Archive

Monthly Archives: May 2011

Ini sepertinya buku kumpulan foto tentang Papua dalam format “coffee table book” pertama yang aku lihat.

Halaman-halaman luas di dalam buku ini kebanyakan diisi satu foto saja, dengan keterangan yang minim. Pembaca seolah diajak mengisi sendiri caption foto di dalam otak mereka.

Saking besar dan hegemoniknya foto-foto di buku ini, aku dengan enaknya melewatkan halaman prolog dan epilog. Tindakan yang cukup goblog, semoga tidak kamu ikuti jika kebetulan membeli atau membaca buku ini suatu saat.

Sepertinya buku ini lebih cocok dibeli pemilik usaha warung kopi atau bidang jasa apapun yang memiliki ruang tunggu yang nyaman. Sambil menunggu giliran, kamu bisa melihat panorama danau Sentani hingga rumah panggung orang Korowai. Aku sendiri membaca buku ini sambil menunggu pertemuan dengan Uskup Timika, Mgr. John Philip Saklil di rumahnya.Bagaimanapun juga, buku ini sangat efektif untuk membuka awal ketertarikan terhadap Papua. Apalagi di tengah minimnya buku-buku tentang Papua di Indonesia.

Yang bikin namanya Bekto Suprapto. Seorang fotografer tentunya.

Ini sudah kedua kalinya aku nonton acara di Natgeo soal kehidupan masyarakat di bantaran sungai Sepik, Papua Nugini. Yang pertama adalah orang Inggris yang sudah lama tinggal di sebuah kampung di Sepik lalu ganti mengajak beberapa orang Sepik ke Inggris. Sedangkan yang kedua adalah tiga pemuda Kanada yang menelusuri Sungai Sepik dan tinggal di sebuah kampung.

Kebudayaan masyarakat Sepik kaya sekali. Karya kriya mereka sama cantiknya dengan karya orang Asmat dan Kamoro di Papua. Sekalipun sebenarnya varian bentuk dan warnanya sepertinya lebih banyak ragam. Yang paling membuat bule-bule itu tercenung adalah rumah adat “Haus Tambaran” dan tradisi inisiasi masyarakat Sepik. Haus Tambaran itu seperti rumah bujang yang sering aku lihat di Timika sini. Bedanya Haus Tambaran lebih kaya ornamen katimbang rumah bujangnya orang Amungme. Sedangkan tradisi inisiasi itu adalah tradisi tato. Secara teknis bisa dibilang tato, tapi tanpa tinta dan dibuat dengan mencacah kulit hingga ketika kering meninggalkan bilur-bilur yang abadi di badan.

Dengan bahasa Pidgin (Bahasa Inggris ala Papua Nugini) yang unik itu, seorang pria menjelaskan bahwa bilur-bilur yang membujur dari pundak hingga pundak itu motif buaya. Motif khas di kebudayaan Papua yang dihidupi sungai, seperti orang Kamoro di Papua.

Menurut keterangan di Wikipedia, sungai Sepik ini adalah sungai yang terpanjang di seantero Tanah Papua. Bahkan sebagian anak sungai Sepik mengalir hingga ke Papua sisi Indonesia.  Hulu sungai terletak di dataran tinggi Papua Nugini. Uniknya, sungai ini tidak memiliki delta. Langsung saja aliran sungai itu menumpahkan diri ke laut Bismarck di utara Papua Nugini.

Di akhir acara soal sungai Sepik, saat tiga pemuda Kanada itu kembali ke kota dengan pesawat, aku jadi mikir; bukankah di Papua juga ada sungai Mamberamo, yang tentunya tidak kalah menariknya dengan sungai Sepik di Papua Nugini? Tapi kenapa yang sering muncul di Natgeo sungai Sepik dan bukannya sungai Mamberamo?

Sungai Mamberamo mengalir dari pegunungan Van Rees ke utara hingga ke Samudra Pasifik. Berbeda dengan Sepik, sungai Mamberamo memiliki daerah delta sungai yang cukup luas. Sungai Mamberamo adalah tlatah beberapa suku dan banyak sekali flora-fauna. Di muara sungai Mamberamo inilah, seorang penjelajah Spanyol bernama Ynigo Ortiz de Retez pada tahun 1545, memberi nama Nueva Guinea dan mengklaimnya sebagai daerah kekuasaan Kerajaan Spanyol.

Konon, pemerintah Indonesia pernah berniat membangun bendungan besar di sungai Mamberamo. Tapi niat itu digagalkan krisis ekonomi 1998. Andaikan niat itu terwujud, entah seperti apa dampaknya pada sungai Mamberamo dan Papua secara keseluruhan.

Dalam sebuah perjalanan dengan pesawat dari Jayapura ke Manokwari, aku pernah melihat langsung sungai Mamberamo. Dari atas nampak seperti serombongan ibu-ibu Papua yang pergi ke pasar dengan tenang. Sementara itu samudra Pasifik dengan tenang menanti di utara.

Rasanya berlebihan jika berharap bahwa pemerintah Indonesia atau pemerintah provinsi Papua akan melihat sungai Mamberamo dari sudut pandang yang berbeda. Terlebih di saat pemerintah provinsi Papua begitu gencarnya memodernisasi daerahnya dengan pemekaran dan penetrasi modal ke daerah-daerah pedalaman.

Dengan cara pandang macam itu, keanekaragaman hayati dan kekayaan kebudayaan sungai akan macet tak lagi mengalir, seperti halnya sungai Ajkwa di Timika. Padahal masih ada jalan tengah pemanfaatan sungai dengan lebih bijak.

Bagaimanapun juga, sekalipun satu tanah, Mamberamo di barat dan Sepik di timur telah memiliki jalur sejarahnya sendiri-sendiri. Entah di mana muaranya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 386 other followers