Archive

Musik

From Tahbisan Imam

Beruntung sekali aku bisa mengikuti misa pentahbisan Imam pada hari minggu lalu (19 April 2009). Meriah sekali. Kekecewaan karena tidak bisa nonton Karapau di kampungnya Pak Anton di Hiripau agak terobati.

Perarakan dimulai dari halaman SMP St. Bernardus dan berakhir di Katedral Tiga Raja. Jaraknya kira-kira 500 meter. Aku parkir mobil di Gelael di seberang SMP St. Bernardus, yang sudah dipadati beberapa kelompok tari Kamoro. Sementara jalan di depan Gelael ditutup dan diramaikan oleh kelompok kesenian orang Kei.

Perayaan pentahbisan ini memang kental sekali dengan nuansa Kamoro dan Kei. Selain karena dilakukan di Timika, tapi juga karena dua imam yang akan ditahbiskan dari suku Kamoro dan Kei. Sesaat setelah aku sudah di dalam halaman sekolah, di jalan melintas satu mobil pick up mengangkut orang-orang Mee (Ekagi) yang datang jauh-jauh dari kabupaten Paniai. Mereka datang untuk menyatakan rasa hormat kepada orang Kamoro dan Kei yang berkarya di daerah Paniai. Para penari Kamoro sendiri ada yang datang dari Timika dan dari Keakwa, di pesisir timur Mimika.

Kesenian Kamoro ternyata menarik sekali. Ada unsur spontanitas dan vitalitas hidup yang luar biasa di nyanyian-nyanyian mereka. Teriakan pemimpin kelompok sekalipun keras dan lantang sama sekali tidak menyiratkan agresi. Tarian mama-mama membuat banyak orang di pinggir jalan dan para fotografer jadi ikut bergoyang (untungnya saya cukup tahu diri untuk tidak ikutan goyang, hehe).

Formasi tari mereka seperti ini; para penari dibagi dalam empat lajur, dua lajur di bagian dalam adalah para pria yang membawa panah menyanyi dan menari lalu sesekali berhenti dan merapat ketika terompet bambu ditiup. Sementara para mama-mama berada di dua lajur terluar. Gerakan para mama-mama ini lebih rancak dibandingkan gerakan para penari pria. Di belakang para penari itu para imam yang bertugas di seluruh daerah Keuskupan Timika berjalan berarakan. Paling belakang adalah Bapa Uskup Mgr. John Philip Saklil.

Jalanan lurus itu berujung di sebuah pertigaan. Di sana sudah menanti kelompok tari orang Mee dan orang Kei.  Para umat di gereja yang mungkin sudah kepanasan dan bosan menunggu di gereja atau mungkin penasaran mendengar keributan di luar, berhamburan keluar gereja dan membuat pertigaan di depan Katedral Tiga Raja jadi ramai sekali. Terakhir kali aku melihat pertigaan itu ramai adalah ketika orang Kei bentrok dengan polisi pada awal tahun 2009. Tuhan memang cinta Papua. Tempat yang pernah bersimbah darah itu kini disiram kemeriahan kasihNya.

Setelah itu barulah para penari memberi ruang pada dua imam yang akan ditahbiskan dan rombongan imam Keuskupan Timika memasuki Katedral. Para imam yang akan ditahbiskan adalah P. Joseph Ikikitaro, Pr dari Keakwa dan P. Samuel.

Misa berlangsung seperti biasa sampai pada bagian pentahbisan. Banyak sekali orang yang ingin jadi fotografer, mulai dari yang fotografer resmi gereja sampai yang fotografer modal kamera hape. Tapi anehnya tidak nampak banyak fotografer amatir yg membawa kamera SLR. Padahal setahuku di Timika dan Kuala Kencana ada banyak penggemar fotografi. Mungkin mereka lebih suka motret kupu-kupu daripada manusia. Aku sendiri jadi jengah saking banyaknya orang yang pengen motret. Untung aku baru dapat lensa Tamron 18-200mm. Tidak perlu mondar-mandir dan bisa tenang mengeksplorasi angle mana yang menarik. Lagipula aku datang bukan sebagai fotografer tapi sebagai umat dan warga Timika.

