Monthly Archives: October 2011
Sampai Jumpa Lagi, Kasbi…
Di akhir pekan seperti ini, Kasbi akan bermain sepuasnya di luar hampir sepanjang hari. Di hari biasa, dia baru bisa keluar rumah pada pagi hari sebelum kami berangkat kerja dan sore hari setelah kami pulang bekerja. Sebenarnya kami ingin membiarkan dia lebih lama di luar rumah, supaya dia lebih bebas berlarian, tapi terlalu banyak ancaman di luar; mulai dari anjing tetangga yang pernah menggigit dia, mobil dan motor yang lalu lalang, hingga anak-anak kecil yang ingin membawa Kasbi. Rumah kontrakan kami tidak berpagar, jadi siapa dan apa saja bisa nyelonong masuk ke halaman.
Padahal sebenarnya ada banyak hal yang Kasbi biasa lakukan di luar, mulai dari berburu kadal dan kodok kecil, bermain dengan anak-anak pemilik rumah kontrakan kami, main petak umpet di mobil. Kalau sudah capek dia akan memanjat kasa nyamuk dan duduk-duduk di ventilasi atas jendela rumah.
Bagi Kasbi, akhir pekan yang kurang menyenangkan adalah ketika Utik mulai menggendong dia ke halaman rumah untuk dimandikan. Sekalipun dimandikan dengan air hangat, nampak sekali kalau Kasbi jengkel dengan aktivitas itu.
Setiap hari Kasbi mulai beraktivitas sekitar jam 5 pagi untuk makan dan buang air. Setelah itu dia akan minta keluar rumah untuk bermain di halaman hingga sekitar jam 7. Dari jam 5 hingga jam 7 itu aku menyiapkan sarapan untuk Kasbi dan kami, membersihkan “toilet” Kasbi dan bersiap kerja. Untungnya Kasbi termasuk kucing yang pintar. Dia tidak pernah buang air di luar toiletnya. Dalam satu kesempatan, Kasbi pernah diajak Utik ke Timika untuk menjemput aku sepulang dari pedalaman. Nyatanya sekalipun di sepanjang perjalanan dikurung di dalam mobil, Kasbi tidak berulah, malah tidur nyenyak di jok belakang mobil.
Di hari kerja, Kasbi harus bermain di rumah sendirian sepanjang hari. Entah apa saja yang dia lakukan. Tapi yang jelas, daerah favoritnya adalah rak sepatu dan tumpukan koran di bawah televisi. Apalagi jika kami kelupaan menaruh tisu gelondongan di meja. Bisa dipastikan sepulang kerja dan pintu rumah dibuka, Kasbi langsung lari keluar meninggalkan rumah yang sudah dia acak-acak.
Kasbi baru mau masuk rumah kalau aku membuka kaleng makanannya. Setelah makan, dia akan sangat aktif sekali. Semua dipandangnya sebagai mainan. Bahkan kaki dan tangan kami. Utik apalagi. Tangan dan kakinya paling sering jadi sasaran Kasbi. Kami sering berpikir bahwa itu cara Kasbi menunjukkan bahwa dia ga suka ditinggal sendirian di rumah sepanjang hari. Mungkin juga karena giginya mulai tumbuh.
Saking nakalnya, Kasbi pernah keracunan. Di suatu hari sabtu yang tenang, dia tiduran di kasur bersamaku ketika mendadak dia batuk-batuk dan mulutnya mengeluarkan busa. Awalnya aku tertegun, sempat ada kesan lucu juga bahkan melihat wajahnya yang pilon itu, tapi lalu aku jadi panik.
Di Timika tidak ada dokter hewan. Yang ada hanya pelayanan vaksinasi hewan di kantor Dinas Peternakan. Temanku seorang dokter menyarankan diberi susu yang banyak saja, “nanti juga sembuh” katanya menenangkanku. Maka hari itu Kasbi mendapat keistimewaan minum susu setiap beberapa jam sekali. Esok harinya dia sudah bisa kami nyatakan sembuh karena aktivitasnya kembali tinggi. Dugaan kami, dia minum air cucian mobil di halaman depan.
Kasbi baru mulai ngantuk sekitar jam 9. Tapi biasanya, setelah tidur sekitar satu jam dan makan snack, Kasbi akan kembali bermain sampai jam 12 malam. Capek memang mengurus Kasbi dan semua kenakalannya, tapi itu semua tergantikan dengan menggendong dan menatap matanya yang mulai ngantuk. Tenang sekali rasanya.
