Archive

Catatan pertunjukan

Paskah kali ini akhirnya aku bisa memenuhi janjiku dengan Pak Anton Mipitapo untuk ikut misa di Hiripau, dan bisa lihat meriahnya perayaan komuni pertama (di sini istilahnya sambut baru).

Sebelum misa Paskah kedua dimulai, sudah banyak orang berkumpul di halaman gereja Santo Mikael Hiripau. Umumnya para orang tua anak-anak yang akan dibaptis. Tidak lama kemudian datanglah beberapa mama-mama datang membawa rok rumbai-rumbai yang akan dikenakan waktu menari. Mereka itu yang kemudian mengiringi ritus pembuka misa saat Romo Teguh maju ke altar.

From Ayuka – Hiripau
From Ayuka – Hiripau

Di saat persembahan, mereka kembali menari mengiringi petugas yang membawa persembahan ke depan. Mama-mama yang datang terlambat dan anak kecil juga ikut menari. Sebagian ikut mengiringi persembahan, sebagian lagi yang duduk di deretan bangku paling belakang. Padahal sebelumnya, baik mama-mama maupun bapak-bapak dan remaja, pada duduk membisu.

Mungkin bagi orang Kamoro, memuliakan Tuhan adalah menjadi satu dengan ritme lagu alam. Melihat mama-mama itu bergoyang, aku jadi ingat riak sungai Wakia dan air payau yang terjebak di akar pohon mangi-mangi (bakau). Liturgi yang didatangkan dari Barat bagi mereka mungkin seperti sungai yang sedang surut airnya.

Aku sendiri dulu paling sering kabur dari gereja. Sampai sekarang aku masih ingat sekali bagaimana Papa menegurku karena aku kabur dari gereja tepat sebelum komuni. Padahal aku baru saja menerima komuni pertama. Bagiku saat itu (dan kadang saat ini juga sebenarnya walaupun sudah semakin jarang), liturgi adalah tirai yang malah memisahkanku dari diriku sendiri dan Tuhan.

Seperti itulah keadaannya di Ayuka. Di kampung yang terletak kurang lebih 10 km dari Mapurujaya ini, misa Sabtu Suci berlangsung dengan aneh. Tidak satu pun petugas misa yang siap dan sepertinya tidak ada satu orang pun di dalam ruangan itu yang ngeh bahwa mereka sedang memperingati kebangkitan Kristus. Entah apa yang membuat bapak-bapak itu mengenakan kemeja batik mereka dan berangkat ke gereja.

Menurut Pak John Nakiaya, penasehat Sekretaris Eksekutif LPMAK dan tokoh masyarakat Kamoro, proses inkulturasi gereja di Mimika memang masih dirasa kurang. Apalagi jika dibandingkan dengan yang terjadi di Asmat, suku yang masih serumpun dengan suku Kamoro. Inkulturasi gereja dengan budaya Asmat membuat orang Asmat merasa menjadi bagian utuh dari gereja dan liturgi, bukan hanya pengisi bangku gereja.

From Ayuka – Hiripau

Untungnya, bagi Romo Teguh, keunikan sifat orang Kamoro di Ayuka tidak membuatnya kapok tapi justru tertantang. Menurut Romo Teguh, pelajaran inkulturasi budaya Mee di dataran tinggi Paniai perlu dikembangkan juga buat orang Kamoro. Romo Teguh merasa tertantang untuk memasukkan unsur-unsur budaya Kamoro dalam liturgi, seperti iringan pukulan tifa.

From Tahbisan Imam

Beruntung sekali aku bisa mengikuti misa pentahbisan Imam pada hari minggu lalu (19 April 2009). Meriah sekali. Kekecewaan karena tidak bisa nonton Karapau di kampungnya Pak Anton di Hiripau agak terobati.

Perarakan dimulai dari halaman SMP St. Bernardus dan berakhir di Katedral Tiga Raja. Jaraknya kira-kira 500 meter. Aku parkir mobil di Gelael di seberang SMP St. Bernardus, yang sudah dipadati beberapa kelompok tari Kamoro. Sementara jalan di depan Gelael ditutup dan diramaikan oleh kelompok kesenian orang Kei.

