Archive

Monthly Archives: February 2012

Hari sudah beranjak sore ketika Petrus Deikme bermain-main di halaman sebuah gedung yang nampak terlantar. Tidak nampak ada aktivitas. Sekalipun demikian, gedung itu masih menyimpan semacam pesona. Rancang bangunnya nampak beda dari bangunan lain di kampung Aramsolki, Akimuga yang kebanyakan berbentuk rumah panggung dengan material seluruhnya dari kayu dengan kualitas yang kurang baik.

Alkinemokiye

Bangunan tempat Petrus Deikme bermain itu menggunakan tembok sebatas pinggang orang dewasa dan disambung dengan papan kayu yang masih nampak kokoh, dihiasi dengan jendela yang sederhana tapi nampak manis. Petrus Deikme sedang bermain di semacam lorong masuk. Ketika aku datangi, di atas lorong masuk bangunan itu ada sebuah papan bergambar matahari yang terbit dari balik pegunungan dan dihiasi sebuah tulisan “Alkinemokiye”

Jangan tanya apa jawaban Petrus Deikme. Ketika ku tanya, dia cuma menjawab singkat dengan mengangkat alis matanya. Semacam tanda bahwa dia tidak tahu arti kata itu dan mungkin juga tidak tahu maksudku.

Anak-anak SD YPPK Aramsolki. Petrus Deikme yang paling kanan.

Tidak lama kemudian datanglah teman seperjalananku dari Timika, Pak Abraham Timang dan Pascalis Abner, bersama dengan Pak Mantri. Mereka langsung menuju ke tempatku dan Petrus Deikme duduk.

Aku langsung menanyakan arti kalimat itu kepada Pak Abraham. Dia langsung mengarahkan pandangan matanya ke Pak Mantri yang juga orang Amungme, seperti berusaha menyamakan pemahaman mereka. Lalu, masih dengan menatap mata Pak Mantri, Pak Abraham menjelaskan arti – yang ternyata lebih pas disebut – kalimat itu.

Kalimat itu menyimpan kenangan atas masa lalu orang Amungme. Saat mereka baru saja berkenalan dengan senjakala peradaban modern melalui kedatangan para misionaris di daerah pegunungan tengah Papua, seperti Tsinga dan Noema. Pada tahun 1958, para tetua Amungme sepakat untuk bermigrasi ke daerah dataran rendah, yang sudah disiapkan oleh para misionaris dan pemerintah kolonial Belanda. Daerah itu berada jauh dari kaki pegunungan tengah Papua dan diapit dua aliran sungai. Sebuah tanah subur yang merupakan daerah orang Sempan.

Setelah melalui serangkaian pembicaraan dengan suku Sempan, akhirnya disepakati bahwa orang Amungme boleh tinggal di daerah yang kemudian diberi nama Akimuga. Ada tiga kampung di Akimuga, yakni Aramsolki, Amungun, dan Kliarma.

Di daerah baru tersebut, orang Amungme tidak lagi terbatasi ruang geraknya oleh gunung, lembah, dan jurang. Tanah datar yang luas dan subur memungkinkan orang Amungme untuk mengembangkan pertanian dan peternakan. Selain itu, pelayanan pendidikan dan kesehatan tidak lagi terhalangi batasan geografis. Dengan semua itu, orang Amungme mulai menjajaki jalan panjang menuju tingkatan kehidupan kemanusiaan yang belum pernah mereka ketahui sebelumnya.

Hampir semua orang Amungme yang aku ajak bicara mengenai transisi mereka tersebut, selalu yakin bahwa inklusi mereka menuju peradaban baru adalah sebuah keniscayaan. Anak-anak mendapatkan pendidikan dan keahlian dari sekolah-sekolah dan Asrama St. Yohanes di Aramsolki serta sebuah bengkel kerja. Ibu-ibu bisa melahirkan dengan baik dan mendapatkan pelayanan kesehatan di Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) yang didirikan Pater Frankenmoelen.

Mama dan anak-anaknya. Mau ke Aramsolki.

Bagi masyarakat Amungme di Akimuga saat itu, senjakala peradaban telah benar-benar mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat Amungme. Matahari telah terbit untuk menerangi dunia dan segenap penghuninya atau dalam bahasa Amungme disebut dengan cukup singkat saja, “Alkinemokiye.”

Menurut Pak Abraham dan Pak Mantri, papan bertuliskan “Alkinemokiye” yang sekarang tergantung di atas lorong masuk BKIA itu adalah pengganti papan lama yang sudah rusak. Setelah ngobrol di depan lorong masuk, Pak Mantri mengajak masuk ke ruangan-ruangan BKIA. Dia sangat sedih dengan kondisi BKIA ini sekarang. Pasokan obat-obatan semakin tidak menentu, perlengkapan yang semakin lama semakin banyak yang rusak, kesadaran masyarakat untuk hidup sehat semakin menurun. “Kalau seperti ini terus, akan seperti apa nasib orang Amungme?” tutur Pak Mantri sambil menutup lemari penyimpan obatnya.