Ketika Kasbi benar-benar tertidur, baik di gendongan atau pangkuanku, seluruh jiwa ragaku seperti ikut istirahat. Dia seperti menyeretku masuk ke dalam dunia lain yang penuh kedamaian. Itulah dunia yang pernah diperkenalkan kucing-kucingku yang terdahulu dan hilang ketika mereka pergi. Aku pernah punya kucing yang selalu memijat dadaku dengan cakar-cakarnya sebelum kemudian tidur. Kasbi punya cara sendiri, memandangi wajahku hingga dia tertidur. Seolah hendak meyakinkan bahwa aku akan tidur juga dengan dia.
Mata itu pula lah yang membawa lebih banyak kasih bagi kehidupan rumah tangga kami. Kasbi berdiri di antara dua ego yang sedang belajar memahami satu sama lain dan menjadikan benang-benang ketegangan di antara kami sebagai mainan belaka. Pada akhirnya yang muncul di antara Kasbi adalah untaian spektrum-spektrum warna kasih yang mengikat aku dan Utik serta Kasbi menjadi satu foto keluarga yang unik.
Tidak heran jika kucing menempati posisi istimewa di dalam kehidupan rumah tangga pasangan muda Jepang, seperti yang aku baca di novelnya Haruki Murakami, The Wind-up Bird Chronicle. Dalam novel itu, kucing milik Toru Okada, sang tokoh utama, hilang begitu saja di suatu hari. Dalam perjalanannya mencari kucing yang diberi nama Noboru Wataya (yang ternyata nama saudara iparnya yang sangat dia benci), Toru Okada yang pengangguran itu kemudian bertemu dengan orang-orang aneh yang tinggal di sekitar rumahnya.
Ketika Noboru Wataya akhirnya kembali, cerita kehidupan Toru Okada sudah benar-benar aneh; Istrinya pergi meninggalkan dia tanpa alasan yang jelas, perenungan-perenungan Toru Okada di dalam sumur, perkenalan dengan seorang perempuan eksentrik bernama Malta Kano, dan kisah kekerasan di Manchuria, China pada masa Perang Dunia II.
Sementara bagi kami ceritanya cukup berbeda. Kasbi akhirnya tidak pulang seperti halnya Noboru Wataya dan kehidupanku tidak seaneh Toru Okada. Dalam hati aku sempat berharap, ingin ku tebus kehilangan Kasbi dengan hidup yang aneh ala Toru Okada.
Kasbi hilang pada hari Selasa tanggal 4 Oktober 2011 di pagi hari. Biasanya kami akan dengan mudah menemukannya sedang tidur di dalam kap mesin. Tapi pagi itu Kasbi tidak ada. Ketika akhirnya kami berangkat kerja, Kasbi masih tidak muncul juga. Utik bahkan sempat pulang beberapa kali ke rumah untuk mencari Kasbi. Kami menduga dia terbawa mobil rumah sebelah yang pernah dia masuki juga.
Malamnya aku mencari Kasbi hingga ke RT sebelah dan kantor Pak Totok, pemilik mobil yang kami sangka dimasuki Kasbi. Demikian juga malam berikutnya. Dan selama dua malam itu kesedihan seperti ikut tidur bersama kami untuk kemudian terbang melayang hinggap di piring makan Kasbi, dan tempat buang air Kasbi, dan kursi merah di depan meja kerja yang jadi tempat favoritnya untuk tidur. Keesokan harinya kami mencari Kasbi bersama dan menempelkan berita kehilangan Kasbi di terminal dan sebuah halte.
Pada hari Kamis sore tanggal 6 Oktober 2011, aku mendapatkan balasan atas berita itu melalui sms dari Pak Asep pemilik rumah kontrakan kami. Setibanya di rumah aku langsung ke rumah tetangga. Aku sempat ragu ketika mereka menawarkan diri membuka kuburan untuk memastikan saja. Ketika aku mengiyakan, seorang pemuda mengambil sebuah sekop dengan gagang yang panjang sekali untuk menggali kuburan.
Pemuda itu terus mencangkul tanah dan dengan tepat menahan ayunan sekopnya lalu mulai menggunakan tangannya. Ternyata benar itu Kasbi. Dia nampak seperti sedang tidur. Seorang anak kecil muncul dan mengatakan, “ini anjing gigit dia,”katanya sambil menuding seekor anjing yang memang pernah menggigit Kasbi. Aku hanya terdiam lalu meminta tolong pemuda itu untuk membantuku memakamkan Kasbi di halaman rumahku. Kasbi akhirnya bisa pulang dan beristirahat untuk selamanya, ditemani handuk dan bola tenis kesukaannya.
Beberapa hari kemudian, di Akimuga, sebuah kampung di pedalaman sebelah timur Timika, aku bermimpi menggendong Kasbi. Di mimpi itu, Kasbi nampak sudah besar dan bulunya terlihat cerah. Bola matanya yang misterius seolah meneguhkan bahwa aku tidak akan pernah berhenti mencintai hewan aneh ini dan sebuah isyarat akan perjumpaan lagi di masa datang.