Perayaan pentahbisan ini memang kental sekali dengan nuansa Kamoro dan Kei. Selain karena dilakukan di Timika, tapi juga karena dua imam yang akan ditahbiskan dari suku Kamoro dan Kei. Sesaat setelah aku sudah di dalam halaman sekolah, di jalan melintas satu mobil pick up mengangkut orang-orang Mee (Ekagi) yang datang jauh-jauh dari kabupaten Paniai. Mereka datang untuk menyatakan rasa hormat kepada orang Kamoro dan Kei yang berkarya di daerah Paniai. Para penari Kamoro sendiri ada yang datang dari Timika dan dari Keakwa, di pesisir timur Mimika.

Kesenian Kamoro ternyata menarik sekali. Ada unsur spontanitas dan vitalitas hidup yang luar biasa di nyanyian-nyanyian mereka. Teriakan pemimpin kelompok sekalipun keras dan lantang sama sekali tidak menyiratkan agresi. Tarian mama-mama membuat banyak orang di pinggir jalan dan para fotografer jadi ikut bergoyang (untungnya saya cukup tahu diri untuk tidak ikutan goyang, hehe).

Formasi tari mereka seperti ini; para penari dibagi dalam empat lajur, dua lajur di bagian dalam adalah para pria yang membawa panah menyanyi dan menari lalu sesekali berhenti dan merapat ketika terompet bambu ditiup. Sementara para mama-mama berada di dua lajur terluar. Gerakan para mama-mama ini lebih rancak dibandingkan gerakan para penari pria. Di belakang para penari itu para imam yang bertugas di seluruh daerah Keuskupan Timika berjalan berarakan. Paling belakang adalah Bapa Uskup Mgr. John Philip Saklil.

Jalanan lurus itu berujung di sebuah pertigaan. Di sana sudah menanti kelompok tari orang Mee dan orang Kei.  Para umat di gereja yang mungkin sudah kepanasan dan bosan menunggu di gereja atau mungkin penasaran mendengar keributan di luar, berhamburan keluar gereja dan membuat pertigaan di depan Katedral Tiga Raja jadi ramai sekali. Terakhir kali aku melihat pertigaan itu ramai adalah ketika orang Kei bentrok dengan polisi pada awal tahun 2009. Tuhan memang cinta Papua. Tempat yang pernah bersimbah darah itu kini disiram kemeriahan kasihNya.

Setelah itu barulah para penari memberi ruang pada dua imam yang akan ditahbiskan dan rombongan imam Keuskupan Timika memasuki Katedral. Para imam yang akan ditahbiskan adalah P. Joseph Ikikitaro, Pr dari Keakwa dan P. Samuel.

Misa berlangsung seperti biasa sampai pada bagian pentahbisan. Banyak sekali orang yang ingin jadi fotografer, mulai dari yang fotografer resmi gereja sampai yang fotografer modal kamera hape. Tapi anehnya tidak nampak banyak fotografer amatir yg membawa kamera SLR. Padahal setahuku di Timika dan Kuala Kencana ada banyak penggemar fotografi. Mungkin mereka lebih suka motret kupu-kupu daripada manusia. Aku sendiri jadi jengah saking banyaknya orang yang pengen motret. Untung aku baru dapat lensa Tamron 18-200mm. Tidak perlu mondar-mandir dan bisa tenang mengeksplorasi angle mana yang menarik. Lagipula aku datang bukan sebagai fotografer tapi sebagai umat dan warga Timika.

Dalam posisi itulah aku mengikuti acara sampai siang hari. Ketika orang-orang Mee membawakan tarian mereka, yang sempat membuat para polisi ketar-ketir karena dikira orang marah. Hehe.

Foto-foto acara pentahbisan imam Keuskupan Timika bisa dilihat di sini.

Setelah beberapa hari disuguhi seni pertunjukan, seperti tari hip hop Etha Dam dari Prancis dan Acapella Mataraman dari Yogyakarta yang cukup menghibur, akhirnya sempat juga nonton acara Festival Seni Surabaya (FSS) 2008 yang berbau sastra. Judulnya pembacaan puisi lima penyair Jawa Timur dan pementasan musikalisasi puisi Sosiawan Leak dan Temperente (Solo).

Agak bingung juga benernya, mana yang lebih utama; para penyair Jawa Timur (yang kok ya cuma lima orang itu) atau Sosiawan Leak dan Temperente.

