan diberi susu yang banyak saja, “nanti juga sembuh” katanya menenangkanku. Maka hari itu Kasbi mendapat keistimewaan minum susu setiap beberapa jam sekali. Esok harinya dia sudah bisa kami nyatakan sembuh karena aktivitasnya kembali tinggi. Dugaan kami, dia minum air cucian mobil di halaman depan.
Kasbi baru mulai ngantuk sekitar jam 9. Tapi biasanya, setelah tidur sekitar satu jam dan makan snack, Kasbi akan kembali bermain sampai jam 12 malam. Capek memang mengurus Kasbi dan semua kenakalannya, tapi itu semua tergantikan dengan menggendong dan menatap matanya yang mulai ngantuk. Tenang sekali rasanya.
Ketika Kasbi benar-benar tertidur, baik di gendongan atau pangkuanku, seluruh jiwa ragaku seperti ikut istirahat. Dia seperti menyeretku masuk ke dalam dunia lain yang penuh kedamaian. Itulah dunia yang pernah diperkenalkan kucing-kucingku yang terdahulu dan hilang ketika mereka pergi. Aku pernah punya kucing yang selalu memijat dadaku dengan cakar-cakarnya sebelum kemudian tidur. Kasbi punya cara sendiri, memandangi wajahku hingga dia tertidur. Seolah hendak meyakinkan bahwa aku akan tidur juga dengan dia.
Mata itu pula lah yang membawa lebih banyak kasih bagi kehidupan rumah tangga kami. Kasbi berdiri di antara dua ego yang sedang belajar memahami satu sama lain dan menjadikan benang-benang ketegangan di antara kami sebagai mainan belaka. Pada akhirnya yang muncul di antara Kasbi adalah untaian spektrum-spektrum warna kasih yang mengikat aku dan Utik serta Kasbi menjadi satu foto keluarga yang unik.
Tidak heran jika kucing menempati posisi istimewa di dalam kehidupan rumah tangga pasangan muda Jepang, seperti yang aku baca di novelnya Haruki Murakami, The Wind-up Bird Chronicle. Dalam novel itu, kucing milik Toru Okada, sang tokoh utama, hilang begitu saja di suatu hari. Dalam perjalanannya mencari kucing yang diberi nama Noboru Wataya (yang ternyata nama saudara iparnya yang sangat dia benci), Toru Okada yang pengangguran itu kemudian bertemu dengan orang-orang aneh yang tinggal di sekitar rumahnya.
Ketika Noboru Wataya akhirnya kembali, cerita kehidupan Toru Okada sudah benar-benar aneh; Istrinya pergi meninggalkan dia tanpa alasan yang jelas, perenungan-perenungan Toru Okada di dalam sumur, perkenalan dengan seorang perempuan eksentrik bernama Malta Kano, dan kisah kekerasan di Manchuria, China pada masa Perang Dunia II.
Sementara bagi kami ceritanya cukup berbeda. Kasbi akhirnya tidak pulang seperti halnya Noboru Wataya dan kehidupanku tidak seaneh Toru Okada. Dalam hati aku sempat berharap, ingin ku tebus kehilangan Kasbi dengan hidup yang aneh ala Toru Okada.
Kasbi hilang pada hari Selasa tanggal 4 Oktober 2011 di pagi hari. Biasanya kami akan dengan mudah menemukannya sedang tidur di dalam kap mesin. Tapi pagi itu Kasbi tidak ada. Ketika akhirnya kami berangkat kerja, Kasbi masih tidak muncul juga. Utik bahkan sempat pulang beberapa kali ke rumah untuk mencari Kasbi. Kami menduga dia terbawa mobil rumah sebelah yang pernah dia masuki juga.
Malamnya aku mencari Kasbi hingga ke RT sebelah dan kantor Pak Totok, pemilik mobil yang kami sangka dimasuki Kasbi. Demikian juga malam berikutnya. Dan selama dua malam itu kesedihan seperti ikut tidur bersama kami untuk kemudian terbang melayang hinggap di piring makan Kasbi, dan tempat buang air Kasbi, dan kursi merah di depan meja kerja yang jadi tempat favoritnya untuk tidur. Keesokan harinya kami mencari Kasbi bersama dan menempelkan berita kehilangan Kasbi di terminal dan sebuah halte.
