Archive

Kliping

1
Ich war jung, Gott, erst sechzehn Jahre
Du kamest von Birma herauf
Und sagtest, ich solle mit dir gehen
Du kämest für alles auf.
Ich fragte nach deiner Stellung
Du sagtest, so wahr ich hier steh
Du hättest zu tun mit der Eisenbahn
Und nichts zu tun mit der See.
Du sagtest viel, Johnny
Kein Wort war wahr, Johnny
Du hast mich betrogen, Johnny, in der ersten Stund
Ich hasse dich so, Johnny
Wie du dastehst und grinst, Johnny
Nimm die Pfeife aus dem Maul, du Hund.

Surabaya-Johnny, warum bist du so roh?
Surabaya-Johnny, mein Gott, ich liebe dich so.
Surabaya-Johnny, warum bin ich nicht froh ?
Du hast kein Herz, Johnny, und ich liebe dich so.

2
Zuerst war es immer Sonntag
So lang, bis ich mitging mit dir
Aber schon nach zwei Wochen
War dir nicht nichts mehr recht an mir.
Hinauf und hinab durch den Pandschab
Den Fluß entlang bis zur See:
Ich sehe schon aus im Spiegel
Wie eine Vierzigjährige.
Du wolltest nicht Liebe, Johnny
Du wolltest Geld, Johnny
Ich aber sah, Johnny, nur auf deinen Mund.
Du verlangtest alles, Johnny
Ich gab dir mehr, Johnny
Nimm die Pfeife aus dem Maul, du Hund.

Surabaya-Johnny, warum bist du so roh ?
Surabaya-Johnny, mein Gott, ich liebe dich so. Surabaya-Johnny, warum bin ich nicht froh ?
Du hast kein Herz, Johnny, und ich liebe dich so.

3
Ich hatte es nicht beachtet
Warum du den Namen hast
Aber an der ganzen langen Küste
Warst du ein bekannter Gast.
Eines morgens in einem Sixpencebett
Werd ich donnern hören die See
Und du gehst, ohne etwas zu sagen
Und dein Schiff liegt unten am Kai.
Du hast kein Herz, Johnny
Du bist ein Schuft, Johnny
Du gehst jetzt weg, Johnny, sag mir den Grund.
Ich liebe dich doch, Johnny
Wie am ersten Tag, Johnny
Nimm die Pfeife aus dem Maul, du Hund.

Surabaya-Johnny, warum bist du so roh ?
Surabaya-Johnny, mein Gott, ich liebe dich so. Surabaya-Johnny, warum bin ich nicht froh ?
Du hast kein Herz, Johnny, und ich liebe dich so.

Joni Surabaya

1
Waktu itu , ya Tuhan, aku masih muda, baru enam belas tahun
Kau datang dari Birma
Dan bilang, harusnya aku ikut kau
Kau yang tanggung semuanya.
Aku tanya apa kerjamu
Kau jawab, sumpah
Aku kerja di kereta api
Tak ada hubungan dengan laut.
Banyak ngomong kau, Joni
Tak ada yang benar, Joni
Kau bohongi aku, Joni, sejak pertama
Aku begitu benci kau, Joni
Cara kau berlagak dan nyengir, Joni
Copot itu cangklong dari moncong, anjing kau.

Joni Surabaya, kenapa kau begitu kejam ?
Joni Surabaya, ya Tuhan, aku begitu cinta kau.
Joni Surabaya, kenapa aku tidak senang ?
Kau tak punya perasaan, Joni, dan aku begitu cinta kau.

2
Pertama semuanya serba indah selalu
Begitu terus sampai aku ikut kau
Tapi baru dua minggu saja aku
Di matamu tak ada lagi yang benarnya.
Pulang-pergi lewat Punjab
Menyusur sungai sampai ke laut:
Sudah kulihat diriku di cermin
Seperti sudah umur empat puluhan
Kau bukanya mau cinta, Joni
Kau maunya uang, Joni
Tapi aku, Joni, tidak peduli, aku dimabuk asmara.
Kau mau semuanya, Joni
Aku berikan lebih, Joni
Copot itu cangklong dari moncong, anjing kau.

Joni Surabaya, kenapa kau begitu kejam ?
Joni Surabaya, ya Tuhan, aku begitu cinta kau.
Joni Surabaya, kenapa aku tak senang ?
Kau tak punya perasaan, Joni, dan aku begitu cinta kau.

3
Aku dulu tidak peduli
Kenapa kau pakai nama itu
Tapi di sepanjang pantai
Kau tamu yang terkenal.
Suatu pagi di losmen murahan
Aku ‘kan dengar gemuruh laut
Dan kau pergi, tanpa pamit
Dan kapalmu di dermaga.
Kejam kau, Joni
Bajingan kau, Joni
Dan kau mau pergi, Joni, kenapa.
Aku begitu cinta kau, Joni
Seperti waktu hari pertama, Joni
Copot itu cangklong dari moncong, anjing kau.

Joni Surabaya, kenapa kau begitu kejam ?
Joni Surabaya, ya Tuhan, aku begitu cinta kau.
Joni Surabaya, kenapa aku tak senang ?
Kau tak punya perasaan, Joni, dan aku begitu cinta kau.

Sumber: Fahmi Faqih, Sigit Susanto – Milis Apresiasi Sastra (apsas@yahoogroups.com)

Langit hitam pekat menyelimuti Surabaya di suatu sore. Hujan turun disertai tiupan angin kencang. Dari balik gorden jendela ruang kerjanya, Tri Rismaharini mengintip keluar. Wajahnya tegang. “Saya selalu panik kalau ada angin kencang, khawatir pohon di jalanan pada roboh,” kata Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya itu.

Sore itu, Tri Risma–sapaan akrabnya–lalu bersiap berkeliling memantau kondisi kebersihan Kota Surabaya. Setelah cuaca lebih baik, Tri Risma beranjak pergi. Mengenakan celana panjang dan kaus biru lengan panjang serta bersandal plastik, perempuan berjilbab itu menyetir sendiri kendaraan dinasnya.

Langsung terjun ke lapangan bukan hal seremonial bagi perempuan 46 tahun ini. Keliling kota tidak hanya dia lakukan menjelang peringatan hari besar, misalnya. Jika tidak ada rapat di kantornya, dia memilih memantau kebersihan jalan, saluran air, dan kondisi taman-taman kota, sekaligus langsung menilai kinerja bawahannya. Bila ada tempat yang masih kotor, anak buahnya yang bertanggung jawab di wilayah itu segera dipanggil untuk membenahi.

Tak jarang dia turun dari mobilnya, memperbaiki tanaman-tanaman yang rusak atau membersihkan spanduk yang terpasang sembarangan. “Petugas kebersihan adalah manusia. Kalau terus diperintah, bisa tersinggung, jadi saya memilih memberi contoh,” katanya.

Sejak diangkat sebagai kepala dinas, dua tahun silam, Tri Risma langsung tancap gas. Dia memimpin anak buahnya menanami jalan-jalan protokol Surabaya dengan aneka jenis tanaman dari kebun bibit Wonorejo. Sebanyak 300 pegawainya yang biasa bekerja di kantor juga dikerahkan. “Mereka saya suruh kerja bakti dua kali seminggu,” katanya. Hasilnya bisa dinikmati sekarang. Sepanjang jalan Ahmad Yani-Darmo-Urip Sumoharjo hingga tengah kota terlihat asri.