Kasbi (Bagaimana aku berjumpa dengannya)
(bagian pertama dari entah beberapa tulisan lagi)
Aku berjumpa dengan mahkluk kecil itu pada 19 Agustus 2011 di sebuah jalan yang sibuk di daerah SP IV, kurang lebih 10 kilometer selatan kota Timika. Dia sepertinya hendak menyeberang jalan dan nyaris terlindas mobil yang aku tumpangi.
Pada saat aku turun dan mengambilnya, sebagian dari diriku menginginkan dia, sebagian memintaku untuk menaruhnya di pinggir jalan. Tapi ternyata aku membawanya masuk ke dalam mobil. Semua temanku di dalam mobil pada heran, “ngapain kucing itu dibawa? Kasih tinggal sudah….” Di dalam benakku juga terbayang komentar Utik, pasti jadinya akan seperti “ih, kucing jelek gitu dibawa pulang” atau “rumah kita ga memungkinkan untuk pelihara kucing”. Lalu menyusul aku teringat akan kesibukan hari ini, masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan dan tempat yang harus aku datangi. Tapi entah kenapa aku bergeming.
Aku masukkan dia ke dalam kantong luar tas ranselku. Anehnya, dia tidak berontak seperti yang aku duga. Dia malah sibuk membersihkan dirinya. Dari berat badan dan ukuran tubuhnya, aku menduga saat itu umurnya baru sekitar 6 bulan. Yang membedakan dia dengan kucing-kucing lain yang aku pelihara dan lihat di manapun, di ujung telinga kucing ini ada bulu yang menyembul, memberi kesan bahwa dia bukan kucing ras lokal.
Setibanya di kantor, aku menitipkannya ke seorang teman yang juga doyan pelihara kucing. Aku langsung bergegas ke ruang rapat untuk sebuah rapat penting.
Usai rapat, aku mendapatinya sedang duduk diam di atas meja resepsionis kantor. Temanku memberikan sebagian menu makan siangnya untuk kucing itu. Ketika ku tanya makan apa kucing itu, temanku menjawab, “eh, dia makan Kasbi…. suka sekali…mungkin karena lapar, toh…” Aku hanya tersenyum sambil menggendong dia masuk ke tasku lagi. Masih ada pekerjaan lagi yang harus segera aku selesaikan.
Tanpa sadar, sambil memasukkan dia ke dalam kantong tas, aku telah memberinya nama, “Kasbi, ayo masuk… ikut aku kerja dulu ya.”
Setibanya di kantorku, Kasbi yang sudah tertidur terpaksa aku bangunkan karena aku harus mengeluarkan laptop dan barang-barang lain. Setelah itu, aku kembali memasukkan dia ke dalam tas dan memintanya untuk tidur. Nampak jelas bahwa dia masih kebingungan dengan tempat-tempat baru yang dia lihat. Mungkin karena capek dan dipenuhi ketakutan di tengah jalan tadi, dia memilih untuk memulihkan tenaga dan pikirannya dengan melanjutkan tidur.
Kira-kira 2 jam kemudian Kasbi terbangun. Perutnya yang buncit ke samping tidak menghalangi niatnya untuk menjelajah area kantorku. Karena tidak ada yang bisa aku berikan padanya, aku hanya mengawasi dia. Hingga akhirnya aku masukkan dia ke dalam kantong tas ranselku lagi untuk bergegas pulang. Sebelum pulang aku membelikannya sekaleng makanan kucing dewasa di sebuah supermarket di Timika.
Sepanjang perjalanan dari Timika ke Kuala Kencana, Kasbi kembali tertidur dan aku memikirkan begitu banyak hal lain. Satu hal saja yang tidak kupikirkan; urusan sanitasi kucing. Dan benar saja, setibanya di rumah dan disambut gembira Utik dan setelah dia mulai menjelajah ruang tengah rumahku, Kasbi menentukan tempat boker yang ideal sekali, di sudut dapur persis di bawah rak perabot makan. Kalau ada skala untuk bau yang sangat menyengat, mungkin nilai bau feses Kasbi ini jauh di atas batas kemampuan penciumanku untuk bau yang tidak menyenangkan.
Sambil menciduk pasir di gundukan pasir milik tetangga (yang mestinya akan digunakan untuk membangun rumahnya), aku menyimpulkan bahwa Kasbi harus tidur di luar rumah, kalau dia hilang ya sudah resiko ditanggung si Kasbi. Tapi ternyata Utik menolak. “Kasian, dia tidur di dalam saja…” Dengan demikian, dimulailah babak baru kehidupan rumah tangga kami….
(bersambung)







