Archive

Tokoh

“In 1955, Lefebvre warned how’d we lost Rabelais’s laughter. And in losing it, he said, we’ve lost a big part of our cultural heritage, even lost a weapon in our revolutionary arsenal.”

Andy Merrifield

Henry Lefebvre, penulis kiri dari Prancis ini awalnya tidak terlalu menarik perhatianku. Mengeja namanya saja aku kesulitan. Sama sulitnya seperti mengeja merk parfum Bvlgari.Aku membayangkan membaca buku Lefebvre akan seperti membaca tulisan Louis Althusser atau Walter Benjamin yang terlalu berat bagi otakku yang pas-pasan ini.  Dari Althusser, hanya penjelasan soal ISA (Internal State Apparatus) yang bisa aku cerna. Lainnya kebanyakan aku lupa atau memang tidak paham sama sekali.

Tapi setelah aku ingat kembali, ternyata aku tidak pernah membaca buku pengantar masuk ke alam pikiran Louis Althusser. Aku langsung masuk ke rimba raya pemikiran Althusser, dan mendapati diriku tersesat di dalam halaman-halaman beberapa buku Althusser yang aku unduh dari internet.

Dengan Lefebvre ini agak berbeda ceritanya. Aku memilih membaca buku pengantarnya sebelum membaca karya-karyanya. Padahal, judul buku Lefebvre banyak yang terdengar seksi dan terkesan ringan, misalnya; Critique of Everyday Life dan Production of Cities. Buku pengantar masuk ke alam pikiran Lefebvre yang aku temukan judulnya “Henry Lefebvre; A Critical Introduction” yang ditulis oleh Andy Merrifield.

Sebagai seorang pemikir kiri, Lefebvre ini agak beda. Seperti kata Merrifield, Lefebvre ini “terlalu komunis untuk disebut sebagai seorang romantis, tapi juga terlalu romantis untuk disebut sebagai seorang komunis.” Hehe. Dan memang terbukti di tulisannya Lefebvre. Penulis Marxis mana yang akan mengutip Ulysses-ny James Joyce atau konsep kehidupan Dionysiac yang sangat berbau Nietzche itu?

Merrifield melacak keanehan cara berpikir Lefebvre hingga ke kampung halaman Lefebvre di Pyrennes- Atlantique di Prancis Selatan, daerah orang Basque. Kebudayaan orang Basque sangat unik. Takut sekali dengan dosa, tapi juga tukang pesta. Lefebvre meyakini, bahwa festival adalah saat di mana manusia terlepas dari semua identitas yang ditimpakan kepadanya.

Tanpa sebuah penelitian yang muluk-muluk, kita bisa melihat hal ini, terutama di kebudayaan Latin. Lihatlah bagaimana orang-orang dari berbagai kalangan diuber-uber banteng di Spanyol atau joget-joget di jalanan di Brazil. Kalender di Indonesia sendiri sebenarnya banyak diwarnai hari festival perayaan ini dan itu, tapi sepertinya akhir-akhir ini kita semakin jadi bangsa yang serius dan bermuram durja. Rasanya kita sebagai bangsa hanya berpesta bersama di saat pergantian tahun.

Sebuah festival atau perayaan, menurut Lefebvre, adalah pelipatgandaan hal-hal yang mengelilingi kita di kehidupan keseharian (bagiku, frasa itu sudah sangat pas menggantikan Everyday Life dan La Vie Quotidienne), sebuah kondisi yang sangat berbeda dengan keseharian tapi tetap menjadi bagian dari keseharian, sebuah penyerahan diri kepada Dionysius, kepada Eros. Dengan melonggarnya semua tekanan kehidupan keseharian, sebuah festival atau perayaan malah memperkuat jejaring sosial sebuah masyarakat.

Aku jadi ingat sebuah obrolan dengan seorang teman. Dia bilang bahwa orang NU (Nahdlatul Ulama) dengan kekayaan tradisinya membuat mereka punya banyak “kanalisasi sosial.” Yang dia maksud dengan kanalisasi sosial adalah perayaan keagamaan yang kerap bercampur aduk dengan tradisi lokal Jawa. Dengan perayaan-perayaan tersebut, warga NU memiliki kanal untuk membuang segala kepenatan kehidupan dan (kalau istilah zaman sekarang) kegalauan mereka untuk kemudian kembali ke dalam kehidupan keseharian sebagai warga yang bahagia.

