Archive

Tentang kota

“In 1955, Lefebvre warned how’d we lost Rabelais’s laughter. And in losing it, he said, we’ve lost a big part of our cultural heritage, even lost a weapon in our revolutionary arsenal.”

Andy Merrifield

Henry Lefebvre, penulis kiri dari Prancis ini awalnya tidak terlalu menarik perhatianku. Mengeja namanya saja aku kesulitan. Sama sulitnya seperti mengeja merk parfum Bvlgari.Aku membayangkan membaca buku Lefebvre akan seperti membaca tulisan Louis Althusser atau Walter Benjamin yang terlalu berat bagi otakku yang pas-pasan ini.  Dari Althusser, hanya penjelasan soal ISA (Internal State Apparatus) yang bisa aku cerna. Lainnya kebanyakan aku lupa atau memang tidak paham sama sekali.

Tapi setelah aku ingat kembali, ternyata aku tidak pernah membaca buku pengantar masuk ke alam pikiran Louis Althusser. Aku langsung masuk ke rimba raya pemikiran Althusser, dan mendapati diriku tersesat di dalam halaman-halaman beberapa buku Althusser yang aku unduh dari internet.

Dengan Lefebvre ini agak berbeda ceritanya. Aku memilih membaca buku pengantarnya sebelum membaca karya-karyanya. Padahal, judul buku Lefebvre banyak yang terdengar seksi dan terkesan ringan, misalnya; Critique of Everyday Life dan Production of Cities. Buku pengantar masuk ke alam pikiran Lefebvre yang aku temukan judulnya “Henry Lefebvre; A Critical Introduction” yang ditulis oleh Andy Merrifield.

Sebagai seorang pemikir kiri, Lefebvre ini agak beda. Seperti kata Merrifield, Lefebvre ini “terlalu komunis untuk disebut sebagai seorang romantis, tapi juga terlalu romantis untuk disebut sebagai seorang komunis.” Hehe. Dan memang terbukti di tulisannya Lefebvre. Penulis Marxis mana yang akan mengutip Ulysses-ny James Joyce atau konsep kehidupan Dionysiac yang sangat berbau Nietzche itu?

Merrifield melacak keanehan cara berpikir Lefebvre hingga ke kampung halaman Lefebvre di Pyrennes- Atlantique di Prancis Selatan, daerah orang Basque. Kebudayaan orang Basque sangat unik. Takut sekali dengan dosa, tapi juga tukang pesta. Lefebvre meyakini, bahwa festival adalah saat di mana manusia terlepas dari semua identitas yang ditimpakan kepadanya.

Tanpa sebuah penelitian yang muluk-muluk, kita bisa melihat hal ini, terutama di kebudayaan Latin. Lihatlah bagaimana orang-orang dari berbagai kalangan diuber-uber banteng di Spanyol atau joget-joget di jalanan di Brazil. Kalender di Indonesia sendiri sebenarnya banyak diwarnai hari festival perayaan ini dan itu, tapi sepertinya akhir-akhir ini kita semakin jadi bangsa yang serius dan bermuram durja. Rasanya kita sebagai bangsa hanya berpesta bersama di saat pergantian tahun.

Sebuah festival atau perayaan, menurut Lefebvre, adalah pelipatgandaan hal-hal yang mengelilingi kita di kehidupan keseharian (bagiku, frasa itu sudah sangat pas menggantikan Everyday Life dan La Vie Quotidienne), sebuah kondisi yang sangat berbeda dengan keseharian tapi tetap menjadi bagian dari keseharian, sebuah penyerahan diri kepada Dionysius, kepada Eros. Dengan melonggarnya semua tekanan kehidupan keseharian, sebuah festival atau perayaan malah memperkuat jejaring sosial sebuah masyarakat.

Aku jadi ingat sebuah obrolan dengan seorang teman. Dia bilang bahwa orang NU (Nahdlatul Ulama) dengan kekayaan tradisinya membuat mereka punya banyak “kanalisasi sosial.” Yang dia maksud dengan kanalisasi sosial adalah perayaan keagamaan yang kerap bercampur aduk dengan tradisi lokal Jawa. Dengan perayaan-perayaan tersebut, warga NU memiliki kanal untuk membuang segala kepenatan kehidupan dan (kalau istilah zaman sekarang) kegalauan mereka untuk kemudian kembali ke dalam kehidupan keseharian sebagai warga yang bahagia.

