Ribuan Kilometer dari Patung Pembebasan Irian Barat

December 15, 2009 by Onny Wiranda
From Akimuga

Helikopter yang mengangkut kami akhirnya mendarat di lapangan SMP Negeri Akimuga di Kiliarma. Biasanya setiap helikopter mendarat, lokasi pendaratan akan segera dipenuhi anak-anak. Tapi kali itu tidak. Hanya ada Pak Frans Pogolamun, Kepala Sekolah SMP Negeri Akimuga, yang berdiri di beranda bangunan kayu bercat merah muda. Dia sendirian menahan deru angin helikopter dan tidak sadar bahwa sebuah payung yang tergeletak di sampingnya diterbangkan angin hingga jauh ke halaman belakang gedung itu.

Sesaat setelah helikopter pergi, Pak Frans segera menyambut rombongan kami. Tidak lama kemudian nampak seorang pria lain muncul dari gedung sekolah bersama beberapa anak sekolah. “Selamat datang…” sahutnya sambil memilih pijakan tanah yang bebas dari lumpur. Di belakangnya, anak-anak berjalan dengan gontai dan bergantian mengucapkan salam dengan ekspresi datar.

Tidak lama kemudian datang perintah dari Pak Frans bagi anak-anak sekolah itu untuk mengangkut barang-barang bawaan rombongan kami ke rumah Mama Kristina Kemong.

Kami segera menempuh jalan utama di Kiliarma. Di sepanjang sisi jalan, hanya ada beberapa bangunan dari kayu yang sudah lapuk dan kosong. Selebihnya adalah semak-semak yang membatasi jalan dengan hutan rimba. Serombongan kecil orang Toraja yang membawa peralatan memancing berpapasan dengan kami. Mereka hendak pergi memancing di pelabuhan. Anak-anak sekolah sudah jauh mendahului rombongan kami.

Tiba-tiba di sebuah kompleks bangunan rombongan kami berhenti. Pak Frans Pogolamun hanya menjawab singkat ketika aku bertanya kenapa kita berhenti, “lapor dulu ke aparat.” Ternyata kompleks itu adalah asrama Brimob. Pak Yohan Zonggonau bergegas masuk beranda asrama dan berbicara dengan beberapa anggota Brimob yang sedang duduk-duduk. Di situ mungkin Pak Yohan menyebutkan nama-nama orang di rombongan ini; aku, Romo Teguh, Bu Ros, Pak Anton Rerung, dan Mama Kristina Kemong.

Setelah beberapa saat Pak Yohan keluar dan berjalan mendahului kami menuju ke sebuah bangunan di seberang asrama Brimob, kantor Koramil yang berdiri tepat di samping barak Batalyon Infantri 571/Eme Neme Kangasi. “Lapor lagi?” tanyaku pada Pak Frans. Yang aku terima sebagai jawaban hanya sebuah anggukan.

Para Brimob dan tentara yang ditugaskan di sini kebanyakan masih muda dan sekilas nampak seperti anak kuliah yang sedang nongkrong di kost mereka. Kami langsung melanjutkan perjalanan setelah Pak Yohan selesai wajib lapor.

Jalan yang kecil dan berlumpur yang kami lalui ini ternyata adalah jalan arteri Kiliarma. Terbentang lurus dari pelabuhan di selatan dan menghubungkan pusat distrik Akimuga lokasi SD YPPK Belakmakma, Puskesmas, kantor polisi, kantor distrik, gereja, serta kompleks aparat militer tempat rombongan kami harus lapor beberapa kali.

Selain sekolah, Puskesmas, dan kompleks aparat, semua bangunan yang kami lalui nampak kosong dan tidak terawat. Beberapa rumah penduduk juga nampak tidak berpenghuni. Tidak banyak orang yang bisa disapa, tidak banyak hal untuk dibicarakan. Rombongan kami berjalan seperti sekelompok orang tersesat.

***

Distrik di sebelah timur Kabupaten Mimika ini menyimpan sejarah perkembangan orang Amungme, salah satu suku pemangku hak ulayat di Kabupaten Mimika. Orang Amungme di Akimuga berasal dari daerah pegunungan seperti Waa, Noema, Bella, Alama, dan Tsinga. Mereka diajak bermigrasi ke daerah dataran rendah oleh Gereja Katolik dan dipimpin oleh Mozes Kilangin pada akhir dekade 1950-an.

Setelah penerapan Otonomi Khusus pada tahun 2001 dan pemekaran Kabupaten Mimika dari Kabupaten Fak-Fak, Akimuga saat ini adalah sebuah distrik yang terdiri dari kampung Amungun, Aramsolki, Fakafuku, dan Kiliarma sebagai pusat distrik.

Distrik ini tidak memiliki akses yang memadai ke pusat Kabupaten Mimika di Timika, karena dibatasi kawasan kontrak karya PT Freeport Indonesia yang membelah wilayah Kabupaten Mimika menjadi dua bagian dan kawasan Taman Nasional Lorentz yang mengurung distrik Akimuga. Akimuga bisa dicapai melalui perjalanan lewat sungai selama 10 jam. Pilihan lainnya adalah dengan pesawat Mimika Air milik Kabupaten Mimika atau helikopter milik Airfast.

Di Akimuga orang Amungme mendapatkan lebih banyak tanah untuk berkebun dan para misionaris memiliki akses yang lebih mudah untuk menjangkau masyarakat Amungme. Para misionaris tidak perlu menantang jajaran pegunungan Jayawijaya. Mereka bisa menjangkau orang Amungme dari basis misi di Kaokanao dengan menggunakan perahu atau jalan darat yang datar.

Pindah ke dataran rendah berarti orang Amungme tinggal di wilayah adat orang Kamoro, suku yang mendiami daerah pesisir timur Papua, yang sudah sejak tahun 1920an melakukan kontak dengan pemerintah Belanda. Tapi rupanya para misionaris dan pemerintah Belanda sebelumnya sudah mempersiapkan perpindahan itu dengan baik.