Bagi Lefebvre, negara-negara komunis, alih-alih ingin menjunjung tinggi kemanusiaan, malah mengiris rasa kemanusiaan warga negaranya dengan membuat kehidupan keseharian begitu garing dan membosankan dan dinodai oleh pengulangan ideologi dalam keseharian (mungkin maksudnya melalui papan atau grafiti yang berisi slogan atau propaganda). Harap diingat bahwa Lefebvre menulis bukunya di masa kejayaan Uni Soviet pada tahun 1980-an. Jika dia hidup di era kini, maka masyarakat yang dia telisik adalah masyarakat di negara-negara kapitalis. Seperti halnya tulisan-tulisan Umberto Eco.

Politik yang tidak berusaha memahami kehidupan masyarakat dalam skala mikro, kata Lefebvre, adalah politik tanpa konsituen. Tidak mengherankan memang. Baik di negara komunis, kapitalis, fasis, atau teokratis hingga yang tidak jelas macam Indonesia ini, semua rekayasa sosial yang disusun di atas meja dengan tingkat abstraksi yang tinggi pasti akan hancur luluh lantak dan menyisakan masyarakat yang tidak bahagia.

Tapi sebenarnya saya jadi berpikir, jangan-jangan ada semacam pengecualian, seperti; masyarakat Kuba yang (sepertinya) nampak bahagia di dalam keterisolasian mereka atau warga Sabaudia, kota yang dibangun Mussolini di atas rawa-rawa itu, yang mengenang Mussolini dengan kebimbangan “benci tapi cinta.”

Begitulah. Dengan gaya bahasa yang ringan, Andy Merrifield tidak hanya membuat kita memahami Lefebvre tapi juga sudah berhasil menyampaikan pesan Lefebvre bahwa manusia yang berdaulat atas masa lalu, masa kini, dan masa depannya adalah manusia yang bahagia. Tanpa terasa, kita akan sudah menyelesaikan 8 Bab dalam buku ini.

Teen’s DIY Energy Hacking Gives African Village New Hope

Posted using ShareThis

Tautan di atas akan membawa kita ke tulisan tentang pengalaman William Kamkwamba menggunakan teknologi kincir angin di Malawi, Afrika bagian selatan. Selain sulitnya akses kepada pendidikan dan kesehatan, masyarakat yang tinggal di pedalaman juga menghadapi kesulitan akses kepada energi.

Selain kisah di atas, ada beberapa kisah lain yang bisa dijadikan referensi, seperti:

1. Yayasan Air Putih. Membuktikan bahwa Teknologi Informasi punya kekuatan untuk melakukan perubahan sosial. Lihathttp://airputih.or.id/
2. Gomukh. Pengalaman-pengalaman di India soal pengelolaan air. Lihat: http://www.gomukh.org/water_sanitation.html

 

 

Entah kenapa bulan ini rasanya kok ga ada akhir minggu, hari-hari rasanya lamaa banget. Sudah saatnya melarikan dan menyeimbangkan diri. Cuaca juga rasanya mendukung untuk hidup bohemian. Hampir tiap hari mendung dan sorenya hujan. Selamat akhir minggu semuanya. Enjoy the poster.

(In Memoriam Sartono Kartodirdjo)

Ada laron! Sudah lama aku tidak melihat laron. Mereka beterbangan mengerumuni lampu di lorong kantor. Tadi aku berjalan menembus gerombolan laron itu dan salah seekor di antara mereka mencoba masuk ke telingaku. Aku biarkan saja. Dia tidak jadi masuk, hanya menggelitik telingaku.

Barusan aku keluar lagi jumlah mereka sudah banyak berkurang. Kamu bisa jalan lewat lorong tanpa harus berusaha melindungi semua lubang tubuhmu seperti aku tadi.

Sayang sekali aku harus melihat mereka di saat lembur seperti ini. Beberapa konsep visual dan tulisan menunggu untuk diselesaikan. Hhh…

Masih ada kehidupan di luar sana yang sangat mencintaiku; suara lonceng penjual es, jalanan Surabaya yang basah, laron-laron; ekstase-ekstase yang masih akan aku jumpai kapan pun; kehidupan begitu kaya dan aku sungguh sangat mencintainya!

Pak Sartono, seperti itukah dunia yang kamu lihat (dengan mesu bumi-mu)? Malam ini akan aku baca lagi buku-bukumu, mungkin Pemberontakan Petani Banten 1888 dulu.

Selamat jalan Pak….