Untuk menambah kesejukan, dibangun 13 air mancur di beberapa lokasi strategis, seperti di Monumen Bambu Runcing di Jalan Taman Ade Irma Suryani Nasution serta di perempatan Jalan Pemuda, Gubernur Suryo, Yos Sudarso, dan W.R. Supratman. Ini sedikit mengurangi teriknya suhu udara kota yang rata-rata mencapai 30 derajat Celsius itu.

Tangan dingin perempuan kelahiran Kediri ini juga berhasil menyulap wajah Taman Bungkul, yang dulunya kumuh, menjadi salah satu tempat favorit warga kota. Semula, meski bernama taman, Taman Bungkul tak lebih dari lahan tak terurus, tempat menginap para gelandangan dan pengemis.

Sekarang, rumputnya tertata rapi dikelilingi bunga dan pohon rindang. Taman ini juga dilengkapi sejumlah fasilitas, seperti sarana bermain anak, arena skateboard, jogging track, serta fasilitas akses Internet tanpa kabel. Para pemain saham di dunia maya pun menjadi pengunjung tetap tempat dengan hotspot itu.

Kini, Tri Risma tengah menangani Taman Flora di kawasan Bratang dan mengincar kawasan seluas delapan hektare di Kecamatan Lakarsantri. Area itu rencananya hendak diubah menjadi hutan kota dan pusat flora.

Beberapa lahan kosong yang selama ini terbengkalai, seperti bekas tempat stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), dibenahi. Ada 11 lahan bekas SPBU yang sedang dihijaukan. Hasilnya sudah tampak di Jalan Sulawesi dan Biliton.

Bantaran sungai juga lebih bersih. Tengok saja pinggiran Kali Mas di sepanjang Jalan Ngagel. Tepi sungai yang awalnya hanya semak-semak kini menjadi taman, lengkap dengan tempat jogging dan bangku-bangku semen untuk kongko warga.

Yang terpenting dari semua itu adalah upaya lulusan teknik arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember ini melibatkan warga. Ada yang diajak menjadi “jaga kali” dan “jaga got”. Tugas mereka adalah menjaga agar sesama warga tidak membuang sampah di kali atau selokan. Warga yang tertangkap basah tiga kali membuang sampah sembarangan akan ditangkap dan disidang. Warga juga diajak memilah sampah kering dan basah untuk dijadikan kompos. Usaha ini cukup ampuh mengurangi volume sampah.

Kerja kerasnya menuai berbagai penghargaan, seperti penghargaan pengelolaan lingkungan dari pemerintah Austria dan Green Apple Award London untuk penghijauan kota. Warga yang bermukim di perkampungan padat kini mulai meminta Tri Risma juga menjamah tempat mereka. “Sekarang saya banyak diprotes warga, mengapa yang dibenahi hanya tengah kota,” ujarnya.

(Sumber: Tempo, 31 Desember 2007 – 6 Januari 2008)

Soerjono Herlambang

Batavia adalah kota yang matang dan bermartabat, sedangkan Surabaya adalah kota yang masih muda yang sedang dibangun. Bila Batavia adalah sebuah rumah, Surabaya adalah sebuah pasar dan sebuah pabrik. Kidung Surabaya adalah kidung para pekerja. Tak ada lagi tempat yang lebih ramai yang dapat ditemukan di sebelah timur Terusan Suez. Sepanjang hari jalanan penuh sesak, selalu bising, dan malam pun tak pernah sepi.…”

Deskripsi menarik tentang karakter Kota Surabaya di atas ditulis Macmillan (1926) dalam sebuah buku direktori perdagangan Asia. Awal abad ke-20 Surabaya memang dikenal sebagai pelabuhan tersibuk dan kota terbesar di seluruh wilayah koloni Hindia Belanda. Surabaya telah tumbuh menjadi salah satu kota pelabuhan dagang penting di Asia, sejajar dengan Kalkuta, Rangoon, Singapura, Bangkok, Hongkong, dan Shanghai.

Dalam sensus 1905 tercatat 150.000 jiwa penduduk mendiami kota Surabaya. Sekitar 20 persen dari jumlah penduduk adalah keturunan asing: 8.000 jiwa keturunan Eropa yang makmur, sekitar 15.000 jiwa komunitas China, dan 3.000 jiwa keturunan Arab. Seperti di kota kolonial lainnya, mereka tinggal dalam lingkungan hunian kelompok etnik masing-masing (ethnic quarter). Antara 1888-1916, sekitar 1.500 hektar perumahan baru selesai dibangun, sebagian besar dikerjakan oleh pihak swasta. Produksi gula dan tembakau yang melimpah dari lembah Brantas yang membentang dari Jombang, Kediri, hingga Madiun, mendorong lahirnya berbagai institusi perekonomian modern, seperti bank, asuransi, dan perusahaan-perusahaan ekspor-impor. Tingginya potensi dan aktivitas ekonomi kota, makin menarik pendatang-pendatang asing untuk membuka usaha atau bekerja, dan kemudian menetap di Surabaya.

Jauh dari jangkauan pusat pemerintahan kolonial di Batavia membuat Surabaya berkembang lebih leluasa. Perkembangan kota dagang berskala internasional ini dibarengi dengan tumbuhnya karakter kota modern dan kosmopolitan: egaliter, dinamis, multikultural, dan terbuka dari berbagai pengaruh asing.

Sejarah ”urbano-graphical”

Perjalanan panjang Surabaya melintasi abad ke-20 inilah yang ditulis secara cermat oleh Howard W Dick dalam sebuah buku menarik dan kaya informasi: Surabaya, City of Work, A Socioeconomic History (2003). Dick adalah ahli sejarah ekonomi Asia Tenggara dari The Australian Centre of International Business, University of Melbourne, Australia. Buku ini menjadi sangat penting karena mengisi kekosongan studi tentang perkembangan kota modern di Indonesia. Tidak banyak buku yang menulis sejarah sebuah kota dengan pendekatan yang menyeluruh dan utuh.

Mengenai sejarah modern Indonesia, terutama di Jawa, menurut Dick sebenarnya dapat dibaca lewat kisah dua kota besar Indonesia: Jakarta (Batavia ) dan Surabaya. Lewat analisis detail dua kota ini dapat dilihat bagaimana dramatisnya perjalanan modernisasi dan urbanisasi di negeri ini. Kasus Surabaya sendiri menjadi spesial karena cerita yang tercatat adalah kisah pergulatan sebuah kota menghadapi dua medan sekaligus: pasar internasional yang sangat dinamis dan gejolak kekuasaan politik nasional.

Pembahasan buku ini tidak menggunakan metode kronologi tunggal yang biasa digunakan dalam penulisan sejarah. Dick membagi analisisnya menjadi tiga subyek utama: (1) profil dan perkembangan sosio-ekonomi kota industri dan perdagangan; (2) peran dan adaptasi pemerintah kota di bidang kesehatan masyarakat, pendidikan, dan perumahan; (3) pola keruangan kota (urban spatial pattern) yang terbentuk sepanjang abad ke-20. Setiap subyek memiliki kronologinya sendiri dan saling melengkapi kedalaman pembahasan sudut pandang masing-masing. Sebagai penunjang analisisnya, Dick banyak menyajikan data statistik dengan sumber bervariasi, lengkap dan memiliki kerangka waktu yang panjang.