Pada hari Kamis sore tanggal 6 Oktober 2011, aku mendapatkan balasan atas berita itu melalui sms dari Pak Asep pemilik rumah kontrakan kami. Setibanya di rumah aku langsung ke rumah tetangga. Aku sempat ragu ketika mereka menawarkan diri membuka kuburan untuk memastikan saja. Ketika aku mengiyakan, seorang pemuda mengambil sebuah sekop dengan gagang yang panjang sekali untuk menggali kuburan.
Pemuda itu terus mencangkul tanah dan dengan tepat menahan ayunan sekopnya lalu mulai menggunakan tangannya. Ternyata benar itu Kasbi. Dia nampak seperti sedang tidur. Seorang anak kecil muncul dan mengatakan, “ini anjing gigit dia,”katanya sambil menuding seekor anjing yang memang pernah menggigit Kasbi. Aku hanya terdiam lalu meminta tolong pemuda itu untuk membantuku memakamkan Kasbi di halaman rumahku. Kasbi akhirnya bisa pulang dan beristirahat untuk selamanya, ditemani handuk dan bola tenis kesukaannya.
Beberapa hari kemudian, di Akimuga, sebuah kampung di pedalaman sebelah timur Timika, aku bermimpi menggendong Kasbi. Di mimpi itu, Kasbi nampak sudah besar dan bulunya terlihat cerah. Bola matanya yang misterius seolah meneguhkan bahwa aku tidak akan pernah berhenti mencintai hewan aneh ini dan sebuah isyarat akan perjumpaan lagi di masa datang.
(bagian pertama dari entah beberapa tulisan lagi)
Aku berjumpa dengan mahkluk kecil itu pada 19 Agustus 2011 di sebuah jalan yang sibuk di daerah SP IV, kurang lebih 10 kilometer selatan kota Timika. Dia sepertinya hendak menyeberang jalan dan nyaris terlindas mobil yang aku tumpangi.
Pada saat aku turun dan mengambilnya, sebagian dari diriku menginginkan dia, sebagian memintaku untuk menaruhnya di pinggir jalan. Tapi ternyata aku membawanya masuk ke dalam mobil. Semua temanku di dalam mobil pada heran, “ngapain kucing itu dibawa? Kasih tinggal sudah….” Di dalam benakku juga terbayang komentar Utik, pasti jadinya akan seperti “ih, kucing jelek gitu dibawa pulang” atau “rumah kita ga memungkinkan untuk pelihara kucing”. Lalu menyusul aku teringat akan kesibukan hari ini, masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan dan tempat yang harus aku datangi. Tapi entah kenapa aku bergeming.
Aku masukkan dia ke dalam kantong luar tas ranselku. Anehnya, dia tidak berontak seperti yang aku duga. Dia malah sibuk membersihkan dirinya. Dari berat badan dan ukuran tubuhnya, aku menduga saat itu umurnya baru sekitar 6 bulan. Yang membedakan dia dengan kucing-kucing lain yang aku pelihara dan lihat di manapun, di ujung telinga kucing ini ada bulu yang menyembul, memberi kesan bahwa dia bukan kucing ras lokal.
Setibanya di kantor, aku menitipkannya ke seorang teman yang juga doyan pelihara kucing. Aku langsung bergegas ke ruang rapat untuk sebuah rapat penting.
Usai rapat, aku mendapatinya sedang duduk diam di atas meja resepsionis kantor. Temanku memberikan sebagian menu makan siangnya untuk kucing itu. Ketika ku tanya makan apa kucing itu, temanku menjawab, “eh, dia makan Kasbi…. suka sekali…mungkin karena lapar, toh…” Aku hanya tersenyum sambil menggendong dia masuk ke tasku lagi. Masih ada pekerjaan lagi yang harus segera aku selesaikan.
Tanpa sadar, sambil memasukkan dia ke dalam kantong tas, aku telah memberinya nama, “Kasbi, ayo masuk… ikut aku kerja dulu ya.”