Dear Multatuli…

Bagaimana kabarnya? Tadi malam secara tidak sengaja aku menemukan sebuah tulisan tentang dirimu. Tulisan Seno Gumira Ajidarma, judulnya ‘Insiden Lebak’.
Ah, kenapa aku selalu membaca kesan miring tentangmu. Di beberapa saat bahkan aku merasa bahwa penjelasan Sartono Kartodirdjo tentang dirimu da situasi yang kamu hadapi di Lebak, yang sangat sering dikutip dalam pembahasan dirimu, bernada cemoohan atas ketidakpahaman dan keluguanmu.
Makam bupati Lebak itu kini sering didatangi peziarah. Padahal oleh Gubernur Jenderal Pahud dia sudah didakwa bersalah. Yah, itulah Indonesia, Mul. Aku sendiri yakin sampai tua aku akan masih diliputi keheranan jika memikirkan Indonesia.
Dulu sampean pernah dapat pos di Natal, Sumatra Utara. Sekarang daerah itu mungkin juga merasakan dampak gempa besar yang menerjang pantai barat Sumatra. Bengkulu dan Padang luluh lantak.
Aku bisa membayangkan, jika kamu sekarang masih hidup kamu akan bekerja di sebuah perusahaan minyak dari Amerika Serikat atau Prancis yang sedang melakukan eksplorasi di Aceh atau pekerja kemanusiaan dari sebuah NGO internasional yang membantu korban gempa Aceh. Lalu saat gempa kemaren (7,9 skala richter, Mul! Gila, gede banget itu) kamu akan langsung melompat masuk ke Land Rovermu dan pergi ke Bengkulu. Meninggalkan semua pekerjaanmu dan membantu para korban gempa yang sekarang beritanya sudah nyaris pupus ditumpuk berita-berita aneh yang digemari koran-koran Indonesia.
Kamu akan melihat bahwa para korban itu ternyata orang-orang yang mandiri dan bermartabat, yang tidak merengek-rengek minta bantuan kepada pemerintah. Lalu kamu akan mendatangi kantor pemerintah setempat memaksa para pegawai di situ melakukan apa saja yang mereka bisa untuk membantu para korban. Dan kamu akan ditertawakan teman-teman bulemu, yang sedang sibuk nongkrong di warung-warung kopi di Banda Aceh.
Ah, kenapa aku ikut menertawakan kamu, ya. Padahal dulu aku bikin skripsi tentang novelmu.
Kalau aku menyebut kamu dengan ‘Mul’ itu lebih karena perasaan akrab yang kadang kesannya kurang ajar. Biasalah, Mul.

Jabat tangan erat,

Onny

dan sedikit tentang puisi

Setelah sekian lama aku diamkan, tadi malam aku baca-baca koleksi tulisan Hasif Amini. Sekarang rasanya Hasif Amini sudah tidak pernah menulis di Kompas lagi. Kok bisa, ya. Aku selalu kesulitan memahami puisi. Tapi membaca tulisannya Hasif Amini, aku jadi suka puisi, atau tepatnya perpuisian. Seolah esai Hasif Amini itu sendiri adalah puisi yang sedang bercerita tentang puisi. Tidak hanya puisi di Indonesia, tapi juga di Islandia (aku paling suka esai Hasif Amini yang judulnya ‘Es’), Eropa (tentang Maria Rilke kalo ga salah).

Populasi buku puisi di rak bukuku tidak banyak. Mungkin cuma ada 10 buku. Buku puisi terakhir yang aku beli adalah antologi lengkap puisi-puisinya Joko Pinurbo (mulai dari ‘Pacar Kecilku’, ‘Di Bawah Kibaran Sarung, dan apa ya… ‘Di Celana’ apa ya?). Sebelumnya aku cuma fotokopi ‘Arsitektur Hujan’nya Afrizal Malna. Dari 10 buku itu hanya punya Joko Pinurbo dan Hasta Indriyana yang sering aku baca. Buku-buku yang lain cuma jadi pemenuh rak bukuku yang sekarang semakin hancur diserang ngengat dan hawa pantai.

Mungkin aku harus pergi ke pantai membawa beberapa buku puisi yang aku suka dan yang sekiranya pas dengan suasana pantai. Aku pernah mencoba sebenarnya. Tapi apa yang hendak kamu tulis jika kepalamu lebih ingin merekam semua yang kamu lihat dalam bentuk yang lebih menyerupai sebuah potret? Bangkai seekor kucing yang mengapung tetap sebagai bangkai seekor kucing yang mengapung di sebuah pantai berpasir hitam di sebuah sore yang tenang. Seseorang berusaha melemparkan puntung rokok ke laut, tapi gagal.