Wuisman (2003) menyebut pendekatan tersebut sebagai “a historical urbano-graphical”. Pendekatan ini bertujuan untuk melakukan analisis mendalam, sistematis, dan komprehensif pada setiap unit analisis sebagai satu kesatuan kompleks, dinamis, dan terbuka dalam sebuah keterkaitan dengan dimensi-dimensi lain yang luas, seperti kaitan antara lokal dan global (space); dimensi waktu yang lampau, sekarang, dan yang akan datang (time); hubungan sosial antara wanita dan pria (jender), lintas generasi (generation), afiliasi etnis (cultural identity), pemilik modal dan pekerja (social class), pola kerja, waktu luang dan konsumsi (status), penduduk dan birokrat (governance), warga negara dan politikus (polity), kepentingan nasional dan pendatang asing (nationality). Dengan menganalisis sebagian besar keterkaitan antar-dimensi tersebut, buku ini tidak hanya mengungkapkan kompleksitas kehidupan kota Surabaya, tapi lebih jauh menggambarkan peran penting Surabaya dalam pengembangan dan modernisasi ekonomi wilayah timur Pulau Jawa dan Indonesia.

Perkembangan struktur kota

Penggunaan lahan (land use) pada hakikatnya adalah perwujudan fisik dari perubahan ekonomi dan sosial. Setiap terjadi pertumbuhan dan gejolak ekonomi dan sosial akan terekam dalam perubahan penggunaan lahan kota. Pola perubahan lahan yang terus-menerus pada akhirnya akan memengaruhi struktur kota secara keseluruhan. Dick membagi sejarah perkembangan struktur kota Surabaya menjadi empat tahapan: tahap pertama, kota pra-modern sebelum 1830-an yang masih dikelilingi oleh benteng kota; tahap kedua tahun 1830-1942, terbentuknya struktur kota modern dan munculnya fenomena suburbanisasi; tahap ketiga tahun 1942-1970, ditandai dengan mundurnya pusat kota kolonial dan menyebarnya permukiman kampung; tahap keempat mulai 1970-sekarang, ditandai membesarnya ukuran dan skala kota akibat dominasi pembangunan infrastruktur dan permukiman skala besar (kota baru) di pinggir kota.

Pembentukan struktur kota modern ditandai dengan keputusan untuk meruntuhkan tembok kota pada tahun 1871 dengan alasan demi kesehatan lingkungan dan kebutuhan ruang kota yang lebih luas sebagai akibat peningkatan pesat aktivitas ekonomi. Ekspansi ruang kota berlangsung ke arah bagian selatan di sepanjang Kalimas, di mana saat itu merupakan jalur transportasi penting yang digunakan untuk mengangkut hasil pertanian dan perkebunan di pinggiran kota ke pusat kota. Dibukanya terusan Suez (1875) dan lonjakan industri gula dunia mempercepat pembentukan kota modern. Pada tahun 1890 dibangun 20 kilometer jalur trem uap yang menghubungkan kota lama di utara dengan permukiman dan kawasan industri baru di selatan. Pada tahun yang sama otomobil masuk ke Surabaya. Memasuki abad ke-20 Surabaya telah berubah drastis menjadi sebuah kota modern yang makmur, dipenuhi perkantoran kelas menengah, hotel-hotel mewah, mobil, pusat perbelanjaan yang prestisius, dan dikelilingi oleh perumahan-perumahan mewah dengan konsep kota taman (garden suburbs). Bahkan Gubernur Oost Java pada masa itu membanggakan Surabaya sebagai the most modern city in the Indies.

Pada sisi lain, peningkatan aktivitas ekonomi menarik banyak pendatang dari desa-desa sekitar Surabaya dan tinggal berjubel di perkampungan. Sayang Dick tidak cukup dalam membahas fenomena ini. Sebagai perbandingan, Santoso (1984) pernah menuliskan bahwa akibat pengembangan kota formal tidak menyentuh perkampungan, maka muncullah sebuah dualisme ruang kota yang bersifat sosial-politis antara area yang dihuni orang Eropa (bebouwde kom di bawah teritori stadgemeente) dan perkampungan penduduk asli (niet-bebouwde kom sebagai inlaandse gemeente). Dualisme ini yang menyebabkan perkampungan selalu menjadi korban dalam kebijakan peremajaan kawasan dan pemekaran kota. Lebih dari itu, dualisme ini menjadi masalah laten dalam pengembangan kota hingga saat ini.

Akan tetapi, kejayaan ekonomi Surabaya tidak cukup lama bersinar. Depresi ekonomi yang melanda dunia tahun 1930-an memberi pengaruh negatif bagi Surabaya, bahkan terberat bila dibandingkan dengan kota-kota lain di Hindia Belanda. Seluruh sendi kehidupan kota menjadi terpuruk. Kuantitas ekspor gula melalui pelabuhan Surabaya seakan terjun bebas, dari 1,2 juta ton pada tahun 1928-1929 menjadi hanya kurang dari 0,4 juta ton pada tahun 1936. Kondisi ini membawa efek ganda ke sektor perekonomian lain, seperti: penurunan permintaan transportasi dan pergudangan, mengurangi aktivitas industri berat yang sebelumnya memasok kegiatan pabrik-pabrik gula. Muara dari keterpurukan ekonomi adalah kontraksi penghasilan dan konsumsi masyarakat secara menyeluruh, dan angka pengangguran melonjak tajam.

Episode 1930-an telah memberi sebuah pengalaman pertama keterkaitan dan ketergantungan ekonomi lokal dan dunia, jauh sebelum masalah globalisasi ekonomi merebak sekarang ini. Dimulai dengan pengaruh pembukaan terusan Suez yang membuka jalan integrasi ke pasar dunia, depresi ekonomi dunia juga mengakibatkan Surabaya lebih cepat terpuruk dibandingkan dengan kota-kota lainnya.

Tahun 1936, sebagai upaya mengatasi kemunduran ekonomi, pemerintah kolonial Belanda gencar mempromosikan Surabaya sebagai kota industri. Sebuah pamflet, Soerabaia and the Oosthoek: There Lies a Future for Your Business, menawarkan berbagai fasilitas yang ada di Surabaya, seperti pelabuhan dagang yang besar, pasar lokal yang menjanjikan, dan kemudahan penyediaan lahan untuk industri. Beberapa pabrik baru mulai dibangun, seperti lampu neon (Philips), minyak goreng dan sabun (Philippine Manufacturing Corp.), perakitan mobil (Dodge-NV Velodrome), dan sandal karet (Rubberfabriek Waroe).