Setibanya di kantorku, Kasbi yang sudah tertidur terpaksa aku bangunkan karena aku harus mengeluarkan laptop dan barang-barang lain. Setelah itu, aku kembali memasukkan dia ke dalam tas dan memintanya untuk tidur. Nampak jelas bahwa dia masih kebingungan dengan tempat-tempat baru yang dia lihat. Mungkin karena capek dan dipenuhi ketakutan di tengah jalan tadi, dia memilih untuk memulihkan tenaga dan pikirannya dengan melanjutkan tidur.
Kira-kira 2 jam kemudian Kasbi terbangun. Perutnya yang buncit ke samping tidak menghalangi niatnya untuk menjelajah area kantorku. Karena tidak ada yang bisa aku berikan padanya, aku hanya mengawasi dia. Hingga akhirnya aku masukkan dia ke dalam kantong tas ranselku lagi untuk bergegas pulang. Sebelum pulang aku membelikannya sekaleng makanan kucing dewasa di sebuah supermarket di Timika.
Sepanjang perjalanan dari Timika ke Kuala Kencana, Kasbi kembali tertidur dan aku memikirkan begitu banyak hal lain. Satu hal saja yang tidak kupikirkan; urusan sanitasi kucing. Dan benar saja, setibanya di rumah dan disambut gembira Utik dan setelah dia mulai menjelajah ruang tengah rumahku, Kasbi menentukan tempat boker yang ideal sekali, di sudut dapur persis di bawah rak perabot makan. Kalau ada skala untuk bau yang sangat menyengat, mungkin nilai bau feses Kasbi ini jauh di atas batas kemampuan penciumanku untuk bau yang tidak menyenangkan.
Sambil menciduk pasir di gundukan pasir milik tetangga (yang mestinya akan digunakan untuk membangun rumahnya), aku menyimpulkan bahwa Kasbi harus tidur di luar rumah, kalau dia hilang ya sudah resiko ditanggung si Kasbi. Tapi ternyata Utik menolak. “Kasian, dia tidur di dalam saja…” Dengan demikian, dimulailah babak baru kehidupan rumah tangga kami….
(bersambung)
Kanal News Room – Saluran Informasi Kasus Lumpur Lapindo Perspektif Korban.
Kanal News Room (KNR) adalah dapur berita dan data yang menyajikan fakta lapangan, data, dan analisis tentang kasus lumpur Lapindo dengan menitikberatkan pada perspektif pemulihan hak-hak korban. KNR lahir atas inisiatif aliansi masyarakat sipil untuk korban Lapindo pada pertemuan Ciputat 12-13 Juli 2008. Setelah dibentuk tim kecil yang menindaklanjuti dengan langkah-langkah konkrit, KNR berdiri di Porong, Sidoarjo, sebagai lembaga induk yang melahirkan tiga bentuk media, yakni website korbanlumpur.info, buletin Kanal dan Kanal Radio (audio feature).
Pada 2010, bersama warga Besuki Timur dan beberapa mitra, KNR mendirikan Kanal Besuki Timur FM (KBT FM), radio komunitas yang berkedudukan di Desa Besuki Timur, sebelah timur tanggul lumpur Lapindo.
KNR dikelola oleh tim media Posko Keselamatan Korban Lapindo, Porong, Sidoarjo. KBT FM dikelola pemuda/i Desa Besuki Timur. KNR telah melakukan berbagai kerjasama di antaranya dengan Yayasan Tifa, Lapis Budaya, Walhi Jawa Timur, Air Putih, MediaLink dan Combine Resource Institute.
Masalah yang ingin diatasi:
Praktik-praktik pemberitaan kasus lumpur Lapindo di media mainstream ternyata tak cukup mampu mengambil posisi supportive, apalagi memihak, terhadap pemulihan hak-hak warga korban. Ini mengakibatkan posisi warga korban kian terjepit. Oleh karena itu, representasi media yang mencerminkan, atau lebih mendekati, realitas kasus dan situasi warga korban, yang meliputi hidup sehari-hari akibat luberan lumpur itu sendiri atau akibat kebijakan dan penanganan yang ada, hingga pergulatan mereka memperjuangkan hak-hak dengan berbagai bentuk tuntutan yang berbeda antara satu kelompok warga dan kelompok lainnya, sangat dibutuhkan.