Bagi Lefebvre, negara-negara komunis, alih-alih ingin menjunjung tinggi kemanusiaan, malah mengiris rasa kemanusiaan warga negaranya dengan membuat kehidupan keseharian begitu garing dan membosankan dan dinodai oleh pengulangan ideologi dalam keseharian (mungkin maksudnya melalui papan atau grafiti yang berisi slogan atau propaganda). Harap diingat bahwa Lefebvre menulis bukunya di masa kejayaan Uni Soviet pada tahun 1980-an. Jika dia hidup di era kini, maka masyarakat yang dia telisik adalah masyarakat di negara-negara kapitalis. Seperti halnya tulisan-tulisan Umberto Eco.

Politik yang tidak berusaha memahami kehidupan masyarakat dalam skala mikro, kata Lefebvre, adalah politik tanpa konsituen. Tidak mengherankan memang. Baik di negara komunis, kapitalis, fasis, atau teokratis hingga yang tidak jelas macam Indonesia ini, semua rekayasa sosial yang disusun di atas meja dengan tingkat abstraksi yang tinggi pasti akan hancur luluh lantak dan menyisakan masyarakat yang tidak bahagia.

Tapi sebenarnya saya jadi berpikir, jangan-jangan ada semacam pengecualian, seperti; masyarakat Kuba yang (sepertinya) nampak bahagia di dalam keterisolasian mereka atau warga Sabaudia, kota yang dibangun Mussolini di atas rawa-rawa itu, yang mengenang Mussolini dengan kebimbangan “benci tapi cinta.”

Begitulah. Dengan gaya bahasa yang ringan, Andy Merrifield tidak hanya membuat kita memahami Lefebvre tapi juga sudah berhasil menyampaikan pesan Lefebvre bahwa manusia yang berdaulat atas masa lalu, masa kini, dan masa depannya adalah manusia yang bahagia. Tanpa terasa, kita akan sudah menyelesaikan 8 Bab dalam buku ini.

Teks: Aan Mansyur
Foto: Onny Wiranda

Di Bantimurung, tadi pagi, aku bertemu banyak bunga, hujan, dan kupu-kupu. Semua nampak murung.

Di Gua Mimpi, entah kenapa namanya seperti itu, aku melihat sepasang kekasih berciuman.

 

Di Museum Kupu-Kupu, ada ratusan jenis kupu-kupu langka beku di dalam kotak kaca.

 

Di dekat tempat parkir, di kios-kios kecil, banyak kupu-kupu jadi gantungan kunci dan baju kaos.

 

Di gerbang, ada monyet dan kupu-kupu raksasa yang mengangkang di atas mobil-mobil yang lewat.

 

Di bawah sungai terjun Bantimurung banyak gadis-gadis risih karena baju mereka basah dan lengket.

 

Di antara tebing-tebing batu yang tinggi dan diam, di Bantimurung, banyak pasangan bermesraan. – (Sayang lupa bawa kamera. :D )

Di tangga, dekat air terjun, ada seorang ibu terpeleset, jatuh, dan menangis. :(

Karnaval peringatan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-65 itu diikuti sekolah-sekolah, institusi pemerintah, dan kelompok masyarakat. Yang menarik, ada sebuah rombongan yang tidak menampilkan keceriaan , tapi kemarahan. Rombongan itu terdiri dari mama-mama yang mengenakan ikat kepala “anti miras” dan memegang botol air mineral yang diisi cairan berwarna pekat kemerahan. Seorang mama menuangkan isi kaleng Coca-Cola ke dalam botol sambil berteriak-teriak dan mengacungkan gelas plastik ke arah penonton karnaval di pinggir jalan.

Mereka adalah para ibu rumah tangga yang tergabung dalam Koalisi Rakyat Anti Miras (KRAM). Kelompok yang dipimpin mama Theresia Magal ini gencar melakukan kampanye ganyang Miras (Minuman Keras) di Timika dan beberapa kali melakukan penggerebekan tempat-tempat yang dikenal sebagai tempat penjualan Miras seperti di Koperapoka dan Gorong-gorong.

Saking marahnya bahkan beberapa di antara terlihat seperti mabuk beneran. Mungkin bersama beberapa orang di pinggir jalan saat itu, aku tersenyum dan ikut mengamini salah satu stigma yang diberikan kepada orang Papua, tukang mabuk.

Langsung terbayang di benakku adegan-adegan seperti seorang meno yang sudah “mabuk tinggi” di Rimba Golf Kuala Kencana mengancam temannya yang berusaha mengajaknya pulang, “he, ko tahu, saya ini guru!” atau orang Kamoro yang dalam keadaan mabuk menumpang mobilku dan menolak turun dari mobil setibanya di tujuan.