Orang Kamoro dengan senang hati menerima saudara-saudara mereka orang Amungme tinggal di dataran rendah. Sekalipun demikian tidak semua orang Amungme ikut turun gunung. Sebagian masih tinggal di gunung hingga saat ini sekalipun tempat tinggal mereka sudah menjadi daerah operasi PT Freeport Indonesia sejak tahun 1967.

Maka dibukalah beberapa daerah baru di timur sungai. Orang Amungme dari Belakmakma tinggal di Kiliarma, dari Bulujaulaki tinggal di Amungun, dan dari Putsinara di Aramsolki.

Para pemudanya mendapatkan pendidikan hingga tingkat SD. Tamat SD mereka meneruskan SMP di Kaokanao, dengan biaya dari orang tua mereka sendiri. Pak Abraham Timang misalnya. Pria asal Kiliarma ini dulu biasa menjual kayu bakar di Kaokanao untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama sekolah.

Aku membayangkan Pak Abraham kecil menyusuri jalan setapak ini ke arah pelabuhan meninggalkan kampungnya menuju ke Kaokanao. Apakah dia juga berjalan dalam sepi seperti kami sekarang ini?

Beberapa anak kecil muncul dari sekolah. Seperti anak Papua di Mimika lainnya mereka membalas sorot kameraku dengan sorot mata mereka yang penuh keceriaan dan gairah kehidupan. Beberapa langkah dari sekolah Mama Kemong mempersilakan kami masuk ke tempat tinggalnya.

Tempat tinggal Mama Kemong berbentuk rumah panggung dari kayu. Ruang tengahnya cukup luas. Cukup luas untuk dipecah menjadi sebuah ruang tamu, dua kamar dengan dinding tripleks, dan sebuah ruang keluarga. Kamar mandi dan tungku perapian diposisikan di sisi kanan dan kiri rumah.

Hanya Romo Teguh yang ngeh bahwa bangunan yang ditempati Mama Kemong itu bekas gereja. Mama Kemong memang terpaksa menempati gereja yang terlantar itu sebagai rumah tinggalnya. Sama seperti guru lainnya di Akimuga, rumah dinas guru yang dijanjikan Dinas P&P tidak kunjung jadi sekalipun mereka sudah bertahun-tahun mengajar. Para guru umumnya numpang tinggal di rumah penduduk atau menempati rumah/bangunan yang sudah ditinggalkan.

Cerita Mama Kemong tidak hanya berhenti di situ. Seperti umumnya orang Papua, Mama Kemong tukang cerita yang hebat. Salah satu ceritanya adalah tentang ular. Dia ceritakan dengan detail dan hidup sekali tentang pengalaman seorang mama yang berusaha menangkap ular tapi malah menimbulkan kehebohan di Kiliarma karena ularnya lepas. Apalagi kalau sudah cerita mop.

Beberapa saat kemudian, Pak Albertus Tsolme, Kepala Sekolah SD YPPK Belakmakma, ikut datang bergabung. Pak Yohan Zonggonau mengutarakan maksud kedatangan rombongan kami, yaitu untuk merekrut anak-anak Akimuga untuk masuk di Asrama Penjunan milik LPMAK (Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro).

Mama Kemong dan Pak Tsolme spontan menyambut gembira permintaan Pak Yohan untuk membuat daftar anak-anak yang bisa masuk Asrama. Menurut mereka, anak-anak perlu mendapatkan pendidikan yang baik. Tinggal di Akimuga tidak membuat mereka maju. Kebanyakan guru tidak betah tinggal di Akimuga dan memilih tinggal di Timika. Biasanya mereka baru muncul saat ujian. Selain itu dengan tinggal di asrama, anak-anak akan terhindar dari pengaruh buruk seperti mabuk.

Parahnya, yang kerap mengajak mabuk adalah anggota Koramil Akimuga. Anak-anak yang kebetulan sedang lewat di depan Koramil dicegat dan diajak mabuk. Kalau menolak dipukuli. Kalau sudah “mabuk hancur”, mereka akan berjalan keliling kampung dan menggedor rumah-rumah penduduk untuk minta makan atau tanpa alasan yang jelas.

Rumah Mama Kemong sendiri pernah beberapa kali disatroni gerombolan pemabuk. Oleh karena itu, setiap mulai gelap, Mama Kemong selalu memastikan tidak ada barang berharga yang tertinggal di luar rumah dan mengunci semua pintu dan jendela. Aku jadi ingat beberapa hal.

Pertama, dalam perjalanan pulang dari Ayuka, kampung orang Kamoro di selatan Timika, mobilku sempat dicegat dan dilempar batu oleh beberapa orang “anggota” yang marah karena aku menolak permintaan mereka untuk menumpang.

Kedua, beberapa kisah mengenai Akimuga. Seperti kisah Pak Yoseph Deikme yang tinggal di SP (Satuan Pemukiman) 9. Pak Yoseph kelahiran Akimuga, tapi sudah lama dia meninggalkan Akimuga dan belum berniat kembali hingga sekarang. Dia meninggalkan Akimuga pada akhir tahun 1970-an dan mengenangnya dengan penuh kesedihan.

Saat itu “ABRI” datang ke Akimuga untuk menghancurkan kekuatan OPM dan menangkap Kelly Kwalik, orang Amungme mantan guru yang kemudian jadi salah satu pimpinan OPM. Akimuga (dan Jila, sebuah desa di pegunungan tengah) dianggap sebagai basis dan jalur perlintasan Kelly Kwalik. Kedatangan tentara ke Akimuga ini dipicu oleh perang gerilya OPM di daerah pegunungan tengah dan peledakan pipa konsentrat PT Freeport Indonesia.