Kelesuan Pak Mantri cukup beralasan. Sebagaimana halnya daerah lain di Papua sejak tahun 1968, masyarakat Amungme di Akimuga dan yang masih tinggal di pegunungan tengah Papua juga merasakan suasana yang semakin tegang. Saat itu sudah banyak pasukan Indonesia yang berkeliaran di Papua sibuk memaksa rakyat untuk “menyukseskan” Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat). Setelah Pepera, keadaan tidak menjadi lebih baik. Menurut Mozes Kilangin, Akimuga menjadi kota mati setelah peralihan ke Indonesia. Semua kegiatan pembangunan, seperti pelayanan kesehatan terhenti begitu saja. Penyakit malaria merebak (Kilangin, 2009, Hal. 149).

Kehidupan tenang di Akimuga  benar-benar berakhir pada tahun 1977. Saat itu, beberapa kelompok milisi OPM tiba di Akimuga. Untuk menyatakan kemarahan mereka, semua guru yang bukan orang Papua dibunuh atau diusir. Akibatnya, sekolah tutup dan anak-anak hidup dalam ketakutan. Sebagai tindakan balasan, TNI mengirim pesawat-pesawat Bronco untuk mengebom lokasi-lokasi yang diduga sebagai basis OPM dan menempatkan tentara dari Batalyon 753 di Akimuga (Al Araf et al, 2011, Hal. 58).

Akibatnya, banyak warga Akimuga mengungsi masuk ke hutan dan ke Timika. Menurut kesaksian seorang warga Aramsolki, saat itu Pater Frankenmoelen sampai keluar masuk hutan untuk meyakinkan para pengungsi agar kembali ke Akimuga.

Aku jadi teringat sebuah foto di buku memoar Mozes Kilangin. Di situ ada foto Pater Frankenmoelen beserta anak-anak Asrama St. Yohanes Akimuga. Tertera keterangan bahwa foto diambil pada tahun 1980. Bisa ku bayangkan bagaimana suasana Akimuga saat itu. Luka akibat konflik dan kekerasan di Akimuga pasti masih terasa sangat segar. Hingga kini rasanya luka itu masih belum pulih. Sekolah memang ada, tapi kegiatan belajar dilakukan sekedarnya saja.

(Repro) Pater Frankenmoelen dan Bruder Edi dengan anak-anak Asrama St. Yohanes

Yang masih nampak lumayan adalah Puskesmas Kliarma, yang digawangi oleh seorang dokter PTT dari Jakarta. Entah bagaimana jadinya bila dokter itu kembali ke Jakarta. Yang nampak hidup justru pos-pos tentara. Selalu saja ada kegiatan di pos yang dipenuhi serdadu-serdadu muda itu. Beberapa tahun lalu bahkan aku melihat seorang serdadu yang –hanya karena– iseng menembakkan senjatanya ke udara membuat takut serombongan anak SMP yang pulang sekolah.

Tanpa terasa, suasana mulai gelap. Cakrawala barat yang berwarna kemerahan seolah memberi pesan bahwa ada urusan yang belum diselesaikan sang matahari. Kami beranjak kembali ke penginapan. Besok pasti matahari akan terbit lagi. Sebuah hari baru. Semoga bagi orang Amungme, matahari yang terbit setiap pagi senantiasa menjadi pengingat akan perjalanan mereka yang belum selesai.

Bacaan lebih lanjut:

Kilangin, Mozes (2009). Uru Me Ki. Jayapura: Penerbit Tabura

Al Araf et al (2011). Sekuritisasi Papua. Jakarta: Imparsial

“In 1955, Lefebvre warned how’d we lost Rabelais’s laughter. And in losing it, he said, we’ve lost a big part of our cultural heritage, even lost a weapon in our revolutionary arsenal.”

Andy Merrifield

Henry Lefebvre, penulis kiri dari Prancis ini awalnya tidak terlalu menarik perhatianku. Mengeja namanya saja aku kesulitan. Sama sulitnya seperti mengeja merk parfum Bvlgari.Aku membayangkan membaca buku Lefebvre akan seperti membaca tulisan Louis Althusser atau Walter Benjamin yang terlalu berat bagi otakku yang pas-pasan ini.  Dari Althusser, hanya penjelasan soal ISA (Internal State Apparatus) yang bisa aku cerna. Lainnya kebanyakan aku lupa atau memang tidak paham sama sekali.

Tapi setelah aku ingat kembali, ternyata aku tidak pernah membaca buku pengantar masuk ke alam pikiran Louis Althusser. Aku langsung masuk ke rimba raya pemikiran Althusser, dan mendapati diriku tersesat di dalam halaman-halaman beberapa buku Althusser yang aku unduh dari internet.