Selama ini sepertinya semua orang, sekalipun prihatin, merasa tenang-tenang saja dengan penggambaran orang Papua seperti itu. Kecuali ya mama-mama anti miras yang di tengah siang bolong berteriak-teriak menghujat Miras.

Hingga pada akhirnya di suatu hari di awal tahun 2011 ini aku memahami benar kenapa mama-mama itu tidak hanya sekedar prihatin, tapi marah besar.

***

Orang Papua selalu menyambut Natal dengan penuh suka cita. Tapi dalam suatu kebetulan yang aneh, pesta yang diadakan IPMAMI (Ikatan Persaudaraan Mahasiswa Mimika) di Bandung pada 30 Desember 2010 hingga 1 Januari 2011 dan pesta yang diadakan masyarakat Kamoro di Nayaro, Timika, berakhir dengan perih duka cita.

Kegiatan yang diawali dengan ceramah tentang organisasi dan ibadah itu pada awalnya berlangsung lancar, sekalipun beberapa peserta yang datang dari berbagai kota di Jawa dan Manado sudah nampak mabuk.

Acara yang berlangsung di Hotel Lembang, Bandung itu semakin lama nampak semakin tidak terkontrol. Jadwal acara yang sudah disiapkan panitia tidak berjalan. Bahkan panitia acara sempat bersitegang dengan beberapa kelompok mahasiswa dan pelajar. Hingga akhirnya pada 31 Desember 2011 panitia benar-benar kehilangan kendali atas keadaan.

Para mahasiswa dan pelajar berkumpul di kelompok-kelompok kecil dan mengkonsumsi Miras dalam jumlah yang sangat banyak. Menurut Pascalis Abner, Kepala Biro Pendidikan LPMAK (Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro), jenis minuman yang dikonsumsi antara lain adalah bir, anggur, dan minuman oplosan lokal.

Usai pesta pada 1 Januari 2011, semua peserta acara kembali ke kota studi mereka masing-masing. Keesokan harinya, hampir semua peserta acara tersebut mengalami gejala keracunan Miras seperti pusing, mual, dan badan terasa panas. Akibat terlalu parahnya tingkat keracunan dan lambatnya penanganan, dua orang mahasiswa, Anastasius Pogolamun dan Benyamin Magal akhirnya meninggal dunia di Bandung. Sedangkan Hubertus Maurumako meninggal dunia di Jakarta dan seorang lagi, Felix Soway, meninggal dunia di Yogyakarta.

Selain itu 38 mahasiswa dan pelajar asal Mimika harus mendapatkan perawatan intensif di berbagai rumah sakit di Jawa. Seorang lagi, Roby Tsolme, kemungkinan akan mengalami kebutaan permanen.

Ironisnya, salah satu korban, Benyamin Magal, adalah putra dari mama Theresia Magal, pimpinan Koalisi Rakyat Anti Miras (KRAM). Padahal mama Theresia sengaja menyekolahkan anaknya ke Jawa untuk menghindari pengaruh Miras di Timika.

Sebagian mahasiswa dan pelajar asal Timika adalah penerima beasiswa dari LPMAK (Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro). Sekalipun demikian, LPMAK tidak membiayai perayaan Natal yang berubah jadi pesta Miras itu.

LPMAK membantu pemulangan jenazah dan kini tengah melakukan penyelidikan atas peristiwa tersebut serta melakukan sosialisasi bersama dengan tokoh masyarakat, tokoh gereja, dan pemerintah kepada peserta beasiswa LPMAK dan kepada orang tua.

Sementara itu pada hari yang sama, di Nayaro, kampung orang Kamoro di sebelah timur Timika, perayaan Natal juga melibatkan Miras. Hasilnya, lima warga kampung Nayaro tewas dan seorang mengalami kerusakan syaraf setelah mengonsumsi racikan spiritus, kuku bima, dan air kelapa. Bahkan ada yang mengatakan bahwa salah satu bahan racikan minuman maut itu adalah minyak rem.

***

Peredaran di Miras di Timika selama ini memang tidak terkendali. Sekalipun pemerintah daerah setempat sudah mengesahkan Perda No 5 tahun 2007 tentang larangan Memproduksi, Menjual, Mengedarkan dan Mengonsumsi Minuman Beralkohol, berbagai jenis Miras masih bisa dengan mudah didapatkan di Timika. Tinggal pilih mau apa: Sopi, Cap Tikus, Saguwer, atau minuman oplosan seperti yang diracik warga Nayaro.

