infonie 2.0

Icon

Just another onny wiranda’s weblog

Seharusnya Seperti Jan Sochor

Jan Sochor

 

Seharusnya seperti ini hasil foto-foto pentahbisan imam Keuskupan Timika beberapa bulan lalu. Banyak sekali sudut pandang dan komposisi bagus yang terlewatkan begitu saja. Padahal cahayanya tidak terlalu terik saat itu, masih pagi. Bedanya mungkin adalah ritme. Arak-arakan di Malaga ini pasti pelan sekali, seperti jalan salib atau passio pada masa Paskah. Sementara arak-arakan pentahbisan imam Keuskupan Timika lebih mirip pesta orang Kamoro dan orang Mee. Saking meriahnya sampai aku sendiri larut hingga nyaris mengikuti gaya jogetnya Mama-mama Kamoro yang rancak itu. Mas Sochor ini pasti punya banyak waktu untuk mengamati dan menentukan komposisi foto.

Anyway, bravo buat mas Jan Sochor, fotografer kelahiran Republik Ceko yang sekarang ulang-alik antara Amerika Selatan dan Eropa.

 

Filed under: Foto , ,

La Empresa Guerra

La Empresa Guerra

Membaca buku ini seperti menonton Generation Kill atau film-film perang-nya Oliver Stone. Baca resensinya di blognya InsistPress dan segera dapatkan di toko buku terdekat.

Filed under: Buku ,

Doa Penulis Gagal Di Hari Ulang Tahunnya

Aku percaya bahwa kata-kata tidak akan pernah mengecewakan aku. Bahwa kata-kata adalah satu-satunya sumber penghidupanku, baik rohani dan jasmani.

Dalam saat-saat tergelap aku kembali menemukan kehidupan dari kata-kata yang Dia tinggalkan di selokan, di bawah kursi warung yang kotor, di jalanan, di ruang tamu yang sepi, dan tuts-tuts komputer yang berdebu.

Dalam saat-saat terbaikku, kata-kata menunjukkan begitu banyak hal yang begitu bisa aku lakukan untuk memuliakan kehidupan dan manusia.

Hanya melalui kedua ruang hatiMu yang aku alami di kehidupan ini itulah aku bisa meraba diriMu dan ikut menjadi bagian dari keIlahianMu, yang bagiku nampak seperti bunga mawar yang tersaput lumpur; karena justru dalam derita Kau menunjukkan diriMu dan dalam kegetiran hidup Kau menemani semua umatMu.

Bahwa penuntun dari jemariku yang menorehkan kata-kata adalah hatiMu yang bekerja melalui semua ciptaanMu, sesamaku yang dina, yang dalam sepi mendengar suara kasutMu namun tak kuasa menumpahkannya dalam kata-kata selain dalam pengharapan sederhana yang terucap lirih.

Aku percaya bahwa kata-kataku adalah perpanjangan dari karya kasihMu, yang senantiasa menawarkan pengharapan dan sebuah alas untuk memasuki pintu hatiMu, bagi siapapun yang membaca atau mendengarnya.

Filed under: Tentang kawan

Menaga Nemunki*

Menaga Rugby Club

Pada zaman dahulu, semua mahkluk hidup tinggal di dalam perut bumi. Mereka semua hidup tentram di bawah pimpinan Menaga Nemunki (papa Kuskus).
Suatu saat, mereka melihat seberkas sinar menyelinap masuk ke dalam perut bumi dari antara akar-akar pepohonan dan celah-celah bebatuan. Seketika suasana di dalam perut bumi menjadi gaduh.

“Ai, Lau-lau, ko ada lihat itu? Terang sekali” kata burung Mambruk kepada Lau-lau.
”Ada apa di atas sana?” tanya burung kasuari.
”Mari kita pergi lihat,” ajak Lau-lau dan burung Mambruk kepada hewan-hewan yang lain.
”Hei hei, apa-apaan ini? Berhenti sudah,” Menaga Nemunki mencoba mencegah hewan-hewan yang penasaran itu.
“Kitong bahagia di bawah sini, buat apa naik ke sana,” tambah Menaga Nemunki.
“Ah Bapa, kitongss hanya mau lihat ada apa di atassss ssssana,” kata ular sambil berdesis.