Di sinilah KNR diharapkan menjadi saluran informasi yang mengedepankan pemulihan hak-hak korban, di satu sisi, dan menjadi rujukan informasi bagi publik yang concern pada kasus ini di sisi lain. KNR telah mampu menjalankan misinya hingga saat ini, dengan melakukan kerjasama-kersajama dengan berbagai lembaga. Namun, saat ini kami mengalami kesulitan finansial, padahal kami bermaksud untuk memperkuat kelembagaan dan mengembangkan KNR sehingga misi bisa dijalankan lebih solid, kokoh dan kontinu.
Cara mengatasi dan masyarakat yang diuntungkan:
Sebagai bagian dari upaya menjawab kebutuhan di atas, kami ingin memperkuat dan mengembangkan KNR dan lini-lini produknya, melalui kegiatan:
Proyek ini akan memberikan manfaat bagi warga korban lumpur Lapindo di 3 kecamatan (Porong, Tanggulangin, Jabon) Sidoarjo, dan publik
Ukuran kesuksesan:
Perjalanan lumayan melelahkan selama kurang lebih 3 jam dari Surabaya itu mulai terasa impas ketika mobil yang kami kendarai akhirnya menyentuh jalanan aspal halus di jalan ke arah Kediri. Jalan itu akan kamu temui setelah lepas dari kota Jombang.
Tidak ada lagi jalanan bergelombang dan berlubang serta bis dan truk yang melaju kencang. Pengendara motor tidak banyak dan hampir semuanya berkendara dengan tertib tidak terburu-buru. Istriku bisa tidur setelah selama 3 jam menjadi navigatorku menghadapi rute yang tidak terlalu aku kenali ini. Sekalipun demikian, kamu masih harus waspada, apalagi di malam hari, karena tidak ada lampu jalan yang membantu penglihatan.
Ini adalah perjalanan pertamaku ke Kediri setelah bertahun-tahun silam, di masa kecilku. Yang aku ingat dari Kediri saat itu hanyalah sebuah jalan yang dihiasi gapura Majapahit serta warna dan rasa khas tahu Kediri. Sebelum berangkat aku sempat bertanya ke beberapa orang, adakah jalan semacam itu di Kediri? Kebanyakan menjawab tidak pernah melihatnya. Entahlah, mungkin itu adonan ingatan masa kecil yang terlalu banyak tercampur mimpi.
Menjelang memasuki kota Kediri, aku dan istriku dikejutkan oleh deretan pagar yang panjang sekali. Rupanya itu kompleks pabrik sebuah merek rokok yang aku gemari. Kompleks bangunan itu baru berakhir di sebuah jalan yang sepertinya adalah jalan lingkar luar kota Kediri. Kami terus melaju, melewati jalan menikung ke kanan yang mengarah ke Pohsarang. Ada kota yang ingin aku kunjungi terlebih dahulu.
Jalanan kotanya cukup bersih, dihiasi barisan pepohonan dan trotoar yang cukup lebar. Istriku senang sekali melihat Kediri. Saking senangnya bahkan sampai bilang kalau mau tinggal di Kediri. “Apalagi kalau ada mal, pasti lebih asyik…” imbuhnya kemudian.
Tidak lama kemudian kami mengarah ke sebuah jalan yang mirip sekali dengan kawasan Pecinan kota Malang, tapi lebih bersih dan teratur. Lalu kemudian sebuah bangunan yang mirip mal. Istriku senang sekali. Tapi semakin dekat nampak bahwa itu ternyata bukan mal. Dia masih senang, tapi agak lesu.
Sebuah alun-alun dan jembatan besi besar menggiring kami ke jalan menuju Pohsarang. Jalan semakin mengecil hingga akhirnya kami melihat sebuah papan bertuliskan Goa Maria Lourdes dan penunjuk untuk berbelok ke arah kiri. Jarak dari kota Kediri ke Pohsarang kurang lebih 10 km.
Kami tiba di tempat peziarahan Pohsarang sekitar jam 8 malam. Di luar dugaanku, gereja dengan arsitektur menarik yang sering aku lihat di buku dan internet itu ternyata pas berdiri menghadap jalan. Gereja yang didirikan tahun 1936 itu didesain oleh Ir. Henricus Maclaine Pont. Adalah Romo Jan Wolters, CM yang meminta Ir. Henricus untuk mengintegrasikan kebudayaan Jawa dalam bangunan gereja.