Bukannya merasa aman, warga Akimuga malah ketakutan setiap melihat tentara Indonesia. Tidak peduli tua muda, setiap ada barang datang di pelabuhan semua orang Amungme yang ada di kampung dipaksa mengangkut barang-barang dari pelabuhan ke Amungun yang jaraknya sekitar 10 km. Siapa berani menolak berarti dia anggota/simpatisan OPM. Kalau sudah seperti itu, hanya air mata yang “jatuh berguguran”, kata-kata dan perasaan terhina disimpan dalam-dalam.

Kisah sedih lainnya aku dengar dari Pak Abraham. “Waktu itu orang Papua dianggap binatang, pak,” kata Pak Abraham. “Pesawat kasih jatuh bom di kampung,” sambungnya. Menurut Pak Abraham, kejadian itu terjadi ketika dirinya masih SD, sekitar tahun 1978. Setelah dia meninggalkan Akimuga, tidak banyak lagi yang dia tahu tentang nasib orang-orang yang mati dan keluarga yang ditinggalkan. Yang dia tahu, mereka yang mati dikuburkan bersama-sama di sebuah lokasi yang sekarang jadi hutan pohon karet.

Orang Amungme yang aku temui umumnya selalu antusias untuk membicarakan hal ini, tapi seperti tidak berniat menjadikannya sebagai hal yang serius. Cuma sekedar obrolan sambil lalu saja. Kecuali mungkin Pak Titus Kemong, yang memandang “perang besar” di Akimuga itu perlu diungkap atau paling tidak diingat.

Sama seperti Pak Abraham, Pak Titus meninggalkan Akimuga setelah lulus SD. Pak Titus yang sekarang bekerja di LPMAK ini beberapa kali berkunjung ke Jawa untuk mengunjungi anak-anak dari Kabupaten Mimika yang sekolah di Jawa dan ikut pelatihan pengembangan kapasitas.

Dalam sebuah kesempatan kunjungan di Bandung, Pak Titus beristirahat di sebuah taman setelah seharian ikut pelatihan. Tak berapa lama kemudian datang beberapa orang bergabung di warung es cendol tempat Pak Titus nongkrong. Mereka menanyakan banyak hal kepada Titus, mungkin karena terlihat sangat berbeda dengan orang di taman itu. Pak Titus, yang awalnya menjawab pertanyaan mereka sambil lalu, mendadak memalingkan pandangannya ketika kedua orang itu mengaku pernah bertugas di Akimuga. “Kalian pelanggar HAM! Mana komandan kalian?” bentak Pak Titus.

“Saya langsung minta diantar ke markas Kopassandha,” kata Pak Titus. Di situ, Pak Titus langsung bertemu dengan komandannya. Pak Titus sudah lupa namanya. Yang jelas Pak Titus langsung menyampaikan pelanggaran HAM yang dilakukan satuan itu di kampung halamannya pada akhir tahun 1970-an. Sikap keras Pak Titus ditanggapi dengan tenang oleh komandan itu, yang tidak pernah bertugas di Akimuga. Pembicaraan langsung berubah total ketika Pak Titus mengetahui bahwa komandan itu beragama Katolik. Bahkan Pak Titus sempat berkunjung ke rumahnya.

Sedangkan Mama Kemong sendiri mengaku, dialah satu-satunya marga Kemong yang tersisa di Akimuga saat ini. Sisanya sudah mati dan sebagian yang selamat memilih meninggalkan Akimuga.

Bukan hanya tentara yang membunuhi orang Amungme saat itu, tapi juga orang Dani dari pegunungan tengah, yang entah bagaimana mendadak muncul di Akimuga. Padahal tidak ada perkara antara orang Dani dan orang Amungme yang biasanya menyulut perang suku seperti pembunuhan, pencurian, atau perzinahan. “Kejam sekali mereka,” kata Mama Kemong mengakhiri cerita sambil membongkar-bongkar noken-nya yang besar sekali.

Sejak “perang besar” itu, tutur Pak Abraham, kehidupan di Akimuga semakin lesu. Tidak ada lagi asrama, sekolah perkebunan, dan lahan perkebunan. Banyak warga Akimuga memilih meninggalkan Akimuga dan memulai hidup baru di Timika.

Menjelang sore, Pak Albertus pamit untuk menyiapkan pertemuan rombongan kami dengan para orang tua dan beberapa tokoh masyarakat. Sebelum pergi, Pak Albertus menyampaikan bahwa sebaiknya ada asrama untuk anak-anak di Akimuga. “Biar seperti pendidikan zaman dulu,” kata Pak Albertus.

Ternyata harapan Pak Albertus adalah harapan semua orang Akimuga yang hadir pada pertemuan itu. Bahkan “para orang tua sudah merelakan tanah adat mereka untuk pendidikan anak-anak Amungme”, kata Pak Robert Deikme sekretaris desa sambil menunjuk tanah kosong di belakang sekolah.

***

Keesokan harinya rombongan kami harus kembali berjalan ke halaman sekolah SMP Negeri Akimuga untuk menunggu jemputan helikopter. Kami berjalan bersama dengan beberapa murid SMP dari Bela dan Alama yang tinggal di sebuah rumah kosong di seberang “rumah” Mama Kemong. Pak Albertus Tsolme ikut ke Timika untuk mencari guru-guru SD YPPK Belakmakma yang “kandas” di Timika.

Kami kembali melalui kantor Koramil, Yonif 571, dan Brimob yang saling berhadapan. Pak Yohan kembali mampir untuk pamit pulang sambil ngobrol-ngobrol dengan para anggota Yonif 571 di beranda barak mereka. Sisa rombongan kami memilih menunggu di Puskesmas Akimuga.

Dari kejauhan nampak seorang anggota tiba-tiba keluar dari dalam barak sambil menenteng senapan SS-1 dan bersenda gurau. Setelah mengokangnya dan memilih posisi di dekat Pak Yohan, dia mengarahkan senapan standar TNI itu ke udara dan suara letusan senjata menghiasi langit Akimuga, “Dorr..!!!”. Wajah Pak Yohan langsung berubah jadi tegang.