Menaga Nemunki tidak berdaya mencegah rasa penasaran akan dunia di atas yang cahayanya masuk melalui akar pepohonan dan celah bebatuan. Yang pertama mencoba adalah burung kasuari, tapi akhirnya dia gagal. Lalu giliran ular yang mencoba. Dia berusaha menyelinap melalui celah bebatuan, tetapi Menaga Nemunki memegang ekor ular dan menariknya kembali hingga terjatuh.

Sedangkan manusia tidak bisa menggali tanpa tidak ketahuan Menaga Nemunki. Badan manusia terlalu besar, sudah pasti akan dengan mudah dilihat Menaga Nemunki.

Tapi ternyata, tanpa sepengetahuan Menaga Nemunki, anjing berhasil membuat sebuah terowongan menuju dunia luar. Terowongan yang dibuat anjing itu cukup besar hingga dapat dilalui semua mahkluk, termasuk manusia.

”Berhenti!” cegah Papa Kuskus. Tapi terlambat sudah, semua mahkluk sudah pergi meninggalkan perut bumi. Sejak itu, semua mahkluk hidup tinggal di atas bumi dengan bahagia.

Semua mahkluk hidup berterima kasih kepada anjing, kecuali Kuskus. Oleh karena itu kini anjing selalu membantu manusia berburu kuskus.

*Dikutip dari Cook, Carolyn Diane Turinsky (1995), The Amung Way; the Subsistence Strategies, the Knowledge and the Dilemma of the Tsinga Valley People in Irian Jaya, Indonesia.
*Legenda asal muasal orang Amungme, pernah dikutip oleh seorang “antropolog” tanpa menyebutkan sumber aslinya dan tanpa memverifikasi ke masyarakat Amungme.

Filed under: Papua , , ,

Penembak Misterius di Kaki Gunung

Jobsite PTFI

Jobsite PTFI

Siapapun pelakunya, rentetan peristiwa penembakan di sekitar areal Freeport ini telah mencapai target mereka; menyebarkan ketakutan. Sejak ditembaknya rombongan Sesko Polhutkam dua hari lalu, suasana jadi agak mencekam. Warga Kuala Kencana yang beraktivitas di Timika, 20 km dari Kuala Kencana, sudah meninggalkan Timika sejak pukul 4 sore. Di siang harinya sempat ada isu penembakan di Kuala Kencana. Ternyata hanya mobil yang melindas botol kosong. Di saat seperti ini memang mulut manusia jadi lebih efektif dan bahkan menyamai kekuatan mulut senapan dalam menyebarkan ketakutan.

Aku sendiri juga jadi ketar-ketir. Kuala Kencana itu kurang lebih sejajar dengan Mile 30-an. Di peta daerah kontrak karya PTFI bisa kamu lihat. Timika berada sejajar dengan Milepost 26.  Penembak misterius itu berkeliaran di daerah antara Milepost 30 hingga Milepost 50-an, daerah perbatasan antara daerah ulayat orang Amungme di pegunungan Jayawijaya dan orang Kamoro di dataran rendah. Bagi masyarakat Amungme dan Kamoro, daerah itu adalah daerah perjumpaan pertama dan selanjutnya menjadi daerah tempat barter antara orang Amungme dan Kamoro. Di tempat itulah para penembak misterius berkeliaran.