Seingat saya, Sosiawan Leak ini selalu mengusung tema-tema sosial dalam karyanya. Sekalipun lama sekali tidak baca puisinya dan melihat pementasannya, saya masih ingat bagaimana sosoknya. Sekilas mirip Ki Joko Bodo. Hehe…Sori ya Mas Leak kalau kebetulan sampean nemu tulisan goblok ini.

Belum lama berselang, milis apsas yang saya ikuti sempat diramaikan dengan posting mengenai FSS 2008. Soal FSS yang kekurangan dana saya sudah dengar, tapi soal FSS jadi semacam satelitnya Teater Utan Kayu, nah itu yang menyedihkan. Lebih menyedihkan lagi karena diskusi soal itu jadi satu dengan posting soal lima penyair Jawa Timur yang entah apa yang akan mereka lakukan. Tidak jelas apakah akan meluncurkan buku, membacakan manifesto kepenyairan, atau sekedar lima penyair yang tinggal di Jawa Timur dan akan membacakan karya-karyanya.

Kenapa menyedihkan? Ya karena sudah cuma lima orang, dari Surabaya semua, tapi masih saja ditambahi tuduhan jadi satelitnya TUK.

Entah karena alasan apa, aku menyalin seluruh posting mengenai FSS 2008 dan menyimpannya di komputer. Mungkin cuma untuk klangenan saja. Biar terlihat seperti komputernya orang yang suka nulis lah, nyimpen dokumen begituan.

Sama tidak jelasnya seperti ketika akhirnya saya tiba di pelataran Balai Pemuda; sepi tidak banyak orang. Di loket pembelian tiket baru saya temukan jawabannya, dari setumpuk buku kumpulan puisi berjudul “Rumah Pasir”. Dari fisik buku langsung terasa bahwa itu adalah buku cetak digital. Para sukarelawan yang menunggu loket rupanya lupa (atau mungkin tidak tahu) bahwa malam ini adalah acara peluncuran buku ini, seperti dugaan saya. Tumpukan buku itu dibiarkan masuk angin di meja penjualan tiket.

Di depan pintu masuk sempat ngobrol dengan Gus Yus. Dia ga tahu tentang titikoma.com. Bahkan tandabaca.com juga ga tahu. Kok bisa, ya. Padahal dulu aku pernah minta dia kirim tulisan.


Tak lama kemudian Ragil mengajak kami untuk masuk. Pertunjukan akan segera dimulai.

Acara kemudian dibuka dengan pembacaan salah satu puisi dari buku kumpulan puisi itu. Setelah itu pembawa acara baru mengumumkan penampilan Temperete.


Usai satu komposisi yang cukup rancak, kembali pembawa acara mempersilahkan penyair lain membacakan karyanya. Kali ini giliran F Aziz Manna. Setelah itu balik lagi ke penampilan Sosiawan Leak dan Temperente.


Jika para penyair Jawa Timur menampilkan sajak-sajak ”gelap” dan ”apokaliptik” seperti yang ditulis oleh kurator kumpulan puisi tersebut, Arief Bagus Prasetyo, maka Sosiawan Leak melemparkan spontanitasnya; kata-kata semburat keluar dari lambungnya, yang mungkin sudah begitu enek dengan keadaan Indonesia sekarang.


Sayangnya penonton mungkin juga enek dengan kontras nuansa yang dibawa lima penyair Jatim dan Sosiawan Leak. Atau mungkin datang untuk nonton lima penyair Jatim, terutama setelah datang ke acara diskusi buku mereka di siang harinya. Sosiawan Leak dan Temperente dua kali meninggalkan panggung dengan tepuk tangan penonton yang sayup-sayup.


Mungkin karena itu di akhir pertunjukan, Sosiawan Leak menyindir ”para penyair” yang bisa jadi bagian dari ”tikus” yang menggerogoti Indonesia, yang memilih jadi ”manusia modern” yang semata-mata menganggap ketidakadilan sebagai bagian dari kenyataan yang harus diamini sambil berteriak keras dalam ruang hampa absurditas.

Baik Sosiawan Leak dan para lima penyair Jatim akhirnya pulang sendiri-sendir begitu saja. Tidak ada dialog. Sama seperti penonton, yang keluar mendapati pelataran Balai Pemuda yang lengang, dan memilih untuk pulang ketimbang menjadi bagian dari kerumunan yang gamang.