“Ga kena…ga kena…” sambut para anggota Brimob di seberang barak Yonif. “Rentetan boleh…” sahut salah seorang anggota Brimob. Di belakangnya seorang anggota Brimob lainnya keluar sambil menenteng AK-47 dan menembakkannya. “Krakkk…krakk…” suara rentetan khas AK-47 itu tentu tidak mampu ditiru SS-1.

“Biasa itu, mereka kasih habis peluru sebelum pulang ke Timika,” kata dokter Puskesmas sambil mengajakku dan Romo Teguh masuk ke dalam Puskesmas.

Sepasang bapa mama dan anak mereka melanjutkan langkah mereka yang tadi terhenti karena mendengar suara tembakan. Mereka mau ke Puskesmas mengantar anak mereka yang sakit. Anak-anak di SD YPPK Belakmakma dan SMP Negeri Akimuga pasti sudah hilang kagetnya dan kembali melanjutkan pelajaran mereka, sekalipun tidak ada guru di kelas.

Di sini, ribuan kilometer jaraknya dari patung pembebasan Irian Barat di Jakarta, orang Amungme berusaha membebaskan diri mereka dari kenangan mengerikan masa lalu dan menatap masa depan mereka. ***

Onnes Kurkdjian, Fotografer Surabaya

December 11, 2009 by Onny Wiranda

Perkembangan fotografi di Indonesia kerap dikaitkan dengan Kassian Cephas, fotografer mula Indonesia dari Yogyakarta. Padahal selain Kassian Cephas, ada lagi fotografer yang karya-karyanya cukup membantu usaha mengenal masa lalu kita. Salah satunya adalah fotografer dari Surabaya, Onnes Kurkdjian.

Baca lebih lanjut

Si Kecil Ducroo

December 6, 2009 by Onny Wiranda

Kisah mengenai masa kecilku ini dimulai dari beberapa fakta yang aku temukan dari orang tuaku. Dokumen tertulis pertama yang aku temukan mengenai masa kecilku adalah sebuah salinan yang sudah menguning dari Bataviaasch Nieuwsblad, yang memuat pengumuman kelahiranku. Pada halaman utama, terpampang sebuah artikel mengenai Perang Boer (di Afrika Selatan); “Kaum Boer meneruskan pengepungan mereka atas Ladysmith, dan terus mendekatinya.”

Aku dilahirkan bersamaan dengan perayaan arwah tahun 1899, pada hari Kamis pukul 13.45 sore hari. Dua belas tahun sebelumnya, mama pernah mengalami kesulitan saat melahirkan adikku, Otto. Saat mengandung diriku, mama sudah lebih tua dan lebih memperhatikan kesehatan. Dokter yang menangani mama mencoba membuatku “tetap kecil”. Dokter itu meminta mama melakukan diet ketat supaya dia dapat senantiasa mengecek perkembangan tulangku di dalam kandungan mama. Kini rasanya metode semacam itu sudah tidak dilakukan lagi. Tapi dalam kasusku, dokter itu berhasil mencapai hasil yang dia inginkan. Aku dilahirkan dengan berat enam pon. Namun ajaibnya, dalam perkembangan tubuhku, tinggi badanku malah melebihi kedua tinggi badan kedua orang tuaku. Hidungku besar sekali. Mungkin karena ada lebih banyak daging daripada tulang di dalamnya. Ayah jadi takut sekali dengan hidung besarku itu, sampai dia meminta dokter untuk menghilangkan kelebihan hidung, atau untuk menanyakan dari mana datangnya kelebihan itu.

Aku dilahirkan di kamar pandjang di Gedong Lami, di paviliun utama yang menhadap ke sungai. Proses kelahiran diriku sangat menyusahkan ibu dan membuatnya harus mengalami perawatan setelah melahirkan diriku. Ibu percaya bahwa satu-satunya cara untuk membuatnya tetap hidup adalah dengan minum anggur merah dengan es. Dokter yang menangani adalah orang yang “manis”. Namanya Wittenrood, yang selalu dieja oleh para suster dengan wit en rood (putih dan merah). Ibu tidak mampu memberiku susu, bahkan susu kaleng, atau krim gandum. Setelah dua hari mereka berpikir bahwa aku pasti akan mati. Ayah kemudian mengirim beberapa orang untuk mencari seorang perempuan di sekeling perkebunannya yang mau menjadi ibu inang bagiku. Tapi tidak seorangpun muncul di rumah. Mungkin karena para penduduk di sekitar perkebunan ayah pada takut dengan ayah atau dengan rumah kami, atau mungkin juga karena mereka begitu benci dengan ayah. Dua dan tiga orang kemudian dipaksa datang ke rumah, tapi mereka terlihat begitu kotor dan enggan, hingga ibu dan ayah memutuskan untuk tidak terlalu memaksakan diri mencari mama inang demi kebaikan diriku. Akhirnya, saat aku semakin pucat dan kurus dan kedua orang tuaku hanya bisa memandangiku sambil bersedih, Niah datang. Niah adalah seorang perempuan dari desa Kebon Dalem. Saat itu Niah membawa serta Tjemplo, yang sedang sibuk menyusu kepada Niah, dan yang kemudian menjadi saudara inangku. Menurut mama, Niah adalah perempuan yang “suka tertawa genit dan memiliki payudara indah”. Ingatanku atas Niah baru tersusun secara jelas akhir-akhir ini berkat bantuan pengalaman dan gambar. Dia adalah perempuan berperawakan dan berparas namun wajahnya kadang terlihat lugu sekali, dengan mata yang sayu serta mulut yang membersil. Wajah Tjemplo, anak Niah dan saudara inangku, begitu mirip sekali dengan wajah ibunya. Aku masih ingat saat dia masih berumur delapan tahun dan tersenyum ramah sekali kepadaku. Alima datang ke kehidupanku saat aku masih berumur empat bulan.