Aku bisa membayangkan bagaimana ngerinya naik mobil lewat jalan yang gelap dan hutan di kiri kanan jalan lalu ditembak. Dalam perjalanan pulang dari Ayuka (sekitar 20 km selatan Timika) mobil yang aku tumpangi dengan seorang teman dilempar beberapa “anggota” mabuk yang ingin menumpang. Suaranya keras sekali sampai aku kira mereka menembak. Padahal hanya melempar batu sambil misuh-misuh.  Kami menolak memberi tumpangan karena mereka berenam sementara bagian belakang mobil sudah dipenuhi peralatan fotografi milik kantor. Sebenarnya mobil mau aku hentikan untuk memeriksa kondisi dan, mungkin, balas memaki mereka. Tapi akhirnya aku dan temanku hanya bisa memaki-maki “anggota” mabuk itu sambil menginjak pedal gas dalam-dalam. Suasana sekeliling yang gelap membuat perjalanan jadi terasa lebih menegangkan. Itu baru dilempar batu. Bisa aku bayangkan ngerinya mendengar suara letusan di dalam kegelapan dan mendadak orang di sebelah kita berteriak kesakitan.

Semoga peristiwa ini cepat diungkap dan tidak tertumpuk permasalahan lain lagi. Apalagi setelah dua bom meledak di Jakarta pagi ini.

Filed under: Current issues, Papua

Maju Lancar Mundur Kena

Setelah memastikan pintu rumah terkunci, aku melangkah ke mobil dan menyalakan mesin. Di rumah sebelah, seperti biasa, beberapa mama duduk-duduk, mungkin lagi nggosip. Anak-anaknya Bu Siahaan bermain. Cuaca mendung pagi ini. Jam di hapeku menunjukkan angka 07:35. Saatnya berangkat ke Timika.

Setelah mesin mobil menyala aku menata beberapa kaset yang aku bawa. Hanya satu saja yang bisa aku nikmati, album kumpulan lagu terbaiknya Gin Blossoms. Oke berangkat.

Tiba-tiba kudengar suara teriakan. Tidak jelas urutannya. Suara mama-mama dan suara pria bercampur menjadi satu. Sekilas aku dengar ada yang teriak, “motor!”. Aku langsung mengerem mendadak. Ternyata ada motor yang diparkir pas di belakang mobil, dan kalau aku tadi menginjak gas lebih dalam pasti sudah hancur itu motor.
Posisi motor itu tidak terjangkau ketiga spion yang ada di mobil.

Aku jadi ingat beberapa kejadian seperti ini. Sebelum aku cuti, dua kali aku nyaris melindas orang hanya karena tidak nampak di ketiga spion. Padahal sudah aku lihat baik-baik tiga kaca pembantu penglihatan itu.

Yang pertama di jalan masuk RT 4 setelah aku mengantar Mbak Riri. Di gerbang masuk ada dua anak-anak yang berlarian. Tidak lama setelah aku parkir dan memundurkan mobil supaya pas di depan rumah Mbak Riri, mendadak ada suara “duk!” dan suara teriakan mama-mama. Lalu ada dua anak yang berlari.

Ternyata mereka lari mulai dari ujung jalan masuk RT ke jalan setapak di samping rumah Mbak Riri melintasi mobilku dan nyaris kulindas. Tetangga Mbak Riri yang pemarah itu langsung keluar dan marah-marah. Aku cuma diam aja. Anak-anak itu sama sekali ga kelihatan.

Wajah mereka terlihat bingung. Ketika aku tanya apakah mereka kena tabrak atau tidak, salah seorang di antara mereka bilang “tidak”.

Peristiwa yang kedua pas habis beli makan malam di terminal Kuala. Kejadiannya sama seperti ketika aku nyaris melindas anak-anak. Tapi kali itu di terminal mantan calon korbanku adalah beberapa pemudi.

Bedanya mereka langsung pergi sambil ngomel-omel. Mereka terus mengomel bahkan setelah mereka berjalan beberapa meter dari tempat parkir.

Ada banyak hal yang bisa terlindas, selain motor dan manusia. Bisa saja ada babi atau anjing yang duduk-duduk di belakang mobil. Pokoknya harus hati-hati. Ketiga spion harus benar-benar difungsikan dan dibantu sepasang mata kita. Aku jadi paham sekarang kenapa di Kuala banyak orang selalu mengklakson setiap kali hendak menggerakkan mobil mereka.