Kerumunan yang sebenarnya menantikan pengumuman sebuah ”proyek puitik” yang akan ”menebus sang kota dari kejatuhannya yang fatal di panggung sejarah” (Lima Penyair Jatim; Rumah pasir, Hal. 172). Proyek ini yang mestinya ditempel di punggung buku, ketimbang Semacam manifesto atas religiusitas lubang hitam para penyair Jawa Timur.

Ada yang sedang dirayakan di dalam buku itu, tapi entah apakah para penyair itu benar-benar berniat membaginya.

 

Setahun yang lalu, kalau tidak salah, aku terakhir melintasi jalan tol Waru-Gempol. Pemandangannya sama persis seperti yang kamu ceritakan: hamparan sawah nan hijau, desa-desa dan pabrik yang saling berjabat tangan, dan Gunung Semeru yang anteng duduk memangku semua dunia mimpi orang Jawa.

Aku sungguh sangat takjub melihat Semeru. Gunung Merapi yang biasa aku lihat dulu setiap berangkat kerja rasanya tidak ada apa-apanya. Bedanya, Merapi terlihat cantik sekali karena dari Jalan Monjali (sekarang namanya jadi Jalan Nyi Tjondrokilo), kalau cuacanya cerah, kamu bisa melihat bibir kawah Gunung Merapi. Melihat hal itu mungkin kamu akan merasa bahwa alam memiliki hak istimewa untuk membunuh manusia. Perasaan yang sama kalau kamu melihat laut yang luas dan tenang.

”Di balik sawah dan desa itu ada banyak candi,” katamu.

“Oh ya? Candi apa aja?” Tanyaku.

 

Bukannya menjawab, kamu malah membuka kaca dan memintaku mematikan AC mobil. Lalu memintaku mencarikan korek dan membuatku repot karena harus mencari korek di panel pintu sedangkan saat itu aku harus mengemudikan mobil. Setelah mendapatkan korek, kamu membuka sebungkus rokok, mengambil sebatang dan menyalakannya, kemudian memegang leherku, dan menciumku. Dulu kita kayaknya sering banget ya jalan-jalan, ke Malang, Porong, Pasuruan. Sampai sekarang aku masih belum sempat beli es campur (atau es teler?) dan bakso yang enak banget di Pasuruan.

Sekarang ini mungkin akan bilang bahwa peristiwa itu tidak layak dikenang. Kamu mungkin akan marah membaca tulisan ini. Tapi yah, emang siapa kamu, bisa ngelarang aku nulis.

Gara-gara Lumpur Lapindo, sekarang rute dari Surabaya ke Malang tambah jauh. Mungkin kamu sudah tahu kalau sekarang tidak bisa lewat jalan tol, tapi lewat ”bawah”, lewat Porong atau bahkan malah lewat Mojokerto-Mojosari. Jalan dari Gempol ke Lawang masih mulus seperti dulu. Empat lajur. Luas seperti di luar negeri.

Setahun yang lalu aku melalui jalan raya yang luas itu dengan perasaan yang sesak. Waktu itu jalan tol masih buka, sekalipun hanya satu lajur saja yang dibuka. Lumpur sudah terlihat mengganas. Dulu aku kira bukit-bukit gundul yang biasa aku lihat di Lawang adalah pemandangan yang paling membuat miris. Ternyata ada pemandangan lain yang membuatku merasa hancur lebur, yaitu pemandangan lumpur yang menelan sawah dan desa yang aku lihat di jalan tol.

Bagaimana ya rasanya kehilangan rumah, sekolah, atau sawah, dalam waktu yang singkat. Mungkin perasaan para korban Lumpur Lapindo sangatlah kacau. Mereka bukan korban bencana alam, seperti korban Gempa Yogya & Jateng dan Aceh. Mereka adalah korban kebodohan industri, yang mengira dengan membuat program CSR yang seadanya sudah bisa membuat industri menjadi berguna bagi masyarakat sekitar.

Dari Anis, temanku yang melakukan pendampingan korban Lumpur Lapindo, banyak ibu-ibu dan remaja putri yang sekarang terancam masuk ke dunia prostitusi. Ibu-ibu dan remaja putri yang kehilangan tempat bekerja dan sekolah mereka kini menganggur, dan mungkin sudah ada beberapa yang mengiyakan ajakan para germo dari Dolly atau Tretes.