Sekalipun tercatat sebagai Perda tahun 2007, Perda anti Miras itu baru efektif dilaksanakan pada tahun 2010. Pada pertengahan 2010 kalau aku tidak salah, beberapa tempat penjualan Miras yang cukup terkenal seperti di Gorong-gorong, Koperapoka, dan SP IV memang sempat tiarap. Tapi setelah itu mereka bisa berdagang dengan bebas seperti biasa. Bahkan pada bulan Juli 2010, Koalisi Rakyat Anti Miras (KRAM) sempat mendapatkan perlawanan dari sekelompok mama-mama.

Peredaran Miras bahkan sudah mencapai kampung-kampung di daerah pesisir selatan Mimika. Seorang guru di Timika Pantai menceritakan bagaimana dia beberapa kali mengusir perahu yang berjualan Miras dari kampung ke kampung. “Tapi mungkin sudah terlambat, orang sudah telanjur suka…” keluhnya.

Menurut Pater Vincent Suparman, Scj, rohaniwan Katolik yang lama bertugas di Mimika, orang Papua, khususnya Amungme dan Kamoro, tidak mengenal minuman beralkohol seperti orang Flores atau Jawa dengan minuman araknya dan Batak dengan Tuaknya (korespondensi pribadi, 15 Januari 2011).

Peredaran Miras memang hanya satu poin saja dari daftar panjang dampak laju modernisasi dan segala nilai-nilai barunya yang terus mendesak tatanan budaya masyarakat Amungme dan Kamoro. Walaupun kelihatan mendengarkan khotbah di gereja, masyarakat sebenarnya enggan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan gereja, tutur Pater Vincent.

Bukan hanya gereja , pemerintah dan lembaga adat juga merasa tidak berdaya. Menurut Cantius Amareyau, salah satu tokoh masyarakat Kamoro, peristiwa pesta Miras di Bandung penghujung 2010 itu sebenarnya bukan peristiwa baru. Hampir setiap tahun ada saja pesta Miras sekalipun tidak menyebabkan jatuhnya korban jiwa sebanyak peristiwa di Bandung. “Kebiasaan minum Miras itu dimulai di Timika…” tutur Cantius Amareyau.

Pater Vincent berharap, peristiwa ini membuka mata semua pihak di Timika, mulai dari pemerintah, gereja, dan tokoh masyarakat untuk saling bekerjasama membangun generasi muda.

Hal ini senada dengan ajakan Pater Armandus Rahadet, Pr, yang sekalipun merasa sangat prihatin dengan peristiwa jatuhnya korban akibat miras, melarang umat setempat untuk melakukan razia tempat penjualan Miras pabrikan dan oplosan. “Tergantung kita sendiri mau beli atau tidak, mau mati atau tidak,” tutur Pater Armandus (Kompas, 12 Januari 2011).

 

Sebenarnya ini adalah sebentuk pelampiasan pusing gara-gara istriku sudah mulai bicara soal “punya rumah”. Benar-benar topik idaman para pria beristri…Hehe.

Sebenarnya aku juga sudah punya bayangan tempat tinggal ideal. Aku suka sekali mengkoleksi referensi rumah yang nyaman. Sekalipun dalam hal memilih tempat tinggal sering salah pilih. Mulai dari kontrakan rumah yang ternyata gaduh suasana sekitar, berhantu, dan kebanjiran.

Beberapa hari lalu aku membeli edisi spesial majalah Rumah Ide di kios majalah langgananku di Timika. Di dalamnya ada artikel mengenai Eko Prawoto, seorang arsitek muda dari Yogyakarta. Nama Eko Prawoto aku kenal ketika masih di InsistPress. Kami menerbitkan sebuah buku tentang karya dan pandangan Eko Prawoto tentang arsitektur. Sayangnya sampai sekarang aku tidak memiliki buku itu. Mas Eko ini segaris dengan Romo Mangun. Bagi Mas Eko, arsitektur adalah dialog manusia beserta segenap kemampuannya dengan alam tempat manusia tinggal. Karena itu alam tidak dilihat sebagai ancaman dan bahan bangunan disikapi sebagai “keragaman sifat alami yang dipergunakan selaras dengan kebutuhan manusia”.

Karena tema edisi spesial majalah Rumah Ide yang aku beli adalah mengenai Sustainable construction, maka Mas Eko pun membagikan pandangannya mengenai arsitektur. Dalam konteks Mas Eko, arsitektur berkelanjutan bisa dijelaskan dalam tujuh poin, tapi yang menjadi garis besar Mas Eko sepertinya adalah bahan dan ketrampilan lokal, penggunaan bahan secara efektif dan daur-ulang bahan, penghargaan atas alam sekitar, serta ruangan rumah yang multifungsi. Tapi bukan berarti Mas Eko anti teknologi, lho.