Aku masih berumur delapan belas bulan saat keluargaku tinggal di Sukabumi. Saat itu aku nyaris mati akibat diserang demam. Serangan demam itu disebabkan oleh letusan Gunung Kelud. Sepanjang hari kota Sukabumi diguyur hujan abu. Orang tuaku tinggal di rumah kediaman Patih. Kebetulan istri sang patih adalah kawan baik mama. Mereka semua mengira aku akan mati dan sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Menurut dokter, aku terserang meningitis. Mama dan istri Patih kemudian memberi aku suntikan urus-urus. Beberapa jam kemudian penyakit itu hilang dari tubuhku. Saat dokter datang lagi di sore hari, aku sudah bisa tertawa-tawa di hadapannya. Dokter itu kemudian bersikukuh dengan penjelasan bodohnya atas kesembuhanku menganggapnya sebagai sebuah keajaiban. Rasanya ada yang salah dengan narasi saya ini. Sebuah rekoleksi yang keliru. Karena yang diceritakan mama saya sebenarnya berkaitan dengan kisah serangan penyakit yang lain. Ketika kami di Sukabumi, seorang dokter berjanggut mirip kambing yang bernama De Haan (artinya; Ayam Jantan) –nama yang cukup mengesankan– memberiku obat pencahar yang pada awalnya terasa enak namun setelah habis diminum rasanya begitu memuakkan. Aku muntahkan keluar semua obat itu sebelum obat itu mulai bekerja di dalam tubuhku. Kepalaku rasanya mau pecah, begitu banyak perempuan Sunda yang keluar dan masuk secara terburu-buru. Kali itu mama tidak sependapat dengan cara dokter menangani diriku. Tapi peristiwa itu sebenarnya terjadi empat tahun kemudian, saat kami akan bepergian ke Teluk Pasir.

Pintu yang terbuka itu merupakan pintu masuk ke sebuah kamar yang gelap yang bakal berujung di kamar pandjang. Seberkas cahaya terlihat datang dari kamar lain. Alima menggendongku menggunakan selendang ke sana ke mari, ke dalam kamar penghubung yang gelap itu, dan melalui pintu yang terbuka. Badan Alima yang kecil dan kurus, terasa begitu berbeda dengan badan mama yang besar. Aku mulai mengantuk dan mendaratkan kepalaku di dadanya, Alima mulai menyanyi “Dung indung, si toetoet bobo…”, lagu yang dimodifikasi dari lagu “Nina Bobo” yang kondang itu. Rupanya, Alima telah memberiku nama kecil, “si kecil toetoet”. Sedangkan dia sendiri menjadi Ma Lima. Seperti halnya di Batavia, huruf “a” di akhir kata diucapkan menjadi “e” yang lembut. Selain di lagu itu, Ma Lima juga muncul di lagu lain yang sudah dimodifikasi, seperti:

Burung kakatua
Mentjlok di djendela
Ma lima sudah tua
Giginja tinggal dua

Serta lagu lain yang pernah aku dengarkan di Cicurug. Dibandingkan Burung Kakatua, lagu yang ini nuansanya lebih sedih:

Ular kili, ular kumbang
Kumbangnya djamur
Ma lima gede utang
Ditagih, mabur

Kedua lagu itu tidak akan aku lupakan. Kedua lagu itu adalah lagu yang paling menyentuh di masa kecilku. Aku tidak pernah tertawa saat mendengarkan kedua lagu tersebut, sekalipun sosok Ma Lima muncul di kedua lagu tersebut dalam peran yang lucu. Kedua lagu itu memang bulan lagu lucu, tapi lagu yang sedih dan melankolis, sejenis lagu yang akan kamu nyanyikan saat patah hati.

Saat aku berusia empat tahun dan tinggal di Cicurug, beberapa kali Alima hendak pergi dari rumah. Suami Alima datang dari Batavia dan memaksa membawa Alima ke Batavia bersamanya. Namanya Djimbar. Wajahnya serius dan dihiasi kumis warna abu-abu. Sosok si Djimbar ini agak berbeda dengan sosok orang pribumi pada umumnya. Mirip pembantu rumah tangga, tapi juga mirip mandor. Dia selalu membawa serta sebuah tongkat. Mama selalu memperlakukan Djimbar dengan penuh hormat. Aku senang dan juga menaruh hormat pada Djimbar, karena dia selalu membawakan aku oleh-oleh. Tapi aku juga menaruh curiga padanya, karena selalu ada kemungkinan dia akan membawa Alima pergi dariku.

Suatu sore, Alima menangis tersedu-sedu dan Djimbar pergi meninggalkan rumah sambil marah. Alima telah memutuskan untuk tetap tinggal dan merawat diriku. Aku menduga bahwa sebelumnya mama membujuk Alima supaya tetap tinggal, “kamu tidak akan meninggalkan si kecil Toetoet khan, Alima?” Yang kemudian dibalas dengan pembantu yang sudah tua itu, “tidak nyonya, jangan khawatir”. Sore itu Alima terus menangis, menolak ajakan suaminya, pria yang penuh harga diri itu. Beberapa tahun kemudian, Alima kembali bersedih. Kali itu karena berita kematian Djimbar suaminya. Anak Alima, Djasima, datang ke rumah kami menemui Alima untuk meminta uang ongkos penguburan. Alima kemudian memberinya sejumlah uang dan mengajaknya bicara Djasima dengan sikap yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Sekalipun demikian, Alima tidak pergi mengunjungi penguburan suaminya.