Beberapa waktu lalu aku sempat mimpi buruk. Ada sosok mengerikan yang (semoga bukan) agak nampak seperti kakekku. Mungkin aku kurang berdoa untuk dia dan karena tidak pernah menyambangi makamnya selama dua tahun terakhir ini. Aku harus ke Malang. Kamu mau ikut?


berikut adalah kutipan dari catatan perjalanan mas beng rahadian di blognya, yang kalo ga salah dulu pas diskusi komik di aky dia pernah datang:

Coffee morning with Seno Gumira Ajidarma
Kantin Petra, 10 Maret,
Dari keseluruhan acara PKN ini, gue ngasih highlight buat Jum’at 10 Maret pagi. Seno yang datang dari Jakarta kepagian itu langsung dibawa panitia ke dikantin, Gue, Alpie dan Injun dah sengaja bangun pagi nongkrong di kantin untuk nungguin Seno. Seno dijadwalkan ngisi acara seminar komik jam 10.30. Asyik banget.. semua obrolan keluar dari masalah komik Indonesia sampai kopi Vietnam, akhirnya obrolan harus berhenti karena kita harus menuju ruang seminar. Seminar nya sih boring banget karena peserta yang pasif dan acara harus dihentikan karena gedungnya mau dipake buat presentasi apartemen mahasiswa, aneh banget ya… kata Seno.. wah kalo di UI bisa marah tuh audience diskusi dihentikan tengah jalan. Kesimpulannya sih, diskusi 1 setengah jam bersama Seno pagi tadi lebih berbobot daripada seminar yang harus bayar 80.000 itu.

mas beng, begini ya, yang namanya petra itu kalo ada acara yang ga ada hubungannya dengan karya ilahi yesus kristus dan semua kerabatnya dijamin bakal digusur2 seperti itu. ga peduli siapa pembicaranya.

dulu kalo ga salah sastra juga pernah bikin acara ngundang seno gumira dan perlakuan terhadapnya jauh lebih manusiawi.

kok bisa nyambung dengan curhatku sebelumnya. jangan2 petra lagi kangen sama aku.


Ajakan Ari sungguh susah ditolak, sama susahnya dengan menolak ajakan piknik ke Pantai Baron dari Mbak Fitri dkk. Ari mengajakku menonton “konsernya ‘Tika’, ‘Sore’, dan ‘Pure Saturday’ di universitas veteran. Jam 6. gratis.” Begitu sms yang dia kirim dari Solo.

Kedua ajakan tulus tersebut bertabrakan dengan jadwal kegiatan yang sudah aku rancang untuk akhir minggu yang panjang kemaren (Libur Jumat Agung).
Akhirnya, karena pertimbangan waktu dan ketepatan jadwal yang aku buat, ajakan piknik Mbak Fitri dkk dengan terpaksa tidak bisa aku ikuti karena bertepatan dengan agendaku pada hari Kamis. Sedangkan ajakan Ari bisa aku terima karena hanya selisih tiga jam sebelum agendaku pada hari Sabtu.

Dari beberapa band yang kami tonton, hanya ada dua band yang membuatku menyempatkan waktu untuk menuliskan catatan kecil.

Dalam catatan kecil ini, aku tidak bicara soal kemampuan teknis. Karena untuk itu aku yakin sudah banyak orang yang melakukannya dan aku pikir kemampuan bermusik band-band Indonesia sudah cukup bagus, sama bagusnya aku pikir dengan band-band dari Barat yang mereka tiru. Cukup beruntunglah kita memiliki kebudayaan yang menghargai musik.

Sesuai dengan judul tulisan ini, aku berharap pembaca tulisan ini –jika kebetulan namanya tersangkut atau band favoritnya tersebut– tidak terburu-buru menyimpulkan sesuatu mengenai tulisan ini atau diri saya. Dalam setiap konser musik, wajar adanya kita lihat segerombol orang yang duduk di pojok terjauh dan mencaci-maki walau tidak sambil berteriak-teriak. Atau lebih kerennya, wajar kita lihat ada catatan dari “kritikus” atau “pengamat” yang membuat banyak pihak terganggu.

1
Amarah Sesat “Six Seek Sick.”

Band ini sudah lama mencuri perhatianku. Kalau tidak salah pada tahun 2000 aku main ke Yogya dan membeli album mereka. Kesan pertama yang didapat dari band ini adalah mendengarkan Sonic Youth yang menyanyikan lagu-lagu mereka dalam bahasa Inggris kelas imigran, mulai dari imigran-imigran yang tinggal di East End-London atau di tempat penampungan sementara imigran (aku lupa namanya) di Darwin.