Sebagian karya Mas Eko bisa dilihat di blog milik Mas Dwi Atmoko Adi.

Interior rumah karya Eko Prawoto. Foto©Binstudio

Arsitek seperti Mas Eko Prawoto ini yang rasanya perlu datang melihat Papua. Di sini banyak sekali proyek pembangunan perumahan yang tidak beranjak dari kondisi dan kearifan lokal.

Hasilnya? Lihat saja rumah-rumah orang Kamoro di Tipuka dan Ayuka yang semuanya kusam dan tak terawat. Orang Kamoro yang sebelum datangnya senjakala megaindustri tambang di Papua terbiasa hidup di rumah dengan bahan utama gaba-gaba dan bambu mendadak diberi rumah dengan konstruksi tembok. Rumah mereka seperti benda asing berwarna tembaga yang dibuang di tengah kehijauan rimba raya. Menyolok dan saling menganggu.

Perumahan di Ayuka, Timika

Rumah di Timika Pantai

Perawatan bangunan tembok tentu membutuhkan banyak hal. Perlu mengelupas dan membeli cat untuk tembok yang sudah kusam. Sedangkan rumah asli orang Kamoro bisa diperbaiki dengan dukungan alam sekitar.

Bagi aku sendiri, konsep Mas Eko ini seperti tawaran minum es teh di tengah gerah iklan perumahan. Bisa kubayangkan rumahku nanti dibangun secara bertahap, menggunakan bahan secara efisien, serta apik-selaras dengan lingkungan sekitar dan nyaman. Seperti rumah karya Mas Eko yang ada di blog ini.

Tentu saja, jika ingin membangun sendiri tentu saja tantangannya adalah tanah. Membeli tanah di kota seperti Surabaya, Malang, atau Yogyakarta harus siap pusing dengan lokasi dan harga. Di Timika pun rasanya sekarang masalahnya hamper sama dengan kota-kota di Jawa sana.

Perkembangan fotografi di Indonesia kerap dikaitkan dengan Kassian Cephas, fotografer mula Indonesia dari Yogyakarta. Padahal selain Kassian Cephas, ada lagi fotografer yang karya-karyanya cukup membantu usaha mengenal masa lalu kita. Salah satunya adalah fotografer dari Surabaya, Onnes Kurkdjian.

Onnes Kurkdjian dilahirkan pada tahun 1851 di Armenia. Onnes adalah seorang fotografer yang memproduksi stereograf, rangkaian foto dokumentasi. Salah satu karyanya adalah Ruines d’Armenie, Ani (Reruntuhan Armenia, Ani), satu set foto mengenai reruntuhan bangunan di distrik Ani, Armenia. Koleksi foto yang dikemas sangat apik itu dilengkapi booklet yang memuat informasi dari setiap foto dalam bahasa Armenia dan Prancis. Pemerintah Rusia, yang saat itu baru saja memasukkan distrik Ani dan Yerevan ke dalam wilayah Kekaisaran Rusia, memandang penerbitan koleksi foto dengan bahasa Armenia dan Prancis sebagai tindakan separatis. Oleh karena itu Onnes kemudian memilih meninggalkan Armenia.

Pada tahun 1885, Onnes meninggalkan tanah airnya dan bertolak ke Singapura. Tapi hanya dua bulan saja dia tinggal di Singapura dan menuju ke Surabaya.

Di Surabaya, Onnes bekerja untuk seorang fotografer Armenia. Akhirnya Onnes mendirikan studio foto miliknya sendiri, Atelier Kurkdjian, di Surabaya yang mempekerjakan tiga puluh fotografer dan beberapa asisten ruang gelap. Kebanyakan foto yang diproduksi studio foto Onnes kini sangat dihargai karena muatan antropologinya. Salah satunya adalah foto-foto yang digunakan di buku panduan pariwisata Come to Java, yang diterbitkan tahun 1922 oleh Biro Pariwisata Hindia Belanda.

Obyek foto dalam buku ini sesuai dengan perkembangan fotografi saat itu, yakni panorama alam Jawa, proyek-proyek pemerintah kolonial seperti perkebunan dan irigasi, serta potret kehidupan masyarakat Jawa pada masa kolonial.