Dalam posisi itulah aku mengikuti acara sampai siang hari. Ketika orang-orang Mee membawakan tarian mereka, yang sempat membuat para polisi ketar-ketir karena dikira orang marah. Hehe.

Foto-foto acara pentahbisan imam Keuskupan Timika bisa dilihat di sini.

Menurutmu salah apa kalo aku tahu-tahu suka dengerin Peter Pan? Ada yang orisinil dengan lagu mereka yang judulnya “Di Balik Awan”.

Sebentar Nana, aku tidak mengajak ngobrol soal orisinalitas. Kamu sudah cukup menguliahi aku soal orisinalitas, tidak ada yang orisinil sekarang, sejak dulu orang orang Romawi sudah bilang nihil nova sub sole, tidak ada yang baru di bawah matahari. Tapi kalau di bawah matahari yang kamu maksud itu (ini aku simpulkan dari omonganmu sendiri, lho) adalah relasi antar manusia di bawah berbagai “matahari” (hukum yang berlaku, hukum apa pun itu), maka bagaimana kalau “di balik awan”, seperti katanya Ariel? Maksudku bagaimana kalau ada sesuatu yang tercipta dari relasi yang terjadi di dalam dirinya sendiri.

Kamu sendiri yang pernah bilang kalau ada ahli genetika dari Johns Hopkins University yang setiap hari kerjaannya cuma ngurusin kromosom dan gen bilang bahwa tidak ada satu pun manusia di dunia yang benar-benar mirip.

Mungkin saat Ariel, atau siapa pun yang nulis lirik Di Balik Awan, dia benar-benar menulis dari dirinya atau membicarakan kebenaran tentang dirinya dan tanpa harapan apapun selain hendak berbagi dengan dunia, bahwa “semua yang kuinginkan, menjauh dari kehidupan…” Perkara baris lanjutannya adalah penyebab radang telinga atau berbagai jenis gangguan THT lainnya aku juga setuju. Industri yang bikin seperti itu, atau dalam proses selanjutnya si penulis gagal menyuarakan kebenaran dari dalam dirinya, atau mencoba memadukannya dengan kebenaran industri; uang broer! duit, fulus, taim is mani, time is money; matane suwek, taim is taim, time is time, waktu ya waktu; uang itu urusanmu sama semua cicilan barang-barangmu.

Hah, lega. Makanya jangan suka hapus MP3 orang sembarangan. Toh, cuma ada dua lagunya Peter Pan di komputerku.

Maaf ya, Nana. Kamu sudah gosok gigi? Oh ya, ikat rambutmu ketinggalan di kamarku. Besok kalau mau ambil telepon dulu aja. Aku mungkin masih belum pulang jam segitu. Dan ingat, jangan main hapus MP3.


Akhirnya terbukti bahwa Radiohead tidak tenggelam dalam keanehan mereka sendiri atau menyibukkan diri dengan kegiatan selain bermusik. Mereka masih mampu main musik.

Album baru Radiohead ini bertajuk In Rainbows. Aku baru mendengarkan lagu-lagu dari CD 1 dari salah seorang personil Bina Elektronika Grup. Lagu-lagu dari CD 2 belum bisa didengarkan. Harganya cukup bisa bikin kita “high and dry”, 170-an ribu dan baru akan beredar 3 Desember nanti.

Berikut ini daftar lagu dari In Rainbows:

CD 1 and Vinyl
Bodysnatchers
Nude
Weird Fishes/Arpeggi
All I Need
Faust Arp
Reckoner
House Of Cards
Jigsaw Falling Into Place
Videotape

CD 2
Mk 1
Down Is the New Up
Go Slowly
Mk 2
Last Flowers
Up On The Ladder
Bangers And Mash
4 Minute Warning


frank_zappa
Originally uploaded by absolute onie.

pada tahun 1965, zappa masih tinggal di cucamonga, daerah rural amerika. dalam keadaan bangkrut, dengan pacarnya dan beberapa temannya zappa mengelola sebuah studio rekaman dan kerap tampil di klub-klub di kota terdekat dari cucamonga.