Berbeda dengan masa sebelum depresi, pembukaan pabrik-pabrik baru tersebut tidak lagi berorientasi pada kepentingan ekspor, tapi lebih berorientasi pada pasar domestik. Setelah kejayaan industri gula redup, hubungan Surabaya dengan ekonomi dunia mencapai titik terendahnya. Sebagai perbandingan, pada masa yang sama, Jakarta dan Jawa Barat masih bisa bertahan di pasar dunia lewat produksi perkebunan karet dan teh. Tapi selain pergeseran tren ekonomi dunia, ada hal lain yang merisaukan pemerintah kolonial Hindia Belanda, yakni membanjirnya barang-barang murah produk Jepang di pasar lokal. Pada tahun 1934 tercatat sepertiga dari seluruh barang impor yang masuk ke Hindia Belanda berasal dari Jepang. Untuk bersaing dengan produk Jepang, pemerintah kolonial harus mendorong tumbuhnya industri yang berorientasi kebutuhan domestik. Surabaya kembali dilirik oleh banyak investor karena kesiapan infrastruktur dan institusi ekonomi modern peninggalan masa sebelumnya. Demikian juga posisi Pelabuhan Tanjung Perak yang akan berperan besar dalam faktor distribusi barang, terutama ke wilayah Timur Hindia Belanda.

Pada 3 Febuari 1942 bom pertama Jepang menghantam Surabaya. Satu bulan berikutnya, 6 Maret, tentara Jepang mendarat di Wonokromo. Beruntung tidak banyak kerusakan di sektor industri. Dua minggu setelah menguasai kota, sebagian besar pabrik kembali beroperasi di bawah supervisi militer Jepang. Tapi jenis produksi lebih diarahkan untuk mendukung kepentingan perang, seperti industri tekstil, baja, dan galangan kapal. Melihat potensi Surabaya sebagai pusat industri, militer Jepang terdorong menyusun rencana besar untuk membuka perkebunan kapas di bekas lahan-lahan perkebunan gula di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Belum sempat terlaksana, Jepang harus menyerahkan kembali Surabaya kepada tentara Sekutu pada akhir 1945.

Antara 1945-1949 tidak banyak yang bisa dilakukan oleh pemerintahan Belanda yang mencoba kembali berkuasa di Indonesia. Infrastruktur vital yang selama ini menjadi andalan Surabaya sebagai kota industri, seperti pelabuhan dan pembangkit listrik, belum kembali pulih. Sebagian kerusakan akibat pertempuran tahun 1945, tapi sebagian lagi akibat terputusnya hubungan dengan wilayah-wilayah pinggiran kota yang dikuasai oleh pejuang republik. Sebagai gambaran, sebelum perang produksi energi mencapai 14.000 KW, tapi seusai perang produksi menurun drastis hingga sekitar 2.000 KW.

Setelah pengakuan kemerdekaan tahun 1949, pertumbuhan ekonomi Surabaya dipicu kembali dengan pembangunan beberapa pabrik baru di daerah-daerah penyangga (hinterland) seputar Surabaya. Di Gresik dibangun pabrik semen, caustic soda, dan karung goni. Bahkan pabrik semen Gresik merupakan proyek investasi terbesar di Indonesia awal pascakemerdekaan. Proyek ini menyerap 14 juta dollar dari total kredit pinjaman 100 juta dollar yang diterima Bank Ekspor-Impor dari Amerika Serikat. Beberapa investor asing juga mulai kembali beroperasi. Pemulihan ekonomi kota lagi-lagi terhadang oleh keluarnya kebijakan nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing tahun 1960-an.

Di sisi lain, arus migrasi spontan terus berlanjut setelah masa kemerdekaan. Dari sekitar 600.000 jiwa pada 1949, populasi Surabaya diperkirakan berlipat mendekati 1 juta jiwa pada 1956. Untuk bertahan hidup mereka menempati lahan-lahan kosong di sekitar infrastruktur publik, seperti bantaran kanal dan rel kereta api. Wajah kota Surabaya kembali menjadi kumuh.

Membangun kota industri

Peralihan kekuasaan politik ke Orde Baru pada akhir 1960-an membawa angin perubahan. Ada dua hal pokok yang harus ditangani Pemerintah Kota Surabaya pada awal 1970-an. Pertama adalah mencoba menangani pemekaran kota dan juga mengintegrasikan kawasan-kawasan industri baru, baik yang di dalam kota maupun di wilayah tetangga, seperti Gresik dan Sidoarjo, ke dalam sebuah rencana induk kota (master plan). Kedua, untuk menangani perkampungan yang disinyalir masih terdapat sisa pengaruh komunisme, pemerintah kota mengusung dua program yang berlawanan: peremajaan kawasan lewat penggusuran dan perbaikan kampung (KIP).

Awal 1990-an dilakukan revisi master plan untuk mengakomodasi perkembangan kota terakhir. Konsep koridor-koridor pengembangan diperluas dengan konsep jalan lingkar (ring road) terkait dengan rencana pembangunan jembatan Surabaya-Madura. Revisi juga untuk mengantisipasi (sekaligus mengendalikan) ledakan proyek-proyek real estate berskala sangat besar (very large scale projects) di pinggir kota. Sekitar delapan developer besar dari Jakarta tercatat menguasai lahan sekitar 6.300 hektar. Berbagai konflik kepentingan mulai muncul, terutama berkaitan dengan keinginan developer mengubah rencana peruntukan lahan pertanian produktif atau area konservasi alam menjadi lahan perumahan.

Pada periode yang sama, terjadi juga perubahan besar di pusat kota. Kawasan Jembatan Merah dan Tunjungan disulap kembali (redevelopment) menjadi kawasan pertokoan modern dan mewah. Modus yang digunakan mirip dengan proyek sejenis di Jakarta: mengalihfungsikan lahan-lahan milik pemerintah atau militer yang terletak di lokasi strategis. Atau menggusur kawasan perkampungan yang dianggap ilegal atas nama optimalisasi nilai lahan pusat kota.

Pemusatan kekuasaan politik di Jakarta, di mana seluruh kebijakan investasi asing hanya bisa diputuskan oleh petinggi Jakarta, menyebabkan turunnya daya tarik Surabaya bagi investor asing. Akses ke birokrasi pusat menjadi pertimbangan utama dalam melakukan investasi. Antara 1967-1978 tercatat 43 persen investasi asing nonminyak diserap oleh Jakarta dan Jawa Barat, dan hanya 5 persen yang ditanamkan di Jawa Timur.

Hingga 1986 industrialisasi di Surabaya dan sekitarnya lebih banyak dipicu oleh investasi domestik. Peningkatan kapasitas PLTU Tanjung Perak dari 50 MW menjadi 150 MW telah mendongkrak kapasitas produksi Semen Gresik berlipat tiga dan pendirian pabrik Petrokimia. Pertumbuhan ekonomi Surabaya juga banyak tertolong oleh keberhasilan Revolusi Hijau di Jawa Timur pada awal 1970-an, khususnya program intensifikasi tanaman padi. Program ini telah meningkatkan pertumbuhan ekonomi pedesaan yang pada akhirnya membuka lebar pasar domestik untuk kalangan produsen barang-barang konsumsi (consumer goods).