Come to Java


Onnes meninggal di Surabaya pada tahun 1903. Sepeninggal Onnes, perusahaan fotografinya diambil alih perusahaan medis Helmig.

Karya-karya Onnes Kurkdjian bisa dilihat di sini

Bahkan cuma untuk berkhayal mau berlibur ke mana kamu tidak bisa? Wah, ndul, hidupmu sudah sampai pada tahap yang mengerikan. Jalan-jalan ke Nandan, yuk. Udah lama ga ke sana.

Suasana pagi di Gang Nandan, atau Gang Nanas ya, Dod? Kalo ga salah nama buah-buahan gitu kan? Setelah rumah sebelah kanan itu ada warung tempat kita biasa beli kebutuhan sehari-hari, mulai dari air mineral, rokok, kue keju bantal. Jalan lurus belok kanan kamu akan sampai di Jalan Monjali.

 

Kamar Dodi, yang paling bersih dan rapi. Mungkin karena paling banyak dapat cahaya.
Curang. Dia dapat duluan kamar itu.

Kamarku. Komputer itu aku beli pas ada pameran komputer di UGM. Monitor aku bawa dari Surabaya.

Panjul. Poster FHM itu bukan di pintu kamarnya, tapi di pintu menuju dapur. Selain dipenuhi buku dan pakaiannya, kamar Panjul dihiasi beberapa pot bunga.

Nah ini jagoannya. Dia yang menguasai rumah dan membuat hari-hari begitu hidup. Guti…ayo gigit Cepot. Hehe. Sayang ga fotonya si Cepot.

Sebagai seorang mahasiswa jurusan desain, Hermawan merasa perlu mengembangkan pengetahuan grafisnya. Selain internet, tempatnya menimba ilmu adalah buku atau majalah desain dari luar negeri. “Kalau beli yang baru dan dari luar negeri, harganya mahal banget, deh.” tutur Hermawan di sebuah siang di Jalan Semarang.

Dia berharap menemukan majalah Communication Art terbitan Amerika Serikat. Setelah menelusuri deretan lapak dan kios, Hermawan akhirnya menemukan majalah tersebut di sebuah kios buku seharga Rp.60.000. Harga yang akan baru akan dia dapat jika ada toko buku besar yang cukup gila untuk membanting harga buku impor hingga 70%. “Sekalipun edisi tahun lalu dan second-hand, majalah ini masih cukup berguna untuk dijadikan referensi desain…” ujarnya sambil menimang majalah itu.

Di sebuah lapak yang lebih sederhana di seberang jalan, Bu Ririn dan anaknya yang duduk di bangku SMP sedang berkeliling mencari buku pelajaran. Dibandingkan dengan di toko buku besar, harga buku pelajaran di Jalan Semarang bisa jauh lebih murah dan pilihan yang disajikan lebih beragam. Beberapa saat kemudian terlihat kantung plastik yang diberikan penjual kepada ibu dan anak itu tidak hanya berisi buku pelajaran yang dibutuhkan, tapi juga sebuah buku cerita.

Menurut Samirin, yang akrab dipanggil Cak Rin, Pasar buku yang terletak di dekat Stasiun Kereta Api Pasar Turi ini sudah ada sejak tahun 1975. Saat itu jumlah lapak buku di Jalan Semarang sudah sama banyaknya dengan yang ada sekarang. Berbeda dengan Pasar Blauran dan Tugu Pahlawan, pasar buku di Jalan Semarang tidak hanya menjual buku bekas dan majalah.

Selain harga yang cukup terjangkau, di Jalan Semarang bisa ditemukan berbagai macam bacaan, mulai dari buku pelajaran dan pegangan kuliah, kamus, sastra, dan berbagai macam majalah, baik dari dalam dan luar negeri.

Pada tahun 1990-an para pedagang buku Jalan Semarang juga sempat menghadapi penggusuran karena pendirian sebuah komplek rumah toko (ruko). Namun setelah itu para pedagang buku masih bisa membuka kembali lapak-lapak mereka.

***

Jika Malang dan Yogyakarta punya Jalan Sriwijaya dan Shopping Center, kenapa Surabaya yang kota besar malah menggusur pusat penjualan buku murah yang bisa diakses banyak kalangan? Keluh Cak Rin.