Dengan Lefebvre ini agak berbeda ceritanya. Aku memilih membaca buku pengantarnya sebelum membaca karya-karyanya. Padahal, judul buku Lefebvre banyak yang terdengar seksi dan terkesan ringan, misalnya; Critique of Everyday Life dan Production of Cities. Buku pengantar masuk ke alam pikiran Lefebvre yang aku temukan judulnya “Henry Lefebvre; A Critical Introduction” yang ditulis oleh Andy Merrifield.

Sebagai seorang pemikir kiri, Lefebvre ini agak beda. Seperti kata Merrifield, Lefebvre ini “terlalu komunis untuk disebut sebagai seorang romantis, tapi juga terlalu romantis untuk disebut sebagai seorang komunis.” Hehe. Dan memang terbukti di tulisannya Lefebvre. Penulis Marxis mana yang akan mengutip Ulysses-ny James Joyce atau konsep kehidupan Dionysiac yang sangat berbau Nietzche itu?

Merrifield melacak keanehan cara berpikir Lefebvre hingga ke kampung halaman Lefebvre di Pyrennes- Atlantique di Prancis Selatan, daerah orang Basque. Kebudayaan orang Basque sangat unik. Takut sekali dengan dosa, tapi juga tukang pesta. Lefebvre meyakini, bahwa festival adalah saat di mana manusia terlepas dari semua identitas yang ditimpakan kepadanya.

Tanpa sebuah penelitian yang muluk-muluk, kita bisa melihat hal ini, terutama di kebudayaan Latin. Lihatlah bagaimana orang-orang dari berbagai kalangan diuber-uber banteng di Spanyol atau joget-joget di jalanan di Brazil. Kalender di Indonesia sendiri sebenarnya banyak diwarnai hari festival perayaan ini dan itu, tapi sepertinya akhir-akhir ini kita semakin jadi bangsa yang serius dan bermuram durja. Rasanya kita sebagai bangsa hanya berpesta bersama di saat pergantian tahun.

Sebuah festival atau perayaan, menurut Lefebvre, adalah pelipatgandaan hal-hal yang mengelilingi kita di kehidupan keseharian (bagiku, frasa itu sudah sangat pas menggantikan Everyday Life dan La Vie Quotidienne), sebuah kondisi yang sangat berbeda dengan keseharian tapi tetap menjadi bagian dari keseharian, sebuah penyerahan diri kepada Dionysius, kepada Eros. Dengan melonggarnya semua tekanan kehidupan keseharian, sebuah festival atau perayaan malah memperkuat jejaring sosial sebuah masyarakat.

Aku jadi ingat sebuah obrolan dengan seorang teman. Dia bilang bahwa orang NU (Nahdlatul Ulama) dengan kekayaan tradisinya membuat mereka punya banyak “kanalisasi sosial.” Yang dia maksud dengan kanalisasi sosial adalah perayaan keagamaan yang kerap bercampur aduk dengan tradisi lokal Jawa. Dengan perayaan-perayaan tersebut, warga NU memiliki kanal untuk membuang segala kepenatan kehidupan dan (kalau istilah zaman sekarang) kegalauan mereka untuk kemudian kembali ke dalam kehidupan keseharian sebagai warga yang bahagia.

Bagi Lefebvre, negara-negara komunis, alih-alih ingin menjunjung tinggi kemanusiaan, malah mengiris rasa kemanusiaan warga negaranya dengan membuat kehidupan keseharian begitu garing dan membosankan dan dinodai oleh pengulangan ideologi dalam keseharian (mungkin maksudnya melalui papan atau grafiti yang berisi slogan atau propaganda). Harap diingat bahwa Lefebvre menulis bukunya di masa kejayaan Uni Soviet pada tahun 1980-an. Jika dia hidup di era kini, maka masyarakat yang dia telisik adalah masyarakat di negara-negara kapitalis. Seperti halnya tulisan-tulisan Umberto Eco.

Politik yang tidak berusaha memahami kehidupan masyarakat dalam skala mikro, kata Lefebvre, adalah politik tanpa konsituen. Tidak mengherankan memang. Baik di negara komunis, kapitalis, fasis, atau teokratis hingga yang tidak jelas macam Indonesia ini, semua rekayasa sosial yang disusun di atas meja dengan tingkat abstraksi yang tinggi pasti akan hancur luluh lantak dan menyisakan masyarakat yang tidak bahagia.

Tapi sebenarnya saya jadi berpikir, jangan-jangan ada semacam pengecualian, seperti; masyarakat Kuba yang (sepertinya) nampak bahagia di dalam keterisolasian mereka atau warga Sabaudia, kota yang dibangun Mussolini di atas rawa-rawa itu, yang mengenang Mussolini dengan kebimbangan “benci tapi cinta.”

Begitulah. Dengan gaya bahasa yang ringan, Andy Merrifield tidak hanya membuat kita memahami Lefebvre tapi juga sudah berhasil menyampaikan pesan Lefebvre bahwa manusia yang berdaulat atas masa lalu, masa kini, dan masa depannya adalah manusia yang bahagia. Tanpa terasa, kita akan sudah menyelesaikan 8 Bab dalam buku ini.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 386 other followers