Dalam penampilan mereka yang aku lihat kemaren atas ajakan Ari, ternyata penampilan band dari Yogya ini lumayan sip. Ada amarah dalam musik mereka. dan ternyata mereka lebih mirip Manic Street Preacher daripada Sonic Youth. Apalagi basisnya, yang seringkali mencuri perhatian penonton dengan aksi-aksi gilanya: mulai dari memukul-mukul kepalanya di antara jeda rip gitar, menaiki bass drum, dan memukul simbal dengan kedua genggaman tangannya. Lumayan orisinil.

Dari semua lagu yang mereka bawakan itu, tidak satupun yang aku tahu judulnya. Mungkin dari rilis terbaru mereka yang tidak termasuk dalam album yang aku beli dulu itu.

Pada lagu ketiga, vokalisnya menyatakan bahwa melalui lagu itu mereka ingin mengingatkan para pendosa akan api dan siksa “neraka”. Bah. Murahan banget. Kalau Cuma pengen nulis hal murahan seperti itu biarkan saja para preman berselubung agama yang Cuma mikir kontol dan bawuk itu atau tukang ceramah karbitan yang necis-necis di TV itu yang melakukannya. Bah…Asu!! Jancuk…

Seketika itu aku menaruh kasihan dengan amarah yang mereka tampilkan sejak lagu awal mereka. Ternyata mereka tersesat. Aku tidak jadi minta stiker mereka ke si Tuwek, yang ternyata sekarang manajer Seek Six Sick. Dan dengan perasaan datar aku hapus satu lagu Seek Six Sick dari satu berkas berisi penuh mp3 beberapa band “indie” lokal.


2
(Not so) Pure Saturday

Aku datang tepat saat Pure Saturday (disingkat PS saja) membawakan lagu mereka. Ari, yang berdiri lima meter sebelah kanan mengajakku untuk maju ke depan. Dalam perjalanan menembus beberapa gerombolan orang, akhirnya aku bisa melihat band dari Bandung itu dengan jelas.

Aku masih kelas II SMA saat pertama kali aku mendapatkan album PS dari Yohanes. Dan langsung jatuh suka, apalagi setelah melihat klip mereka yang sederhana itu. Kalau tidak salah itu adalah klip “Coklat.” Setelah aku kembalikan kaset milik Yohanes itu, aku beli sendiri album PS untuk aku dengarkan hampir setiap hari sepulang sekolah sambil ngerokok di kamar.

Begitu ketemu Ari dan melihat PS dari dekat, setelah sekian lama mendengarkan lagu-lagu mereka, aku agak kaget. Berdiri sebagai vokalis adalah Satrio si editor Ripple. Sedikit catatan tentang kekagetan ini adalah sebagai berikut:

Si vokalis yang mantan manajer PS sendiri itu membawakan lagu-lagu PS dengan penuh kesadaran bahwa lagu-lagu PS adalah lagu-lagu yang enak dan memiliki sejarah yang lebih panjang dibanding lagu-lagu dari band-band lain yang manggung saat itu. Aduh. Sejak kapan mereka jadi ngartis seperti itu. Apalagi dengan aksi bagi-bagi stikernya. Satrio juga terlihat lebih pantas jadi vokalis sebuah “tribute band”, yang khusus menyanyikan lagu-lagunya Dave Matthews Band: dia sudah terlalu tua untuk membawakan lagu-lagu PS (terutama dari album-album lama PS).

Sebuah pengecualian untuk “Elora”. penampilan Satrio cukup bagus. Di album terbaru di mana Satrio jadi vokalis PS, ada kesempatan bagi PS untuk bisa menemukan kembali “soul”nya.

Lepas dari catatan itu, PS yang sekarang ternyata masih PS yang aku dengar dulu, sekalipun tidak terlalu “pure” terlebih dengan digantikannya posisi vokalis mereka dengan vokalis berjiwa manajer itu. dan kayaknya Satrio lebih cocok untuk jadi manajer. Dengan cara itu toh dia masih bisa menyanyi sesekali di pesta-pesta kecil atau jadi additional player. Dalam karir musik, rasanya dia lebih pantas membuat band sendiri tanpa membawa-bawa nama PS.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 386 other followers