Filed under: Papua , ,

Meriahnya Pentahbisan Imam Keuskupan Timika

From Tahbisan Imam

Beruntung sekali aku bisa mengikuti misa pentahbisan Imam pada hari minggu lalu (19 April 2009). Meriah sekali. Kekecewaan karena tidak bisa nonton Karapau di kampungnya Pak Anton di Hiripau agak terobati.

Perarakan dimulai dari halaman SMP St. Bernardus dan berakhir di Katedral Tiga Raja. Jaraknya kira-kira 500 meter. Aku parkir mobil di Gelael di seberang SMP St. Bernardus, yang sudah dipadati beberapa kelompok tari Kamoro. Sementara jalan di depan Gelael ditutup dan diramaikan oleh kelompok kesenian orang Kei.

Perayaan pentahbisan ini memang kental sekali dengan nuansa Kamoro dan Kei. Selain karena dilakukan di Timika, tapi juga karena dua imam yang akan ditahbiskan dari suku Kamoro dan Kei. Sesaat setelah aku sudah di dalam halaman sekolah, di jalan melintas satu mobil pick up mengangkut orang-orang Mee (Ekagi) yang datang jauh-jauh dari kabupaten Paniai. Mereka datang untuk menyatakan rasa hormat kepada orang Kamoro dan Kei yang berkarya di daerah Paniai. Para penari Kamoro sendiri ada yang datang dari Timika dan dari Keakwa, di pesisir timur Mimika.

Kesenian Kamoro ternyata menarik sekali. Ada unsur spontanitas dan vitalitas hidup yang luar biasa di nyanyian-nyanyian mereka. Teriakan pemimpin kelompok sekalipun keras dan lantang sama sekali tidak menyiratkan agresi. Tarian mama-mama membuat banyak orang di pinggir jalan dan para fotografer jadi ikut bergoyang (untungnya saya cukup tahu diri untuk tidak ikutan goyang, hehe).

Formasi tari mereka seperti ini; para penari dibagi dalam empat lajur, dua lajur di bagian dalam adalah para pria yang membawa panah menyanyi dan menari lalu sesekali berhenti dan merapat ketika terompet bambu ditiup. Sementara para mama-mama berada di dua lajur terluar. Gerakan para mama-mama ini lebih rancak dibandingkan gerakan para penari pria. Di belakang para penari itu para imam yang bertugas di seluruh daerah Keuskupan Timika berjalan berarakan. Paling belakang adalah Bapa Uskup Mgr. John Philip Saklil.

Jalanan lurus itu berujung di sebuah pertigaan. Di sana sudah menanti kelompok tari orang Mee dan orang Kei.  Para umat di gereja yang mungkin sudah kepanasan dan bosan menunggu di gereja atau mungkin penasaran mendengar keributan di luar, berhamburan keluar gereja dan membuat pertigaan di depan Katedral Tiga Raja jadi ramai sekali. Terakhir kali aku melihat pertigaan itu ramai adalah ketika orang Kei bentrok dengan polisi pada awal tahun 2009. Tuhan memang cinta Papua. Tempat yang pernah bersimbah darah itu kini disiram kemeriahan kasihNya.

Setelah itu barulah para penari memberi ruang pada dua imam yang akan ditahbiskan dan rombongan imam Keuskupan Timika memasuki Katedral. Para imam yang akan ditahbiskan adalah P. Joseph Ikikitaro, Pr dari Keakwa dan P. Samuel.

Misa berlangsung seperti biasa sampai pada bagian pentahbisan. Banyak sekali orang yang ingin jadi fotografer, mulai dari yang fotografer resmi gereja sampai yang fotografer modal kamera hape. Tapi anehnya tidak nampak banyak fotografer amatir yg membawa kamera SLR. Padahal setahuku di Timika dan Kuala Kencana ada banyak penggemar fotografi. Mungkin mereka lebih suka motret kupu-kupu daripada manusia. Aku sendiri jadi jengah saking banyaknya orang yang pengen motret. Untung aku baru dapat lensa Tamron 18-200mm. Tidak perlu mondar-mandir dan bisa tenang mengeksplorasi angle mana yang menarik. Lagipula aku datang bukan sebagai fotografer tapi sebagai umat dan warga Timika.