Tidak banyak aku lihat bangunan Belanda yang sangat berhasil memadukan keanggunan arsitektur Jawa dan kekokohan arsitektur Eropa. Gereja Pohsarang tidak sekedar menempatkan ornamen Jawa, tapi alam pikiran budaya Jawa.
Kecintaan Romo Wolters akan budaya sepertinya lestari hingga kini. Tidak jauh setelah memasuki jalan kecil yang memisahkan gereja dan susteran, kita akan bertemu sebuah ruang terbuka dengan kanopi dengan struktur baja yang menyerupai tenda dan atap yang memiliki kesamaan bentuk dengan gereja Pohsarang. Sayang aku lupa memotret bangunan itu.
Kami agak kaget bahwa di sisi kanan dan kiri jalan menuju bangunan itu, terletak sebuah pemakaman. Kaget yang tidak menimbulkan rasa ngeri.
Setelah itu kami kembali ke jalan setapak menuju Gua Maria. Deretan kios penjual suvenir dan kebutuhan peziarah mulai nampak. Hal yang maklum kita temui di tempat peziarahan semua agama. Di sebuah kios, kami berhenti untuk membeli lilin dan bertanya lokasi Columbarium (tempat persemayaman abu jenazah).
Columbarium itu terletak di dataran yang lebih rendah dari jalan setapak yang kami tempuh. Di situ bersemayam abu jenazah umat Katolik serta makam para Romo dan Uskup. Di siang hari, kita bisa melihat-lihat makam para romo dan uskup Keuskupan Surabaya.
Istriku dengan mudah menemukan kotak tempat bersemayamnya abu jenazah mamanya. Aku menyalakan dan menaruh dua lilin di depannya. Suasana tenang menjadi latar kami mengenang dan memanjatkan doa bagi mama.
Usai menengok mama, kami pergi ke Gua Maria Lourdes. Ada beberapa peziarah lain yang sedang datang malam itu. Tidak banyak kursi yang tersedia di area luas depan patung Bunda Maria. Jika ingin berdoa atau meditasi, baiknya membawa alas sendiri.
Keesokan harinya, sebelum kembali ke Surabaya, kami menyempatkan diri ke Pohsarang lagi. Gereja dengan arsitektur unik itu nampak anggun dan selaras dengan alam budaya Jawa. Penempatan lokasinya juga pas. Dia seolah memangku kompleks pekuburan yang berada di dataran lebih rendah dan menjadi gerbang sebelum menuju Gua Maria. Tapi sayangnya, komplek pekuburan masyarakat umum itu kondisinya agak kurang terawat. Ada beberapa nisan yang rusak tertimpa batang pohon.
***
Sementara Pohsarang berusaha selaras dengan kebudayaan dan alam Jawa, pertumbuhan daerah sekitarnya menunjukkan kebalikannya. Di sepanjang jalan mulai banyak berdiri rumah-rumah besar, tempat belanja oleh-oleh khas Kediri, kantor perusahaan dan sebuah hotel (sepertinya bintang tiga) yang sedang menyelenggarakan pertemuan para salesman sebuah perusahaan MLM.
Jika tidak ditata dengan baik, bukan tidak mungkin dalam waktu 10 tahun, tempat peziarahan ini akan benar-benar dikepung oleh geliat komersialisme. Perubahan memang tidak bisa dielakkan, tapi coba bayangkan jika semua tempat di dataran tinggi Jawa berubah seperti kawasan Puncak yang gaduh. Akankah kita ziarah ke luar negeri saja, sementara di negara kita sendiri ada begitu banyak tempat yang bisa dijadikan daerah peziarahan. Dan rasanya, seperti kata Ir. Johan Silas, Pohsarang bukan hanya monumen kebudayaan gereja, tapi juga monumen negara yang layak dipertahankan.
Halimun yang menyelimuti langit Mimika pagi itu tak kunjung sirna juga. Untunglah ini bukan perjalanan ke dataran tinggi. Peralatan navigasi yang paling canggih dan pilot yang nekad pun tidak akan bisa menaklukkan pegunungan tengah Papua.