Aku masih menyimpan foto diriku bersama dengan Alima, mungkin setahun sebelum kematiannya. Saat itu aku sudah sedikit lebih tinggi darinya. Mama kemudian menunjukkan foto Alima yang sudah diperbesar. Foto itu menunjukkan sosok Alima saat aku masih kecil sekali dan belum bisa mengenalinya secara sadar. Foto yang diperbesar itu terlihat buruk, tapi menurut mama paling tidak foto itu menunjukkan dengan jelas sosok Alima saat baru pertama kali mulai bekerja bagi keluarga kami. Kata mama padaku, “Foto ini jangan dibuang. Perempuan ini meninggalkan suami dan keluarganya demi kamu”.

Sumber: Eduard du Perron (1999), Country of Origin, Periplus: Singapore. Lihat bagian 7; Child Ducroo.

Profil penulis
Eduard du Perron. Dilahirkan di Meester Cornelis, Jatinegara, 2 November 1899, dari keluarga keturunan Prancis. Dalam novel autobiografinya ini, Country of Origin (Tanah Asal Usul), E. du Perron melukiskan potret ibunya sebagai seorang “nyonya besar” yang mengurus segala seuatu dari serambi belakang. Selain menulis dan berkegiatan dalam dunia sastra, E. du Perron juga banyak membantu kalangan nasionalis awal Indonesia.

Teknologi Tepat Guna untuk Pedalaman

November 22, 2009 by Onny Wiranda

Teen’s DIY Energy Hacking Gives African Village New Hope

Posted using ShareThis

Tautan di atas akan membawa kita ke tulisan tentang pengalaman William Kamkwamba menggunakan teknologi kincir angin di Malawi, Afrika bagian selatan. Selain sulitnya akses kepada pendidikan dan kesehatan, masyarakat yang tinggal di pedalaman juga menghadapi kesulitan akses kepada energi.

Selain kisah di atas, ada beberapa kisah lain yang bisa dijadikan referensi, seperti:

1. Yayasan Air Putih. Membuktikan bahwa Teknologi Informasi punya kekuatan untuk melakukan perubahan sosial. Lihathttp://airputih.or.id/
2. Gomukh. Pengalaman-pengalaman di India soal pengelolaan air. Lihat: http://www.gomukh.org/water_sanitation.html

 

 

Oliana!!!

November 21, 2009 by Onny Wiranda
Oliana Omaleng

 

Di Papua aku tidak banyak berpikir soal hantu. Ada beberapa pengalaman “kehantuan”  memang yang kualami, seperti kaki ditarik mahkluk hijau besar di Hotel Serayu dan lihat orang gemuk pake celana kolor lewat kamarku. Keduanya dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar.

Di Aroanop aku mendengar beberapa cerita soal Suanggi dari anak-anak. Tapi selebihnya alam Papua tidak membuat aku banyak berpikir soal hantu.

Sampai di suatu sore yang damai sepulang kerja. Aku baru saja berganti pakaian dan nonton TV di ruang tengah. Reza lagi di kamar. Romo kalau tidak salah sedang ke Yogyakarta. Hujan deras di luar.

Kalau tidak salah aku lagi terpaku nonton siaran berita dan sedang berbicara dengan Reza yang masih ngendon di kamar. Tiba-tiba di sudut pandanganku aku menangkap sesosok makhluk kecil berwarna hitam. Apa itu? Batinku. Biasanya aku seperti kalau melihat cicak yang merayap di tembok kamar. Pandangan seperti itu biasanya disertai dengan desiran di hati. Lebih tepatnya seperti jarum jam yang berhenti pas di jam 12 dan baterenya habis. Deg!

Mahkluk hitam itu berdiri di ujung sofa di dekat pintu rumah. Nyata sekali. Akhirnya aku punya cerita melihat hantu! Hantu! Eh, tuyul ding, tepatnya. Tuyul! Perasaanku sama persis seperti yang digambarkan orang-orang yang melihat hantu. Berhenti tercengang kaku dan lemas secara bersamaan.

Setelah beberapa saat dalam keheningan, aku berhasil meraih kesadaranku dan langsung teriak keras-keras, “…Aduh, Yuliana..kalau masuk rumah bilang permisi dulu…”

“Tuyul” itu ternyata Yuliana. Anak kecil yang tinggal di rumah sebelah. Nama lengkapnya sebenarnya Oliana Omaleng. Aku baru tahu setelah dia muncul di depan rumah beberapa hari kemudian dengan kaos bergambar foto dirinya dan tulisan Oliana Omaleng di bawahnya. Oalah…Oliana…Oliana…

Hebatnya Oliana tidak kaget mendengar teriakanku. Bahkan ketika aku sampai jungkir balik di sofa untuk membuang kekagetanku. Benar-benar jungkir balik dengan kepala di bawah. Reza sampai kaget mendengar teriakanku dan melihatku jungkir balik di sofa.

Oliana cuma diam saja sambil memegang bajunya yang basah di tangan kiri dan permen di tangan kanannya. Duh. Setelah puas jungkir balik aku meminta dia memakai bajunya yang basah biar tidak masuk angin.

“Hush, diam, cerewet kamu..” bentakku halus padanya ketika dia tanya apa itu masuk angin dan siapa orang di foto anak-anak Kamoro di Potowayburu yang aku pasang di atas TV.

Setelah pakaiannya selesai kupasangkan dan ternyata terbalik, dia langsung memborbardirku dengan banyak pertanyaan, “mana temanmu?” (Romo maksudnya), “Ini siapa?” (Gambar Bunda Maria yang dia tunjuk).

“Ini Bapa Yesus pu mama…” balasku sambil memberikan gambar itu padanya. Eh malah tanya lagi, “namanya siapa?”

“Bapa Yesus pu mama nama Maria.” Duh Bunda Maria inikah caramu mengingatkanku untuk ikut doa Rosario, batinku saat itu sambil teringat email-email undangan doa Rosario yang tidak pernah aku gubris.

Kunjungan Oliana selalu seperti itu sudah. Selalu banyak pertanyaan dan keingintahuan. Tapi baru sekali itu dia bikin kaget orang.