Dalam posisi itulah aku mengikuti acara sampai siang hari. Ketika orang-orang Mee membawakan tarian mereka, yang sempat membuat para polisi ketar-ketir karena dikira orang marah. Hehe.

Foto-foto acara pentahbisan imam Keuskupan Timika bisa dilihat di sini.

Filed under: Catatan pertunjukan, Musik, Papua

Mimika Air

Pesawat Mimika Air

Pesawat Mimika Air

Jatuhnya pesawat Mimika Air di Gunung Gergaji di perbatasan Distrik Biloga dan Mulia beberapa waktu lalu ternyata juga berdampak pada dunia pendidikan. Pesawat naas itu rencananya akan digunakan Dinas P&P Kabupaten Mimika untuk mengantar materi dan pengawas Ujian Nasional tingkat SD akhir April ini. Kalau tidak segera dicari solusinya bisa jadi jadwal Ujian Nasional akan mundur.

Selama ini Mimika Air melayani penerbangan ke pedalaman Mimika seperti Jila di daerah gunung dan Potowayburu di pesisir barat Mimika. Terakhir aku melihat Mimika Air di Jila. Entah mereka datang untuk mengantar apa ke Jila. Mungkin logistik Pemilu.

Selain Mimika Air, lembaga penyedia transportasi ke pedalaman adalah AMA, Trigana Air, dan Airfast. Khusus Airfast mereka melayani penerbangan ke pedalaman dengan helikopter, jadi bisa mendarat di bagian mana saja di Mimika tanpa perlu landasan, cukup helipad.

Tapi di daerah seperti Papua ini bukan hanya masalah ketersediaan tempat untuk pendaratan pesawat kecil/helikopter saja. Rute yang ditempuh kerap kali melewati pegunungan yang terjal dan menyediakan banyak jebakan alami. Pilot Mimika Air saya yakin bukan orang yang ceroboh. Mungkin saat itu dia harus membuat keputusan tepat dalam waktu yang sangat mendesak dan dalam keadaan cuaca yang (semakin) tidak bisa ditebak saat ini.

Filed under: Papua ,

Orang Bajo Suku Pengembara Laut; Pengalaman Seorang Antropolog

orang-bajo-copy

Judul: Orang Bajo Suku Pengembara Laut; Pengalaman Seorang Antropolog
Penulis: François-Robert Zacot
Penerjemah: Atika Suri Hanani
Tebal: 482 hal
Penerbit: KPG – EFEO – Forum Jakarta Paris (2008)

Setiap hari kisah orang-orang Bajo berlangsung di depan mata kami…

Buku ini adalah kisah perjumpaan seorang antropolog dengan suku Bajo yang tinggal di Pulau Nain (di utara Manado) dan Torosiaje (Gorontalo). Lebih jauh dari itu, buku ini juga merupakan rekaman jujur mengenai perjumpaan dan dialog antara manusia dari dua kebudayaan yang berbeda.
Sekalipun menggunakan gaya penceritaan yang personal (aku – sudut pandang orang pertama), berbagai catatan mengenai cara hidup dan deskripsi tempat tinggal orang Bajo jauh dari kesan dramatis dan malah menghilangkan pertanyaan klasik mengenai subyek dan obyek dari benak kita. Si “aku” yang datang jauh-jauh dari Prancis bukanlah aku-yang-mengamati tapi aku-di-dalam kalian atau aku-yang-ada-karena kalian.
Sejak halaman pertama kita diajak masuk ke dalam perenungan semacam itu. Gaya penceritaan dalam catatan pengalaman François-Robert Zacot ini berhasil mengajak pembacanya menangkap tujuan etnografi, yakni perluasan pengertian tentang “kemungkinan-kemungkinan yang ada pada manusia (human possibilities) melalui studi tentang bentuk-bentuk kehidupan lain”.