Seperti mengulang model pertengahan 1930-an, pembangunan Kawasan Industri Rungkut tahun 1975 memosisikan Surabaya kembali sebagai kota industri yang berorientasi pada produk substitusi impor dan pasar domestik. Dalam waktu sepuluh tahun, kawasan industri seluas 245 hektar terisi penuh dan menampung sekitar 26.000 pekerja. Penemuan ladang gas di lepas pantai timur pulau Madura pada pertengahan 1990-an memicu masuknya investor asing ke pengembangan industri berat di Jawa Timur, khususnya industri petrokimia. Pada tahun 1994, untuk pertama kali Jawa Timur menempati peringkat pertama dalam tingkat investasi asing di Indonesia.

Dikaitkan dengan krisis energi belakangan ini, keputusan untuk melayani kepentingan domestik sepertinya menjadi berkah yang tersembunyi (blessing in disguise) bagi kota Surabaya. Tentu akan lain ceritanya bila produksi gas Madura pada saat itu diperkirakan cukup untuk kepentingan ekspor.

Siklus hidup kota

Terhadap pendekatan pembangunan kota pada masa Orde Baru, Dick mencatat terjadinya pengulangan pendekatan pada zaman kolonial Belanda seperti sebuah siklus yang memutar balik. Cara pembebasan lahan saat real estate boom baik pada 1890-an dan 1980-an relatif sama. Lewat koalisi elite antara pejabat publik dan developer, sering kali atas nama kemajuan kota, mereka dapat menguasai dengan murah tanah-tanah milik petani dan penghuni perkampungan. Walau sudah merdeka, dualisme ruang kota produk kolonial (bebouwde kom dan niet bebouwde kom) masih saja terendap di bawah sadar mereka. Demikian juga konsep pembangunan perumahan-perumahan baru, tetap saja dirancang terpisah dari kenyataan sehari-hari. Mereka tetap memandang penghuni kampung sebagai sosok yang asing dan susah diatur. Alih-alih yang diproduksi tetap perumahan terpisah dari lanskap kota yang nyata, yang bakal memicu kesenjangan sosial yang makin tajam.

Di balik kritiknya, Dick menutup buku dengan kalimat yang bernada optimis: The new era of local autonomy that began on 1 January 2001 gives Surabaya the best opportunity since Independence to assert its identity and chart its own course.

Soerjono Herlambang Dosen Jurusan Planologi dan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Tarumanagara

Dimuat di Kompas, Sabtu, 15 Oktober 2005

 

GOENAWAN MOHAMAD

Perlu ada imajinasi arsitektural yang hendak merayakan nostalgia sebagai kesadaran puitis tentang masa lalu yang intim. Dengan demikian, sebuah kota membutuhkan sebuah “sajak panjang” dan tak hanya harus didirikan dengan ketidaksabaran.

Agaknya ada hubungan yang tersembunyi antara kesusastraan Indonesia, kota, dan sejarah. Hubungan itu tidak lazim dibicarakan, namun sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa jika kita ingat akan Revolusi Agustus, ketika dari JakartaIndonesia” dimaklumkan, dan sebuah negara-bangsa berangkat dari pertengahan abad ke-20. Dalam suasana itu dorongan kreatif—dan juga ketegangan—terbit di Jakarta dalam bentuk semangat modernisme.

Pembawa suara modernisme yang paling jelas tentu saja Chairil Anwar. Saya kutip sebuah sajaknya yang menunjukkan sebuah hubungan erat antara ekspresi puitik dengan latar kota dan latar waktu:

Aku berkisar antara mereka sejak terpaksa

Bertukar rupa di pinggir jalan, aku pakai mata mereka

Pergi ikut mengunjungi gelanggang bersenda:

Kenyataan-kenyataan yang didapatnya

(Bioskop Capitol putar film Amerika,

Lagu-lagu baru irama mereka berdansa).

Kami pulang tidak kena apa-apa

Sungguhpun Ajal macam rupa jadi tetangga

Terkumpul di halte, kami tunggu trem dari kota

Yang bergerak di malam hari sebagai gigi masa.

Kami, timpang dan pincang, negatip dalam janji juga

Sandarkan tulang-belulang pada lampu jalan saja

Sedang tahun gempita terus berkata

Hujan menimpa. Kami tunggu trem dari kota.

Dalam sajak yang ditulis di tahun 1949 ini, Jakarta hadir dalam sebuah sketsa yang cepat: bioskop Capitol, daerah Kota, arena dansa, trem, halte, tiang lampu jalan. Tapi, yang juga terasa dari karya Chairil ini adalah sebuah suasana monoton. Tiap baris berakhir dengan bunyi a yang sama. Tak ada nada riang, yakin, atau bangga, meskipun sajak ini menyebut gelanggang bersenda, jam-jam orang menonton film, mendengarkan lagu, dan berdansa.

Agaknya kesatunadaan yang muncul dari sajak itu berasal dari semacam rasa jemu: ada yang jadi rutin dalam sebuah keadaan di mana apa yang alamiah dan purba (hujan dan Ajal) telah kehilangan pesonanya di antara benda-benda teknologi (trem, lampu jalan), yang juga ditongkrongi sebuah tata yang sudah pasti (dengan halte sebagai penanda).

Paralel dengan itu, sebuah subyek, aku, juga nyaris kehilangan dirinya. Dalam sajak itu dikatakan, “aku” berkisar antara mereka, “aku” terpaksa bertukar rupa, dan aku mencoba pakai mata mereka. Ini tentu saja sebuah tema klasik yang kita kenal: individualitas yang harus bernegogisasi dengan kelompok. Pada akhirnya dalam sajak ini aku itu pun berbaur menjadi kami, atau berselang-seling dengan kami.

Menarik bahwa Chairil menyebut kami itu timpang dan pincang dan negatip dalam janji. Ada kesan bahwa ketika individu berubah jadi himpunan, manusia jadi acuh tak acuh kepada kefanaannya sendiri yang sunyi. Waktu tak menimbulkan gentar. Kefanaan itu kini hampir sepenuhnya berada dengan sebuah jarak, di luar diri: Ajal tampak jadi lazim, (macam rupa jadi tetangga, tulis Chairil); waktu yang menggerogoti usia datang dalam bentuk trem dari kota yang bergerak malam hari dengan suara yang seperti gigi yang gemertak.

Ada sikap lalai atau pasrah: orang-orang hanya menyandarkan tubuh mereka ke tiang lampu, menunggu kereta datang, juga ketika hujan turun. Orang-orang hanya pasif walaupun semua itu terjadi dalam sebuah tahun yang genting: tahun gempita terus berkata.

Chairil tak menyebutkan apa yang bergemuruh di saat itu; mungkin di tahun 1949 itu ia merasakan suasana hidup antara harapan dan rasa gentar, antara merasa berdaulat dan di ambang malapetaka, antara merasa perlu berdoa dan merasa berdosa, antara bebas dan terkutuk, tak lama setelah Perang Dunia selesai, Indonesia merdeka, dan Perang Dingin mulai. Saya menduga demikian karena dalam bagian lain dari sajak ini—yang tak saya kutip lengkap di sini—Chairil menyebut dalam malam ada doa sebelum ia menyebut segala sifilis dan segala kusta, dan derita bom atom pula.