Kurang lebih 20 menit kemudian helikopter kami mulai mencapai tujuan. Pilot mulai mencari lokasi pendaratan. Jalanan kampung mulai dipenuhi anak-anak yang girang melihat helikopter. Kami langsung berlompatan keluar dari helikopter disambut deru angin kencang dari helikopter dan rumput yang basah. Di sekeliling kami sudah banyak orang. Tidak lama kemudian helikopter langsung melanjutkan perjalanan ke Akimuga.
Yang turun di Jita antara lain; aku dan Bu Vonny dari Biro Pendidikan LPMAK, Pak Paul dari Yayasan Binterbusih Semarang dan Bu Linda dari SMU Lokon Manado.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami mendatangi beberapa sekolah di daerah pedalaman untuk melakukan rekrutmen peserta beasiswa LPMAK. Menurut informasi dari Kepala sekolah SMPN Jita, ada 12 siswa kelas 3 di Jita yang kiranya bisa ikut rekrutmen beasiswa LPMAK.
Setiba di rumah Pak Donatus untuk menaruh barang-barang, kami diberitahu bahwa beberapa anak kelas 3 sudah pergi ke Sumapro, kampung sebelah yang jaraknya kira-kira dua jam perjalanan lewat sungai. Beberapa lagi sudah ke Timika menumpang pesawat. Ada juga yang ke Akimuga mengikuti acara peresmian gereja. Sisanya hanya ada 3 anak saja. Itu pun masih harus dicari.
Akhirnya kami putuskan untuk menunda tes hingga keesokan hari. Sekalian memberi waktu bagi seorang guru yang pergi berangkat ke Sumapro untuk mencari anak-anak. Setelah disepakati demikian, rombongan kami mengatur barang-barang bawaan di rumah pak guru. Di saat seperti itu, kami akan mendapatkan banyak sekali informasi dari masyarakat. Dan inilah beberapa hal tentang Jita yang sempat aku catat:
Jita adalah distrik paling timur di wilayah dataran rendah Kabupaten Mimika. Perjalanan dua jam dengan speedboat ke arah timur kita sudah akan tiba di Agats, Asmat. Kampungnya cukup bersih. Bahkan bisa dibilang asri, karena hampir di sepanjang jalan kampung dihiasi oleh tanaman hias. Jalannya juga tidak becek. Mungkin karena ada parit di kedua sisi jalan.
Bukan hanya orang Kamoro yang tinggal di Jita. Orang Amungme dan Nduga juga banyak yang tinggal di Jita. Menurut cerita, mereka adalah orang-orang Amungme yang meninggalkan Akimuga pada masa konflik tahun 1974-1975. Ada seseorang yang menuturkan, dengan menurunkan nada suaranya, bahwa orang-orang Amungme di Jita adalah orang-orang hutan yang kurang suka dengan pemerintah Indonesia. Aku pernah dengar ungkapan semacam itu, lebih halus malah, seperti “saudara-saudara kita yang tinggal di hutan”.
Dari rumah pak guru nampak kantor distrik yang sepertinya masih baru, pos tentara 754/Eme Neme Kangasi, kantor Koramil Jita, dan dua buah bangunan sekolah. Satu buah bangunan sekolah nampak sudah tidak terawat, satu lagi masih nampak bagus.
Di SD itulah, Pak Donatus bertugas sebagai guru sekaligus menyandang jabatan Kepala Sekolah SD dan SMP sekaligus sementara karena katanya Pak Kepala Sekolah sedang sakit. Pak Donatus dibantu beberapa bu guru muda yang penuh semangat, antara lain Bu Juwita dan Bu Marlin.
Keesokan harinya, beberapa anak dari Sumapro dan dari Jita sendiri sudah berkumpul di sekolah. Tes penerimaan beasiswa LPMAK akhirnya bisa dimulai. Sementara tes, aku dan Bu Vonny berjalan melihat-lihat bangunan SD dan SMP.