harap maklum, cucamonga adalah tipikal kota tahun 60-an amerika serikat yang kental budaya kekolotannya (dan bisa jadi sampai sekarang). kurang lebih sama dengan gambaran kota salt lake city di film slc punk.

entah dengan alasan apa, zappa berniat membuat sebuah film sains fiksi. dibelinya sebuah flat seharga $50 dan membuka audisi.

selain warga cucamonga, yang tertarik dengan audisi ini adalah pihak kepolisian cucamonga. salah satu anggota mereka, sersan detektif jim willis ikut audisi untuk peran senator gurney (yang menurut zappa sendiri adalah peran bajingan).

selain ikut audisi, pak willis tadi juga menawari zappa untuk membuat rekaman film untuk pesta pribadinya. zappa tidak tahu bahwa si willis itu adalah detektif yang biasa disewa polisi untuk menjebak orang.

singkat cerita, zappa setuju dngan tawaran willis. imbalan $100 tentu cukup mengiurkan bagi orang dengan kondisi finansial seperti zappa.

zappa tidak menyadari bahwa dirinya dan komunitas musiknya digolongkan sebagai musuh masyarakat.

akhirnya, malam harinya, zappa dan pacarnya (lorraine) merekam suara-suara orang yg lagi ml. caranya? bukan dengan ml beneran,tp cuma menggoyang2 ranjang mereka dan membuat suara-suara nan saru.

esok harinya, willis muncul membawa uang imbalan. pas saat transaksi berlangsung, polisi dan wartawan muncul dan langsung menangkap zappa.

atas bantuan beberapa teman,zappa dan lorraine bisa dikeluarkan dari tahanan. tapi proses pengadilan yang panjang menunggu mreka. di media massa, citra zappa dan lorraine sudah duluan dihukum.

sejak itu zappa tidak pernah lagi mempercayai sistem pemerintahan amerika serikat dan jargon “american way of life”.

bukannya mengubur dalam2 kenangan buruknya, zappa memastikan bahwa rekaman suara oral seks itu terdengar di setiap albumnya, membasahi masyarakat amerika serikat dan kebudayaannya yang dangkal dan munafik.

dilahirkan dari keluarga imigran italia di amerika, zack sama sekali ga pernah kepengen jadi musisi rock. dia malah pengen komposer musik klasik.

sejak tahun 1966 hingga tahun 2003, zappa teah menghasilkan 71 album. gila. anehnya banyak orang ga ngerti mas yang satu ini.

coba saja dengarkan album zappa seperti; sheik yerbouti, hot rats, atau strictly commercials. dan tentukan; who’s imitating who.

straylight run

straylight run

everybody please welcome eastbarrack‘s artist of the month: straylight run.
band ini didirikan pada september 2003 oleh john nolan dan shaun cooper. beberapa kritik mengatakan bahwa genre band ini termasuk “piano-rock”. nah does saybia (atau rush juga mungkin)anything to do with this kind of genre?. aku sendiri juga ga tau apa itu piano rock. mungkin karena keyboard punya peran penting di band-band kayak gini.
sedangkan saya sendiri selaku pengurus eastbarrack (selain koh lalat hijau) baru tahu band ini dari mtv. waktu itu lagunya judulnya: existentialism on prom night. and here’s some of the lyrics from thats songs.

Sing me something soft,
Sad and delicate,
Or loud and out of key,
Sing me anything,
we’re glad for what we’ve got,
Done with what we’ve lost
Our whole lives laid out right in front of us,

lirik lebih jelas dan lagunya bisa didownload di situs resmi mereka. atau mungkin juga di situs yang dibuat para fans mereka.

damn. why cant those words be mine? bener juga kata vero di novelnya, kalau mulutmu sudah terkunci dan kata-kata seolah dicuri. di zaman ini susah jadi orisinil. makanya aku biasanya nggak nulis dan membiarkan lirik-lirik dari beberapa band mewakili perasaanku. dan beberapa puisi dari beberapa penulis tentunya.

olu

oya, koh, kenapa ya aku mendadak pengen dengerin boy george?
karma karma karma karma karma
chameleon

* gimana sih cara posting gambar?