Apa pun kurun sejarah yang hendak diungkapkan Chairil dalam sajak itu, di dalamnya tersirat rasa tertekan yang bergumam: rasa tertekan oleh waktu yang datang dengan teknologi dan organisasi—waktu sebuah kota besar, yang menyodorkan diri dalam bentuk jadwal kerja, batas awal dan akhir buat waktu senggang, jam yang menentukan trem datang dan pergi. Dengan kata lain, waktu yang telah menjadi sepenuhnya eksterior, yang tak ditentukan di dunia “kecil” seorang penghuni, dunia “interior”-ku, di momen ketika aku berdaulat.

Tapi, dunia interior itu tak hendak surut, apalagi punah. Justru sebaliknya. Kita tahu, kita yang tinggal di Jakarta yang kian padat dan kian mekar ini bahwa makin lama sebuah tempat tinggal makin berangsur jadi sebuah stasiun transit. Kita di sana seakan-akan hanya singgah, cuma beberapa jam dalam sehari. Selebihnya kita di tempat kerja atau di jalan yang macet dan panjang, dalam kendaraan atau dalam kelimun orang-orang yang umumnya tak saling kenal—sebuah himpunan di mana tiap orang hidup dengan pikiran, fantasi, rasa cemas, atau bahagia masing-masing.

Pada gilirannya, kepadatan dan mobilitas menyentuh tempat tinggal itu sendiri. Kamar dengan cepat berubah penghuninya, secepat iklan kontrak dan jual-beli rumah yang berbaris rapat di halaman surat kabar harian. Ketika sebuah ruang tinggal kian dialami sebagai komoditas—yang nilai gunanya telah diubah jadi nilai tukar—maka keadaan transit yang saya sebut tadi jadi lengkap. Bukan aku saja yang hanya “singgah” di rumahku, tapi rumahku juga hanya “singgah” dalam diriku.

Tapi, justru di dalam keadaan itulah terjadi apa yang oleh Walter Benjamin disebut sebagai “fantasmagoria dari yang-interior”. Dalam tiap keadaan yang tak stabil dan mengalir lekas dari luar, ada dorongan hati manusia untuk menemukan yang tetap dan mengklaim kembali sifat permanen dalam tiap ruang privat.

Saya kira itu juga yang tersirat dalam puisi Chairil sebagai bentuk: sesuatu yang tercatat sebagai kesaksian yang akrab, “batin”, tentang sebuah latar ruang dan waktu. Puisi itu juga sebuah dorongan hati untuk mengembalikan yang “interior” dengan intens—satu ciri modernisme kesusastraan, yang mulai tampak secara terbatas bahkan sejak tahun 1930-an, dan kian jadi ekspresif di sekitar Revolusi Agustus, tatkala luruh, bahkan runtuh, pelbagai konstruksi sosial yang berkenaan dengan ruang dan waktu.

Di sini kita lihat sesuatu yang paradoksal: dalam arus modernitas—seperti yang terjadi dengan bangkitnya kota-kota besar, terutama di Dunia Ketiga—justru ada arus lain yang mencoba melawan atau mengelakkannya; arus itu adalah arus puisi yang menolak untuk menyerah jadi bagian dari instrumentalisasi ruang dan waktu, arus yang tak mau tunduk kepada yang eksterior. Mungkin itulah yang menjelaskan kenapa setelah Chairil, ketika modernitas semakin merasuk ke daam kehidupan Indonesia, puisi tak bisa kembali ditulis dengan ekspresi seperti masa sebelumnya, misalnya masa Pujangga Baru.

II

Harus saya katakan di sini, waktu yang tersembunyi akrab dalam puisi modernis adalah waktu yang sebenarnya menjadi bermakna justru karena ia lemah, lain, dan terasing.

Di luarnya: sejarah.

“Sejarah” di sini punya dua pengertian yang saling bertentangan. Yang pertama, seperti ketika orang mengatakan “aku ingin membuat sejarah”, adalah proses melupakan. Inilah yang kita saksikan dalam terjadinya kota-kota di Dunia Ketiga di masa pascakolonial. Proses melupakan itu ada yang didorong oleh hasrat memutuskan secara radikal hubungan dengan masa lalu yang dibentuk sang penjajah.

Kita menyaksikannya di Jakarta bukan saja dengan perubahan nama-nama wilayah dan jalan, tapi juga dengan hancur atau terabaikannya arsitektur lama. Tapi, kemudian kehendak “membuat sejarah” itu punya dinamika tersendiri yang tak ada hubungan langsung dengan politika ingatan. Ledakan penduduk, ketimpangan antarwilayah, impetus modal dan pasar, dan lain-lain, ikut membuat Jakarta—seperti kota-kota besar lain di Asia, Afrika, dan Amerika Latin—seakan-akan berangkat, dengan tergesa-gesa, dari tahun 0.

Di hari-hari ini agaknya tak ada yang lebih mencengangkan ketimbang Shanghai sebagai contoh kecenderungan itu. Kota di negeri dengan kebudayaan yang amat tua ini segera tak akan menyaksikan berdirinya kembali gaya arsitektur China lama, melainkan sesuatu yang sama sekali berbeda. Perusahaan Inggris Atkins, misalnya, telah memenangi sebuah kompetisi untuk merancang Kota Taman Songjiang menjadi wilayah kota kecil dan dusun Inggris, di tengah sawah-sawah di Pudong. Kota Baru Gaoqiao disulap jadi sebuah wilayah dengan arsitektur gaya Belanda tradisional—lengkap dengan pahatan bunga tulip raksasa.

Yang menarik dari pembangunan di Shanghai ialah bahwa di sini sejarah dibuat dalam arti melupakan, tapi sekaligus juga mengingat. Persisnya, di sini yang direproduksi adalah ingatan yang berbeda. Memang orang dengan mudah akan mencemooh atau mempersoalkan: tidakkah China punya khasanah ingatannya sendiri—yang tak juga punah setelah Revolusi? Mengapa harus “Eropa” yang “asing”?

Di tahun 1957 eseis Mh Rustandi Kartakusuma mengecam tendensi yang disebutnya sebagai “Indonisasi Ciliwung” dalam kesusastraan dan kesenian Indonesia: lahirnya, di Jakarta, sebuah kebudayaan “indo” atau “mestizo”, juga kesusastraannya. Bagi Rustandi, sejarah adalah mengingat, bukan melupakan. Disuarakan menjelang tahun 1960-an, menjelang “kebudayaan nasional” yang otentik jadi doktrin resmi yang harus ditaati, ketika semangat “berdikari” menjulang, pandangan seperti Rustandi itu memang umum berlaku.

Tapi, baik sejarah sebagai produksi yang berdasarkan lupa maupun sejarah sebagai produksi ingatan, keduanya problematis. Pada akhirnya lupa ataupun ingatan adalah tafsir atas masa lalu, atau bisa dikatakan, tak ada masa lalu kecuali tafsir yang tak memadai.

Demikianlah Rustandi menampik lupa, tapi ia sendiri melupakan bahwa sejak kota ini berdiri, Jakarta adalah sebuah karya hibrida—dan agaknya ia tak seharusnya disalahkan. Yang bersifat “mestizo” tidak dengan sendirinya sebuah cela—sebagaimana ide tentang “Indonesia” sendiri adalah ide percampuran yang tak mudah, dianggit dari dan diperebutkan oleh pelbagai anasir yang masing-masing “lain” (dan dalam arti tertentu “asing”), meskipun tiap kali ia bisa memberi makna bagi unsur yang berbeda-beda itu.