Setelah semua permennya habis dan gambar Bunda Maria berpindah tangannya, sepertinya Oliana sudah merasa selesai dengan kunjungannya. Mungkin juga dia sudah tahu kalau Mamanya mencari.

Aku mengantarkan Oliana ke halaman rumah. Hujan deras sudah berhenti. Hanya gerimis kecil. Oliana berjalan pelan pulang.”Daa…itu mama ada cari…” balasku ketika dia menoleh dan menanyakan sesuatu hal yang tidak kudengar jelas.

Selamat malam, Oliana. Besok kalau sudah besar jangan suka bikin kaget orang dan  jangan lupa sama Om, ya. Kali itu Oliana yang tidak mendengarku karena aku mengucapkannya dalam hati.

 

 

Akimuga

November 20, 2009 by Onny Wiranda
Akimuga

Nama Akimuga (aku lebih memilih menggunakan Akimuga katimbang Agimuga, seperti Kaokanao katimbang Kokonao) sudah aku dengar sejak pertama kali kenal dengan Pak Abraham Timang. Demikian pula sejarahnya yang panjang, sekalipun hanya melalui penjelasan-penjelasan yang membingungkan dari Pak Abraham Timang dan Pak Titus Kemong. Di internet dan perpustakaan Kuala Kencana tidak banyak informasi yang aku dapatkan tentang distrik di sebelah timur Timika ini, selain penjelasan singkat mengenai kasus kejahatan dan program-program pemerintah yang dijalankan di Akimuga.

Selama setahun aku di Timika, selalu saja aku tidak sempat ikut perjalanan ke Akimuga. Tapi ada untungnya juga. Karena perjalanan terakhir ke Akimuga diwarnai dengan insiden yang menegangkan, speedboat yang mengangkut tim Biro Pendidikan nyaris meledak. Semua penumpang, kecuali Pak Titus Soway motorist, melompat ke dalam sungai dan demgan segera ditelan kegelapan malam dan kegagapan diri mereka berenang dengan pakaian lengkap.

Kalau aku ikut pasti udah bingung, mau nyelamatin diri atau kamera, atau malah diselamatkan teman karena timbul tenggelam. Kemarin dari helikopter aku lihat sungai yang menjadi jalur ke Akimuga. Panjang sekali. Kalau tidak ada perubahan rencana, sungai itu yang akan aku lalui minggu depan.

Perjalanan akan dimulai dari Kuala Kencana – Timika untuk menjemput teman-teman; Timika – Hiripau, tempat sandar speedboat; Hiripau – (kemungkinan) Amamapare atau mungkin langsung tembak ke Omawita menerobos keluar dari daerah kontrak karya PTFI; Omawita – Otakwa, kalau tidak salah ini sudah mulai masuk daerahnya orang Asmat; Otakwa – Fakafuku; Fakafuku – Kiliarma, kampung pertama dari rangkaian tiga kampung Kiliarma-Amungun-Aramsolki yang legendaris itu.

Semoga dari perjalanan kedua ke Akimuga aku akan membawa lebih banyak cerita. Perjalanan pertama kemarin bukannya tanpa cerita. Ada banyak sekali cerita. Bahkan sebuah cerita yang perlu diketahui semua manusia di Indonesia, bahwa tanah Akimuga pernah dicemari kejahatan militer dan masih terasa hingga kini dampaknya.

Kalau saja aku tidak malas dan pekerjaan tidak banyak pasti akhir minggu sudah bisa kupasang di sini tulisan itu. Tapi aku janji, kawan, akhir minggu ini akan aku selesaikan.

Selalu Ada Jalan Lain

November 18, 2009 by Onny Wiranda

Sore itu, langit Jila mulai dirundung awan gelap. Hawa dingin mulai datang menyergap. Tapi entah kenapa saya merasa hawa di Jila tidak sedingin di Aroanop dan tidak mengurungkan niat saya untuk berjalan hanya dengan bercelana pendek ke arah sekolah. Mungkin tubuh saya sudah cukup beraklimatisasi dengan hawa dataran tinggi setelah beberapa kali kunjungan ke beberapa tempat di dataran tinggi Kabupaten Mimika.

Tidak jauh dari sekolah yang saya tuju ternyata ada Pak Bambang dan Pak Andre Palambu. Mereka adalah para guru SD Hoya yang baru saja menghabiskan perjalanan dua malam berjalan kaki dari Hoya ke Jila. Mereka sedang duduk-duduk di lima buah batu besar yang tersusun seperti seperangkat meja makan keluarga. Saya langsung bergabung dengan mereka. Tidak lama kemudian, Pak Yohan Zonggonau, kepala Biro Pendidikan LPMAK juga ikut bergabung dengan kami.

Tidak lama kemudian dari arah sekolah datang seorang pria muda. Dia berjalan dengan tenang dan pasti menyusuri jalan setapak di depan SD. Tanpa rasa canggung dia langsung bergabung dengan kami. Pak Bambang dan Andre Palambu ternyata mengenalnya. Pria muda itulah yang menemani mereka dalam perjalanan dari Hoya ke Jila.

Dia ternyata baru pulang dari kebunnya di sebuah desa di selatan Jila. Di kebun miliknya sendiri itu Jakub Dolame menanam berbagai macam tanaman, mulai dari sayuran dan betatas.

Jakub hanya menjawab singkat ketika saya tanya jarak dari tempat kami nongkrong ke kebunnya, “jauh sekali…” balasnya singkat. Ketika saya tanya apakah dia ikut Tes Potensi Akademik untuk penerimaan beasiswa LPMAK tadi siang, dia juga menjawab dengan singkat dan tegas, “tidak…”

Jakub tahu sekali bahwa hari ini akan ada tes penerimaan beasiswa. Teman-temannya di sekolah sudah memberitahunya. Tadi siang rupanya Jakub sedang sibuk di kebunnya. Saya bisa membayangkan dia meneruskan pekerjaannya di kebun setelah sesaat memandang helikopter warna kuning yang kami tumpangi terbang di atas kebunnya. Baru pada sore hari setelah semua urusan di kebun beres dia memutuskan datang ke sekolah.