Menurut pengakuan François-Robert Zacot sendiri, gaya penceritaan “aku” yang mencampurkan catatan pengalaman pribadi penulis dan deskripsi etnografis dipilih karena masyarakat Bajo baru dapat diteliti dari segi etnografis jika masuk ke dalam masyarakat Bajo dan karena berbagai macam kesulitan selama penulis berada di dalam masyarakat Bajo bukanlah residu penelitian tapi justru bahan yang memperkaya informasi mengenai asas-asas kehidupan masyarakat Bajo (hal. 10).

Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa dalam buku ini kita kerap menjumpai catatan-catatan yang tergolong “ajaib” seperti catatan mengenai pengalaman François-Robert Zacot mengenakan sarung dan diintip anak-anak Bajo (hal. 37), sikap bungkam dan berbelit-belit orang Bajo ketika ditanya mengenai sejarah mereka (hal. 303), kejengkelan atas sikap orang Bajo yang suka meminta barang apapun yang ada di rumah François-Robert Zacot (hal. 288) atau julukan-julukan yang diberikan François-Robert Zacot kepada beberapa individu.

Beberapa kali saya terpaksa menutup buku karena tertawa keras-keras, tapi juga dalam waktu yang bersamaan merenungkan berbagai proses penyesuaian diri yang pernah saya alami selama ini, terutama pengalaman terkini saya di Papua. Menjadi tidak jelas kemudian, siapa yang saya tertawakan; François-Robert Zacot atau saya sendiri.
Semua deskripsi “ajaib” itu bukan ditulis tanpa alasan atau sebagai hiasan semata. Mengenakan sarung dan diintip anak-anak adalah bagian dari proses penyesuaian fisiologis yang dijalani François-Robert Zacot. Hidup di dalam masyarakat bahari Bajo berarti harus membuang jauh-jauh ruang privat. Masyarakat Bajo tinggal di dalam rumah yang didirikan di atas laut dan sebagian kecil di dalam leppa (perahu kecil) (hal.128). Selain kehilangan ruang privat karena rumahnya selalu didatangi orang-orang Bajo, François-Robert Zacot sampai ikut mengalami sendiri dampak dari kurangnya interaksi dengan daratan, kakinya lemah karena kurang bergerak dan merasa asing saat menginjak daratan.
Ungkapan kejengkelan François-Robert Zacot pada sikap bungkam dan berbelit-belit orang Bajo merupakan warna manusiawi yang dibubuhkan François-Robert Zacot dalam pembahasan mengenai cara pandang orang Bajo terhadap dunia. Sejarah orang Bajo diwarnai perpisahan yang menyakitkan dengan daerah asal mereka. Butuh waktu lama bagi François-Robert Zacot sebelum akhirnya dia berhasil mendapatkan cerita rakyat Bajo yang memberi petunjuk atas misteri asal-usul orang Bajo (hal. 215). Selain itu sikap bungkam, salah satu petunjuk menarik mengenai asal-usul dan sikap orang Bajo memandang dunia adalah pantangan orang Bajo untuk menyebutkan “timur” dalam arah mata angin (hal. 382, 392).

***

Tidak lama setelah selesai membaca buku ini, saya melihat tayangan mengenai orang Bajo di sebuah acara di stasiun televisi. Sang pembawa acara (yang biasanya mewakili karakter anak muda Jakarta masa kini), menjelaskan cara hidup orang Bajo sambil tertatih-tatih melewati jalanan kayu di kampung orang Bajo. Dengan penuh rasa takjub, pembawa acara dan kamerawan acara itu menyorot kebiasaan perempuan-perempuan Bajo yang mengenakan bedak tebal di wajah mereka. Seperti acara televisi lainnya, liputan atas orang Bajo itu singkat saja dan berkali-kali disela tayangan iklan.

Ada ajakan untuk mengenal berbagai macam budaya di Indonesia melalui tayangan tersebut, tapi bentuk perkenalan macam apa yang sebenarnya hendak dianjurkan bagi para pemirsa televisi? Jangan-jangan kita sedang meniru sikap orang Eropa yang terheran-heran dan tertawa melihat orang dan gaya hidup Jawa atau Batak pada pameran-pameran kolonial yang kerap diadakan pada akhir abad 19 di Eropa.