Juga para pembangun Shanghai akan selalu bisa mengatakan, sebagaimana layaknya pewaris Marxisme, bahwa masa lalu, sebagai catatan sejarah, senantiasa merupakan catatan sejarah dari yang berkuasa. Mereka juga akan bisa menegaskan masa lalu China yang feodal tak punya tempat di abad ke-21.

Mereka juga akan bisa menunjukkan bahwa Shanghai abad ke-21 berbeda dengan Shanghai di awal abad ke-20—Shanghai yang terbagi-bagi dalam pelbagai koloni orang Eropa dan Jepang, Shanghai dalam novel termasyhur Malraux, La Condition Humaine. Kini Shanghai ditentukan oleh para penguasa China yang berdaulat.

Sejarah sebagai masa lalu, sebagaimana sejarah sebagai proyek masa depan, selamanya mengandung unsur “asing” – bukan dalam arti etnis, atau “budaya”, tapi dalam arti generasi. Di awal abad ke-20 para penghuni Brugges, kota tua di Belgia itu, adalah orang yang asing dibandingkan dengan mereka yang mendirikan kota itu di abad ke-9. Tak mengherankan bahwa mereka mengabaikan peninggalan yang terhantar di dekat mereka. Baru setelah datang orang Inggris yang berkunjung, pelan-pelan arsitektur tua kota itu dibangun kembali.

Dalam hal ini, ingatan akan ke-”asli”-an tak relevan lagi. Menara yang menjulang di Balai Pasar kota itu, yang oleh buku panduan turis dikatakan berasal dari abad ke-14, sebenarnya hanya sebuah tiruan yang dibuat abad ke-19. Kanal-kanal Brugges yang cantik yang seakan-akan hidup terus berabad-abad itu sebenarnya berasal dari tahun 1932.

III

Sebab itu, perkenankanlah saya di sini menolak memberi sejarah bobot yang tinggi. Sejarah adalah perkara langkah besar, bagian dari waktu yang eksterior. Albert Camus, dalam mencoba memberi eulogi buat kota kelahirannya, Oran, di Aljazair—kota yang punya sedikit petilasan sejarah, dan hanya punya laut biru, langit lazuardi, gurun perkasa, dan tubuh yang akrab dengan matahari dan kematian—melihat kota-kota tua di Eropa dengan jeri: di sana, kata Camus, dalam “pusaran yang memusingkan dari abad-abad revolusi dan kemasyhuran”, ruang tak cukup memberikan sunyi.

Saya bukan datang dari kota seperti Oran, dan saya kira Camus berlebih-lebihan, tapi saya juga ingin kembali kepada dorongan untuk merayakan yang interior. Mungkin di sini kita bisa memakai kata yang tak kalah riskannya: nostalgia. Saya ingat kata-kata arsitek Meksiko terkenal, Luis Barragán, (1902-1988): “nostalgia adalah kesadaran puitis tentang masa lalu pribadi kita”.

Kota-kota perlu membuat peluang bagi “kesadaran puitis” itu—dengan kata lain, momen nostalgik itu—sebagaimana modernitas memerlukan antidotnya. “Masa lalu pribadi” dalam konteks ini adalah tafsir atas waktu yang melepaskan diri dari waktu eksterior, ketika kota-kota besar dibangun sebagai ruang “geografis”, dengan perspektif seorang penyusun peta dan perencana.

Dengan “masa lalu pribadi” itulah orang sehari-hari menyusuri jalan dan gang-gangnya. Di sanalah kita akan menemukan kota sebagai apa yang dikatakan Michel de Certeau: pelbagai ruang “migrasional”. Dengan itu kita akan tahu sebuah peta adalah sebuah hasil reduksi, dan sebuah rencana selalu mengandung represi. Hanya dalam momen jalan-jalan kita menemukan yang lebih hidup meskipun sama-sama tak lengkap. Dalam kiasan de Certeau, jalan-jalan adalah sebuah sajak panjang yang mempermainkan organisasi ruang.

Maka saya percaya, perlu ada imajinasi arsitektural yang hendak merayakan nostalgia sebagai kesadaran puitis tentang masa lalu yang intim—sesuatu yang ditunjukkan oleh para pemenang “Penghargaan A Teeuw” 2007 dari Jakarta. Ketika Marco Kusumawijaya, salah seorang angota juri, menilai mereka sebagai orang-orang yang telah “memberi kesempatan kepada sejarah mewujud nyata dan dicintai melalui arsitektur”, saya lebih memberi tekanan kepada kata mewujud dan dicintai. Bagi saya, dengan demikian mereka mengingatkan bahwa sebuah kota membutuhkan sebuah “sajak panjang”, dan tak hanya harus didirikan dengan ketidak-sabaran.

Jakarta, 15 Agustus 2007

GOENAWAN MOHAMAD Penyair, Pendiri Majalah Tempo

(Diolah kembali dari pidato untuk menghormati para penerima “Penghargaan A Teeuw” 2007: Soedarmadji Damais, Wastu Pragantha Zhong, dan Han Awal di Erasmus Huis, Jakarta, 10 Agustus 2007)

Dimuat di Kompas 1 September 2007

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Kota: Bentuk peralihan dari hidup petani menuju hidup kota di Timur Tengah berlalu dari dasa abad ketujuh menuju dasa abad ketiga. Hal itu penting sekali bagi tahap perkembangan kebudayaan umat manusia. Persekutuan kelompok desa yang terutama terpusat pada usaha produksi makanan itu berkembang menuju masyarakat yang berbeda dan memiliki berbagai pekerjaan dengan kelompok jabatan baru seperti: tukang, pedagang, prajurit, pegawai, penulis, dan imam. Mereka membentuk sistem yang bertingkatan mengenai kekuasaan pengaruh dan haknya. Pada puncaknya bertumbuh sebuah pemusatan jenis kekuasaan teokratis, monarkis, atau aristokratis.

Hasil usaha rohani dari terpenting dalam kebudayaan kota adalah penemuan tulisan (abjad; Bahasa Ibrani, hieroglif, tulisan paku). Sebuah bentuk pendahulu yang lebih tua daripada puncak kebudayaan kota dibuktikan dari bukit tempat tinggal di Yeriko (dasa abad 7-6). Corak yang benar-benar bersifat kota di Palestina baru muncul pada kebudayaan tembaga. Kota-kota pada zaman ini (sekitar 3200-1200 SM) tanpa pengecualian selalu diperkuat dengan tembok-tembok yang kuat.

Kota-kota adalah negara kerdil yang berdiri sendiri dan sering saling bersaing dengan susunan masyarakat yang feodal. Dinasti yang berkuasa di Akropolis memerintah sekelompok rakyat yang tidak bebas, yang rumahnya miskin berdesakan di dalam lingkungan yang sempit (misalnya kota Yeriko pada awal zaman tembaga itu luasnya sekitar 225 x 80 meter). Kota-kota itu lebih mudah dimengerti dengan adanya tempat perlindungan dan tempat penyimpanan barang-barang dan tempat kediaman.