RADIOHEAD singer THOM YORKE is pictured here covered in chocolate for a new OXFAM campaign.

He joins a host of stars including Chris Martin, Jamelia and Michael Stipe for the new series of ‘Ever Felt Dumped On?’ photographs to raise awareness for its ongoing Make Trade Fair campaign to reverse the crippling inequalities in the international farming trade.

All the shots, in which a celebrity is covered in foodstuffs, illustrate the plight of farmers who are systematically ‘dumped on’ by rich countries.

Yorke said: “How sweet does your chocolate taste when you know the producer in a country you will never see did not even get paid enough to feed his family? How sweet does it taste when you see the amount of profit a few multinational corporations make on it?

“How sweet does it taste, exactly, to know our own governments prevent these countries from ever getting off their knees and from ever being able to compete and get PAID, erecting barriers and then DUMPING on them from a great height whilst feigning concern? How delicious is it to know that sweet taste in your mouth is one of slavery, a nice new economic model?

“As it melts in your mouth, how sweet does your chocolate taste, now you know the suffering that it took to get to you?”

Other pictures in the campaign see Chris Martin covered in rice, Colin Firth showered in coffee, and corn raining down on Antonio Banderas. To see them all, and to learn more about the campaign, visit www.maketradefair.com.

http://www.nme.com/news/110667.htm


Ranu, akhir-akhir ini aku suka mendengarkan lagu dengan judul di atas. Yang nyanyi band entah dari mana bernama manis; king of convenience. Kalau kamu sudah pernah melihat video klipnya, aku tidak perlu menggelar cerita panjang di sini tentang bagaimana jalan cerita di video klip itu.

Bagaimana?

Sudah pernah? Lagi makan? Ya udah, aku certain lagi aja.

Di situ ditampilkan seorang pria yang rupanya punya hobi menari. Tapi tariannya buruk sekali. Tapi dia cinta sekali dengan tariannya, ditunjukkan ke semua orang caranya menari.

Kamu masih ingat kan cara pepen menari? Seperti itulah kurang lebih.

Suatu saat dia menunjukkan tariannya itu ke sebuah grup balet yang terdiri dari anak-anak perempuan. Awalnya dia ditertawakan, tapi berkat usaha kerasnya, anak-anak itu malah dengan riang mengikuti tarian itu. Bahkan ketika grup balet itu membawakan tarian baru mereka di depan penonton, ternyata para penonton menikmatinya.

Mungkin seperti itu seharusnya menari, melepaskan sejujurnya getaran-getaran yang sepanjang hari kita ikat rapat di antara otot-otot kita. Balet memang bagus, kamu tahu kan aku dulu pernah kursus balet, tapi di balik kesempurnaan gerak ada sisi diri kita yang bersembunyi sambil menangis. Sisi purba diri kita. Atau kalau dalam kata-katamu, sisi kanak-kanak manusia. Bersikap jenaka tanpa terlihat konyol, menjadi riang dengan alasan yang sederhana sekali, merayakan naik-turun kehidupan tanpa berharap banyak.

Raka, jangan marah ya, aku jadi berpikir; I’d rather dance than talk with you. Kamu memang terlihat manis kalau sedang bicara, tapi aku yakin kamu akan terlihat semakin manis jika sedang duduk diam di tepi sebuah pantai di pesisir selatan Jawa Timur. Mungkin itu di Grojogan, Watu Ulo, atau Ngliyep.

Sstt, ini rahasia; aku sudah lupa apa yang aku tulis tadi.

Besok ke kantor jam berapa? Jangan lupa bawa hasil Needs assessment dari pak Jarwo.

Keiko

There was nothing to fear and nothing to doubt.
You are Pyramid Song…You’re kinda gloomy, but in
a beautiful way. A bit old-fashioned, but who
cares? Materials don’t matter cos you are who
you are…and that’s what really matters.

What Radiohead Song are you?
brought to you by <a href=”

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 386 other followers