Cak Rin semakin miris ketika mengetahui bahwa di Yogyakarta, Shopping Center kini sudah semakin berkembang sejak dilakukannya peremajaan. Lapak-lapak dan kios buku ditempatkan dalam bangunan yang, sekalipun baru, tidak menghilangkan kesan sebagai pusat penjualan buku murah. Sekilas perhatian besar pemerintah kota Yogyakarta adalah tindakan yang wajar dan tepat, terutama jika mengingat predikat Yogyakarta sebagai kota pelajar. Surabaya sebagai kota industri dan perdagangan tentu tidak perlu memiliki pusat buku murah

Menyerah kepada stereotip Surabaya sebagai kota industri dan perdagangan dengan minat baca rendah menyimpan bahayanya tersendiri. Jika memang demikian adanya, mengapa Jalan Semarang masih bertahan sejak tahun 1975?

Bahkan kota besar seperti Jakarta masih memiliki kawasan Kwitang dan Toko Buku Jose Rizal Manua di TIM tempat orang bisa menemukan buku bekas dan murah.

Tak usahlah kita mengajak Cak Rin membandingkan Indonesia dengan negara-negara Eropa. Kalau saja Cak Rin tahu bahwa di negara-negara seperti Kuba dan India, masyarakatnya bisa dengan mudah mendapatkan berbagai macam buku di alun-alun kota dan pasar dengan harga yang cukup terjangkau. Di kota dan negara mana pun, pusat buku murah dan bekas memang selalu menjadi tempat terjadinya interaksi kreatif warga kota, baik dengan sesama warga kota, maupun dengan identitas kotanya.

Di luar pertimbangan harga, seseorang yang menjual koleksi buku dan kamusnya di Jalan Semarang dan bukan ke tukang rombeng sebenarnya tanpa sengaja telah menjalin interaksi dengan warga kota lainnya: berharap ada orang lain yang meneruskan membaca dan merawat buku-bukunya.

Jika dikelola dengan baik, Jalan Semarang bisa membantu menguatkan identitas Surabaya, dengan menjadi kawasan wisata baca Surabaya bersama dengan pusat penjualan buku murah lainnya seperti Pasar Blauran. Lebih jauh lagi bisa diintegrasikan dengan jenis wisata yang sekarang mulai marak di Surabaya, yang tidak melulu perkara membeli tapi lebih semacam penyegaran nalar, seperti wisata sejarah dan wisata kuliner.

Selama ini saja, pelanggan Jalan Semarang tidak hanya warga Surabaya, tapi juga dari berbagai kota di sekitar Surabaya, seperti Gresik, Lamongan, Pasuruan, Malang, dan Jember.

***

Menjelang sore, arus lalu lintas di Jalan Semarang semakin riuh. Para pembeli buku yang kebetulan sedang berada di dekat pertigaan dekat Stasiun Pasar Turi harus berhati-hati terhadap mobil-mobil pribadi dan angkutan kota yang merubung orang-orang yang baru beranjak keluar dari stasiun Pasar Turi.

Cak Rin kembali melayani beberapa pembeli yang mencari buku bahasa Inggris dan seorang kakek yang ingin menjual koleksi Ensiklopedia. Sementara Hermawan dan seorang temannya, tertegun memandangi bentangan spanduk berisi tanda tangan dan dukungan warga Surabaya terhadap pedagang buku murah Jalan Semarang. Mungkin itu kali terakhir dia melihat begitu banyak buku murah di sebuah tempat.

Dalam lembaran-lembaran perencanaan Surabaya, pendapat warga Surabaya seperti Cak Rin dan Hermawan, mungkin tidak pernah ada. Yang ada mungkin hanyalah sketsa perencanaan kota nan dingin dan matematis dari para pengembang dan pemain bisnis properti. Dalam bayangan mereka, lembaran-lembaran kota yang lusuh seperti Jalan Semarang harus dihapus dari babakan sejarah kehidupan Surabaya.

Sebagai seorang mahasiswa jurusan desain, Hermawan merasa perlu mengembangkan pengetahuan grafisnya. Selain internet, tempatnya menimba ilmu adalah buku atau majalah desain dari luar negeri. “Kalau beli yang baru dan dari luar negeri, harganya mahal banget, deh.” tutur Hermawan di sebuah siang di Jalan Semarang.

Dia berharap menemukan majalah Communication Art terbitan Amerika Serikat. Setelah menelusuri deretan lapak dan kios, Hermawan akhirnya menemukan majalah tersebut di sebuah kios buku seharga Rp.60.000. Harga yang akan baru akan dia dapat jika ada toko buku besar yang cukup gila untuk membanting harga buku impor hingga 70%. “Sekalipun edisi tahun lalu dan second-hand, majalah ini masih cukup berguna untuk dijadikan referensi desain…” ujarnya sambil menimang majalah itu.