Bangsa Israel yang masuk ke Kanaan dari daerah padang stepa itu terasing dari kehidupan kota sampai waktu yang lama. Bagi mereka kehidupan kota nampak sebagai keangkuhan manusia (Kej. 11:1-9) dan kejahatan (19:1-28). Tempat-tempat pertama yang mereka kelilingi dengan tembok itu mirip dengan sebuah kota. Tempat-tempat itu semata-mata adalah tempat tinggal bagi para petani ladang. Di situ para penatua memegang tampuk pimpinan. Dengan pembentukan negara bagi bangsa Israel, barulah timbul proses urbanisasi (dan Kanaanisasi) dengan titik-titik pusat Yerusalem dan Samaria (: kenisah, istana, pusat-pusat pemerintahan dengan susunan tingkat atas yang dibentuk oleh para pegawai raja). Sebuah corak kota yang baru, ditemukan pada zaman Helenis, yang ditentukan oleh bentuk polis Yunani. Pada kedua sisi jalan utama yang lebar dibuatkan susunan-susunan persegi seperti pada papan catur. Di situ ada bagian-bagian yang diberi ketentuan-ketentuan lingkup-lingkup yang diatur untuk halaman umum dan bangunan-bangunan umum (Maresya). Kota-kota Romawi (Gerasa) mempersatukan tempat-tempat kediaman dalam bentuk salib. Suatu ciri khas kota Romawi adalah banyaknya gedung umum yang besar-besar. Keadaan otonom pada zaman Helenis tetap dipegang oleh kota-kota itu pada kekuasaan Romawi. Paling tidak mereka mempertahankan kebebasan agama, yurisdiksi, dan administrasi. Pimpinan, Dewan Penasihat dan Sidang Rakyat (atau mahkamah agama di Yerusalem) hanya terbuka bagi mereka yang memiliki hak warga negara. Dari situlah timbul cara bicara kiasan tentang kota Yerusalem surgawi ( Gal. 4: 25-26; Ibr. 11: 10.16; Why 21:2). Di situ umat Kristen menikmati hak warga negara dan tidak perlu memandang dirinya menjadi orang asing dan tamu (Ef. 2:19; Ibr. 11-13; 1 Ptr 2:11). Lihat juga Benteng

Sumber: Haag, Herbert (1992), Kamus Alkitab, Ende: Penerbit Nusa Indah.

* gimana sih cara posting gambar?

RADIOHEAD singer THOM YORKE is pictured here covered in chocolate for a new OXFAM campaign.

He joins a host of stars including Chris Martin, Jamelia and Michael Stipe for the new series of ‘Ever Felt Dumped On?’ photographs to raise awareness for its ongoing Make Trade Fair campaign to reverse the crippling inequalities in the international farming trade.

All the shots, in which a celebrity is covered in foodstuffs, illustrate the plight of farmers who are systematically ‘dumped on’ by rich countries.

Yorke said: “How sweet does your chocolate taste when you know the producer in a country you will never see did not even get paid enough to feed his family? How sweet does it taste when you see the amount of profit a few multinational corporations make on it?

“How sweet does it taste, exactly, to know our own governments prevent these countries from ever getting off their knees and from ever being able to compete and get PAID, erecting barriers and then DUMPING on them from a great height whilst feigning concern? How delicious is it to know that sweet taste in your mouth is one of slavery, a nice new economic model?

“As it melts in your mouth, how sweet does your chocolate taste, now you know the suffering that it took to get to you?”

Other pictures in the campaign see Chris Martin covered in rice, Colin Firth showered in coffee, and corn raining down on Antonio Banderas. To see them all, and to learn more about the campaign, visit www.maketradefair.com.

http://www.nme.com/news/110667.htm

release date: 9 June 2003

For those strange of mind people who came up with the word “electronic” to describe Kid A and Amnesiac, Radiohead would like you to listen to the beginning of their new opus, the opening seconds of 2+2=5. It is the sound of a guitar being plugged in and checked for sound.

What follows is musically a progression on from the albatross that is OK Computer, and from its experimental successors. It is not a return to the guitar music of The Bends. The Oxford quintet have managed to throw out the bathwater, but repeated listens to Hail To The Thief confirm the baby’s still kicking and screaming.

From the start it’s a fascinating record – in no small part due to the lyrics. 2+2=5 begins a long-play political statement, albeit a worrying one. Titles like 2+2=5 bear out a confusing world that makes little sense in the aftermath of the 2000 US presidential election and 9/11/01. The album’s title has been widely interpreted as the band’s impression of George W Bush’s “win”.

“You can scream and you can shout,” whines Thom Yorke, indisputably the best whiner in rock, “it’s too late now”. He could be talking to the Democrats, or he could be telling Bush off about his famous “war on terror”. “There’s no way out,” he mourns, and it seems that from the start he’s decided to point out that Radiohead are not a religious sect with all the answers (some of their press coverage would have you believe otherwise) but are in fact a group of blokes doing their best to make music that matters to them.

As Yorke’s vocals distort into guitar noise, fans of the band’s rockier moments will be beaming from ear to ear. Go To Sleep, later on, even offers acoustic guitar, while the lead single There There has a glorious Greenwood/O’Brien guitars wig-out to recommend it.

Sit Down, Stand Up starts as an exercise in vocal harmonies over instrumentation that reminds us at once that we’re listening to another Nigel Godrich-produced album – distorted glocks and piano. And then Phil Selway’s drum roll indicates a second half to the track – which happens to be drum’n'bass. It’s disconcerting.

Proving that lovely melodies are still possible in Radiohead songs, Sail To The Moon intersperses guitar and piano to wonderfully spacial effect.

Elsewhere, Backdrifts offers fans of Kid A and Amnesiac succour, brimming with pulsating undercurrents of synth and drum machine. “Evidence has been buried, all tapes have been erased,” implores Yorke. “There was nothing we could do.” It seems like he’s decided that none of us can do anything – and that the fight against dark forces is already lost. There’s more quasi-drum’n'bass later on The Gloaming, which manages to sound sinister and experimental while making little lyrical sense.

Roger Corman-like sci-fi effects get us going on Where I End And You Begin. “The sky turns grey where I am,” mumbles our front man, and it’s difficult not to think of self-parody at play. I Will sounds like Exit Music (From A Film) 2, even though Yorke’s vocal layering and intense lyrics about the next generation still bring a tear to the eye.

We Suck Young Blood suggests vampire corporations at work on the bodies of the young, like some horrible parody of the forces at work behind Pop Idol. It’s a distressing song to listen to – even musically it gives little respite – and is one moment that suggests the album is too sprawling for its own good, with Myxamatosis and Scatterbrain being others.

But throughout there are progressions on the various Radiohead musical themes of the past. Even the jazzy direction hinted at on Amnesiac is given free rein on A Punch-up At A Wedding.

By A Wolf At The Door (little arpeggiated chords, shambling drums at start giving way to a quasi-rap-rant with dark, confused lyrics, Yorke rapping about getting a “flan in the face” – make of that what you will), it’s clear that Radiohead are more relevant and interesting now than they’ve ever been. Hail To The Thief shows lyrical intelligence, utter intellectual confusion and the possibilities of musical instruments. What’s more, it gets better with each listen – just as any fine album should.

- Michael Hubbard

http://www.musicomh.com/albums/radiohead-3.htm

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 386 other followers