Selama beberapa abad, masyarakat Bajo berkembang sebagai masyarakat yang menumpukan nasib dan daya hidup mereka pada cara hidup maritim mereka. François-Robert Zacot melakukan penelitian tepat pada saat ketika cara hidup maritim mereka tersebut berada di dalam ambang perubahan, ketika rezim Orde Baru sedang mengkonsolidasikan kekuatan mereka. Semua perbedaan masyarakat harus disingkirkan demi kepentingan keutuhan bangsa dan pembangunan nasional. Bentuk-bentuk pemerintahan adat dan lokal yang tidak bisa mengakomodasi kepentingan pusat untuk sentralisme harus minggir. Maka demikianlah François-Robert Zacot terheran-heran melihat alat pengeras suara yang mengumandangkan berbagai macam instruksi untuk masyarakat Bajo di Torosiaje. Cara hidup maritim masyarakat Bajo pun dipandang sebagai bentuk tindak subversif karena menolak untuk hidup menetap di darat.

Pada buku versi Indonesia yang terbit tahun 2008 ini, François-Robert Zacot mengingatkan para pembaca akan kenyataan dan masalah jati diri yang kini dihadapi masyarakat Bajo (hal. 13). Paksaan untuk hidup di darat, desakan agama atas adat istiadat orang Bajo, dan serbuan media massa yang mengekspos gaya hidup mereka, membuat masyarakat Bajo seolah menyaksikan dan merelakan jati diri mereka hilang secara perlahan-lahan. Sementara, di sisi lain Indonesia, di sebuah kamar atau ruang makan, kita menikmati tayangan di televisi mengenai orang Bajo.
Orang Bajo bukan satu-satunya masyarakat di Indonesia yang sedang mengalami pengikisan jati diri. 30 tahun pemerintahan yang sentralistik dan mengutamakan deru industri telah membuat orang orang Bajo, Dayak Kadori di Kalimantan, Orang Rimba di Riau, orang Amungme dan Kamoro serta tujuh suku lainnya di Mimika, terpaksa meninggalkan masa lalu dan menanggalkan jati diri mereka dengan sangat menyakitkan.

Saya jadi sedih membaca ajakan François-Robert Zacot yang dia tulis di halaman kata pengantar. Karena jangankan berpikir untuk memandang semua masyarakat di Indonesia sebagai warisan berharga sejarah dan kemanusiaan Indonesia, memandang mereka “yang lain” tanpa prasangka saja kita masih kesusahan. ***

Filed under: Buku

Selamat Ulang Tahun, Papa!

img_01261

Untung hari ini aku ga salah kirim sms kaya biasanya. Di hapeku ada banyak reminder ulang tahun teman-teman dan peringatan har-hari besar dalam sejarah. Entah sejak kapan dering alarm berbunyi sehari sebelum hari sebenarnya. Beberapa kali aku kirim sms ucapan selamat ini itu sehari sebelum harinya. Banyak yang kaget dan bingung, bahkan sampai marah, doain cepat mati katanya. Tapi banyak juga yang menganggap itu sebagai perhatian, sekalipun mendahului tanggal sebenarnya.

Kemarin alarm reminder di hapeku berbunyi. Weh, Papa sudah 62 tahun. Ga beda jauh sama usianya Indonesia. Kata Papa, life begins at 60. Cie..mantap, bes.

Selamat ulang tahun, Pa. Semoga karya Papa semakin luas tidak hanya di Aceh dan hidup Papa jadi teladan bagi semua anggota keluarga kita. Sehat selalu dan dalam lindungan Tuhan. Amin.

Oh ya, Pa. Blognya Papa sekarang aku link-kan ke blogku. Kapan mau diupdate lagi?

Filed under: Foto, Keluarga

Kicauan

My del.icio.us Bookmark