Di halaman SD, Bu Marlin rupanya sedang mengumpulkan anak-anak SD di depan sekolah untuk kerja bakti. Anak-anak itu berlarian dari arah kampung sambil membawa parang. Uniknya, ada satu anak perempuan yang membaw a buku dengan warna cerah yang sepertinya aku kenal. Ternyata benar, anak itu membawa Buku Pengharapan, buku sekolah minggu yang juga sedang aku bagikan di Timika. Buku itu kiriman dari seorang teman di Makassar.
Menurut Bu Marlin, dia juga mendapatkan buku itu dan mengedarkannya untuk anak-anak di Jita. Dari buku itu, selain belajar agama, anak-anak juga terbantu belajar membaca. Guru juga memiliki semacam media yang lebih mengena bagi pengajaran anak-anak. Kenapa lebih mengena? Tanyaku pada bu guru yang sudah mengajar sejak tahun 2005 itu. “Karena anak-anak suka gambar dan kisah-kisah yang diceritakan,” kata Bu Marlin.
Media belajar memang masalah tersendiri di sekolah pedalaman di Papua. Sering sekali aku melihat sekolah yang sebenarnya memiliki buku dan alat peraga yang lumayan, tapi karena konteks dalam buku-buku pelajaran kurang nyambung dengan konteks di Papua; guru jadi ragu mengajar, murid jadi seret ilmu. Kalau Anda bilang bahwa sebenarnya dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang sudah ditetapkan pemerintah, guru mestinya harus lebih kreatif, Anda perlu melihat penerapannya di sekolah-sekolah seperti di Jita ini.
Di Jita ini, modal awal sebenarnya sudah cukup, dengan adanya guru-guru muda yang bersemangat seperti Bu Marlin dan Bu Juwita. Tapi tanpa dukungan buku dan media belajar yang sesuai dengan konteks Papua maka tugas guru-guru itu akan semakin berat.
Di perpustakaan SMP Negeri Jita misalnya, tumpukan buku di rak ternyata lebih banyak diisi buku-buku umum dan buku pelajaran untuk Kejar Paket A dan B. Aku tidak sampai hati bertanya soal dana BOS yang mestinya bisa digunakan untuk beli buku. Seharusnya para pengawas sekolah yang mampir ke sekolah ini dan para pembuat kebijakan pendidikan di Jakarta sana yang berpikir bahwa guru dan buku yang berkualitas jauh lebih berharga bagi masyarakat katimbang gedung dan seragam merah putih.
Di akhir obrolan, Bu Marlin menitipkan pesan kepadaku untuk mendapatkan buku pengharapan, khususnya buku pegangan guru. Bu Juwita juga meminta hal yang sama. Aku jadi sungkan. Lha wong yang di Timika, aku belum tahu pasti apakah buku yang sudah aku bagi ke beberapa teman itu sudah efektif terpakai atau belum.
Usai tes penerimaan beasiswa LPMAK, langit Jita kembali diselimuti halimun. Anak-anak SD dan SMP mulai pulang ke rumah masing-masing. Semoga mereka masih bisa meraih masa depan sekalipun kabut menutup jalan mereka.
Ini sepertinya buku kumpulan foto tentang Papua dalam format “coffee table book” pertama yang aku lihat.
Halaman-halaman luas di dalam buku ini kebanyakan diisi satu foto saja, dengan keterangan yang minim. Pembaca seolah diajak mengisi sendiri caption foto di dalam otak mereka.
Saking besar dan hegemoniknya foto-foto di buku ini, aku dengan enaknya melewatkan halaman prolog dan epilog. Tindakan yang cukup goblog, semoga tidak kamu ikuti jika kebetulan membeli atau membaca buku ini suatu saat.
Sepertinya buku ini lebih cocok dibeli pemilik usaha warung kopi atau bidang jasa apapun yang memiliki ruang tunggu yang nyaman. Sambil menunggu giliran, kamu bisa melihat panorama danau Sentani hingga rumah panggung orang Korowai. Aku sendiri membaca buku ini sambil menunggu pertemuan dengan Uskup Timika, Mgr. John Philip Saklil di rumahnya.Bagaimanapun juga, buku ini sangat efektif untuk membuka awal ketertarikan terhadap Papua. Apalagi di tengah minimnya buku-buku tentang Papua di Indonesia.
Yang bikin namanya Bekto Suprapto. Seorang fotografer tentunya.