Read more

Hewan peliharaan pertamanya adalah seekor kelinci, yang langsung masuk angin begitu tiba di rumah setelah melalui perjalanan dari Bratang hingga Kepanjen. Seorang teman bilang bahwa itu bukan kelinci, tapi guinea pig. Sejenis hamster tapi lebih besar.
Kelinci itu meringkuk di kurungan dari kawat. Hanya setangkup kubis di pojok kurungan yang membuat dia merasa bahwa dia masih di Bumi. Hal lain yang membuat kelinci itu yakin dia masih bisa hidup beberapa jam lagi adalah tatapan kosong dari wajah mongoloid yang terjepit di antara dua pria; mungkin ayah dan paman dari majikan barunya itu.
Ketika melintas di Jalan Pemuda yang masih basah, anak itu merasa begitu mengantuk dan mendadak begitu menginginkan sebuah kisah sedih. Perasaan aneh yang selalu meliputinya setiap kali ayahnya menuruti permintaannya. Perasaan yang dulu juga sering aku alami. Setiap kisah bahagia harus diikuti dengan kisah sedih. Kehancuran. Dulu sehabis dibelikan mainan handphone-handphone-an, dia ingin ada orang yang merampas dan membakar mainan dari plastik itu.
Malam itu, di Jl. Pemuda yang masih basah, dia ingin membelai bulu kelinci yang berwarna coklat itu di sebuah kamar dan kemudian membalut badannya dengan handuk dan kemudian dikuburkan di halaman depan rumah.

Iklan Layanan Masyarakat Kompas

Itulah baris dari sebuah iklan layanan masyarakat yang tayang di Kompas Jawa Timur Jumat 19 Oktober 2007. Teks yang mendahului tagline tersebut adalah penjelasan mengenai sejarah gedung yang dulu bernama “Del Algeemene Verzekerings Maatshcapij”. Perancang eksterior gedung itu adalah Jan Toorop. Selesai merancang eksterior gedung itu, Jan Toorop kembali ke Belanda dan menjadi seniman besar Art Nouveau.
Gedung itu terletak di Jalan Jembatan Merah Surabaya dan kini ditempati oleh sebuah perusahaan konstruksi PT. Metalco di Kantor.
Pernah pada sebuah siang yang terik, saya bersama seorang kawan berkesempatan mengunjungi sebuah gedung di sebelah gedung yang menjadi model iklan layanan masyarakat Kompas tersebut.
Hanya ada seorang ibu yang menyambut kedatangan kami. Mungkin karena gedung itu terlalu sering difoto atau jadi obyek wisata, ibu itu mengajak kami masuk dan mempersilakan kami mengambil gambar.
Dengan keramahan seorang pemandu wisata, dia menjelaskan kepada kami sejarah kepemilikan gedung itu. Dari penjelasannya, jelas sekali bahwa gedung itu berganti pemilik pada masa perusahaan-perusahaan asing Belanda dinasionalisasi oleh pemerintah Indonesia, yaitu pada dekade 1950-an.
Ruangan yang dulunya sebuah hall besar sekarang dibatasi sekat-sekat kayu yang sudah kusam. Sekalipun demikian sekat-sekat itu tidak membuat ruangan terlihat kecil. Bagi kami, ruangan itu tetap terasa luas.
Bu Arum kemudian membawa kami ke meja kerjanya, sebuah meja kerja sebelum komputer menjadi perangkat wajib. Meja yang tidak dialasi taplak itu menjadi tempat Bu Arum untuk menata beberapa buku akuntansi, sebuah gelas teh, dan beberapa map yang sudah lusuh.
Setelah mengambil beberapa gambar, kami pamit pergi. Di jalan Jembatan Merah yang ramai dan tidak bertrotoar itu kami berjalan melintasi sepasang patung singa. Mungkin itu kunjungan terakhir kami ke daerah itu.
Paragraf penutup dalam iklan layanan masyarakat itu seperti teriakan yang penuh kesedihan: sejarah memberikan kesaksian menembus waktu, memendarkan realitas, menghidupkan ingatan, dan memberi petunjuk kehidupan.
Di kota yang selalu memandang ke depan, sejarah tidak menjadi petunjuk apa-apa.
Kurang jelas sebenarnya apakah iklan layanan masyarakat tersebut adalah sebuah bagian dari kampanye pelestarian bangunan tua di Surabaya ataukah hanya sekedar pengisi halaman kosong. Penempatannya pun kurang sanggup meraih perhatian pembaca, karena ditempatkan di pojok kanan bawah bercampur dengan jajaran iklan baris.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 386 other followers