Jika tidak aral melintang, pada pertengahan tahun ini mereka yang dinyatakan lulus tes beasiswa LPMAK akan dikirim ke berbagai SMA di Jawa dan Sulawesi Utara. Sementara beberapa puluh anak berangkat melanjutkan studi ke luar Mimika, puluhan ratusan bahkan ribuan lainnya tinggal di Mimika dan bergulat dengan kenyataan. Termasuk mungkin Jakub Dolame, yang tidak menyesal karena tidak ikut tes beasiswa LPMAK.

Penerimaan beasiswa LPMAK telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dana komitmen sosial yang disalurkan PTFI, sejak namanya masih dana 1% hingga menjadi dana kemitraan sekarang ini. Sejak itu ribuan anak dari Kabupaten Mimika dibiayai studinya, kebanyakan di luar Kabupaten Mimika.

Namun ternyata seorang Jakub Dolame tidak menyesal karena tidak ikut tes beasiswa LPMAK. Besar kemungkinan masih ada banyak lagi Jakub Dolame yang lain, yang merasa bahwa Jila atau kampung mereka, sekalipun terpencil dan tidak ada listrik, tidak bisa dianggap “terbelakang”, yang merasa tidak harus meninggalkan Mimika untuk mencapai impian mereka. Apakah salah bercita-cita atau menjadi seorang kepala kampung atau petani yang sukses? Apakah semua orang harus jadi dokter atau pilot dan sekolah di Jawa atau Sulawesi?

Dunia pendidikan juga tidak luput dari bias wacana “sifat terbelakang” dan “kemajuan”, bahkan pendidikan adalah produsen utama dan pelestari bias tersebut. Sifat “susah maju” masyarakat Kamoro karena kekayaan alam daerah pesisir dan sifat “keras kepala” orang gunung karena kerasnya kondisi alam adalah salah satu contoh bagaimana pandangan yang bias itu sudah menjadi mitos, diterima begitu saja dan tidak dipertanyakan.

Sedikit sekali orang yang bisa melihat sisi lain karakter masyarakat Amungme dan Kamoro dengan cerdas. Apalagi mereka yang menentukan kebijakan pendidikan nasional di Jakarta sana. Bagi mereka, tidak ada model lain pendidikan di luar standar pendidikan nasional. Tidak ada jalan lain bagi mereka yang ingin “maju” kecuali melalui model pendidikan yang sekarang ini.

Padahal kenyataannya, semakin banyak muncul jalan lain dalam kondisi pendidikan Indonesia dewasa ini, seperti yang ditunjukkan Butet Manurung dengan Sokola Rimba-nya di pedalaman Jambi atau Mas Baharudin di Salatiga dengan SMP Qaryah Thayibah.

Seharusnya Seperti Jan Sochor

October 27, 2009 by Onny Wiranda

Jan Sochor

 

Seharusnya seperti ini hasil foto-foto pentahbisan imam Keuskupan Timika beberapa bulan lalu. Banyak sekali sudut pandang dan komposisi bagus yang terlewatkan begitu saja. Padahal cahayanya tidak terlalu terik saat itu, masih pagi. Bedanya mungkin adalah ritme. Arak-arakan di Malaga ini pasti pelan sekali, seperti jalan salib atau passio pada masa Paskah. Sementara arak-arakan pentahbisan imam Keuskupan Timika lebih mirip pesta orang Kamoro dan orang Mee. Saking meriahnya sampai aku sendiri larut hingga nyaris mengikuti gaya jogetnya Mama-mama Kamoro yang rancak itu. Mas Sochor ini pasti punya banyak waktu untuk mengamati dan menentukan komposisi foto.

Anyway, bravo buat mas Jan Sochor, fotografer kelahiran Republik Ceko yang sekarang ulang-alik antara Amerika Selatan dan Eropa.

 

La Empresa Guerra

October 22, 2009 by Onny Wiranda

La Empresa Guerra

Membaca buku ini seperti menonton Generation Kill atau film-film perang-nya Oliver Stone. Baca resensinya di blognya InsistPress dan segera dapatkan di toko buku terdekat.

Doa Penulis Gagal Di Hari Ulang Tahunnya

October 9, 2009 by Onny Wiranda

Aku percaya bahwa kata-kata tidak akan pernah mengecewakan aku. Bahwa kata-kata adalah satu-satunya sumber penghidupanku, baik rohani dan jasmani.

Dalam saat-saat tergelap aku kembali menemukan kehidupan dari kata-kata yang Dia tinggalkan di selokan, di bawah kursi warung yang kotor, di jalanan, di ruang tamu yang sepi, dan tuts-tuts komputer yang berdebu.

Dalam saat-saat terbaikku, kata-kata menunjukkan begitu banyak hal yang begitu bisa aku lakukan untuk memuliakan kehidupan dan manusia.

Hanya melalui kedua ruang hatiMu yang aku alami di kehidupan ini itulah aku bisa meraba diriMu dan ikut menjadi bagian dari keIlahianMu, yang bagiku nampak seperti bunga mawar yang tersaput lumpur; karena justru dalam derita Kau menunjukkan diriMu dan dalam kegetiran hidup Kau menemani semua umatMu.

Bahwa penuntun dari jemariku yang menorehkan kata-kata adalah hatiMu yang bekerja melalui semua ciptaanMu, sesamaku yang dina, yang dalam sepi mendengar suara kasutMu namun tak kuasa menumpahkannya dalam kata-kata selain dalam pengharapan sederhana yang terucap lirih.

Aku percaya bahwa kata-kataku adalah perpanjangan dari karya kasihMu, yang senantiasa menawarkan pengharapan dan sebuah alas untuk memasuki pintu hatiMu, bagi siapapun yang membaca atau mendengarnya.