Setelah membaca dua esai aku putuskan untuk mengganti judul file yang dulu aku rubah jadi satu nama semua ‘hasifaminis’. Ada dua yang aku baca, ‘Derau’ dan ‘Es’.


Magic Displacement

Hari ini aku pulang lebih malam, melewati gedung Bala Keselamatan di Pregolan yang dari dulu ingin aku kunjungi sekedar untuk memotret dua ekor anjing yang selalu mengonggong. Suara gonggongannya terdengar seperti anjing kampung. Aku berhenti untuk menyalakan rokok dan mencoba melihat mereka. Sia-sia. Gelap sekali malam itu. Kegelapan menelan mereka seperti berbungkus-bungkus rokok yang perlahan-lahan menelan paru-paruku.

Dulu biasanya di malam hari seperti ini aku mampir beli burger Monalisa di Jalan Kaliurang. Terus duduk sendirian melihat keramaian jalan. Selesai makan kalau masih malas pulang ke kosan biasanya muter-muter dulu. Terus sampai di kos baca-baca buku sampai ketiduran. Aku kangen dengan semua perasaan ringan itu.

Aku ingin membacakan sebuah surat yang dibaca Anais Nin di sebuah majalah. Surat itu ditulis oleh Antonin Artaud dari rumah sakit jiwa di Ville Ervard, Prancis. Bagus sekali. Pasti kamu suka:

You came to help me last Monday, Tuesday, and Wednesday, but through a magic displacement I lost you in front of the Matin at the angle of the Rue de Faubourg Montmartre for the illness prevented you from maintaining your self there and you had to be in Morocco and take the boat, that is, follow what are called the normal ways. But the Bohemians who were at Palais de Justice Tuesday evening and who burned it after having massacred the judge cannot follow the normal ways, they must penetrate our world from the same level and as one passes from ship to quai and their world which is the OTHER world will be installed in our own at the moment they come to meet me.

Selamat jalan, kawan. Semoga dunia barumu lebih menyenangkan. Selamat berakhir pekan.


Di warung itu gorengannya masih hangat semua, lengkap dengan petisnya; ada kue lumpur yang selalu jadi tusukan garpu si pemilik warung setiap ada yang membelinya untuk dimakan di kantor; ada banyak macam krupuk, bahkan kripik kodok yang dulu biasa dibeli anak-anak untuk tambul mabuk; ada beberapa jenis kacang; ada banyak bungkusan nasi yang siap disantap sebagai sarapan dan mungkin makan siang juga; ada banyak pegawai bank dan pekerja swasta yang mampir sarapan; ada ibu-ibu yang membawa setumpuk gorengan hangat dan karena dia agak memaksa membuat segelas teh tumpah dan menyiram seorang pria; ada aku yang duduk melihat jalan raya ditemani segelas kecil teh hangat dan sebatang marlboro yang pagi itu rasanya jadi aneh sekali, sebatang gudang garam inter rasanya jauh lebih pas untuk mengawali hari daripada rokok penunggang kuda yang bisu itu, memikirkan Roland Barthes dan pleasure of text yang dia gambarkan seperti pengalamannya makan Sukiyaki serta perjumpaannya dengan Jepang atau tepatnya mungkin di negara yang dia sebut Jepang. Di seberang warung sebuah logo raksasa pusat perbelanjaan timbul tenggelam ditelan atap rumah-rumah sebuah perkampungan, tergantung bagaimana posisi dudukmu.

Hands are the heart’s landscape. They split sometimes
like ravines into which an undefined force rolls.
The very same hands which man only opens
when his palms have had their fill of toil.
Now he sees: because of him alone others can walk in peace.
Hands are a landscape. When they split, the pain of their sores
surges free as a stream.
But no thought of pain–
no grandeur in pain alone.
For his own grandeur he does not know how to name.

(I. Material, Karol Wotjyla – Pope John Paul II)


soal romo paus, beliau memang bersahaja. saya pernah membaca darinya sebelum kepergiannya yang pedih minggu lalu; ‘tidak dari dunia tetapi tidak juga tercerabut dari dunia.’ sepertinya ini hanya bisa dimengerti oleh orang yang bergelut dengan amalan religiusitas yang tradisional. saat ziarah kuburku yang terakhir di cirebon ada yang mengatakan begini: ‘jika gusti pengeran pernah berkomunikasi dengan kanjeng nabi maka pilihannya ada dua; kanjeng nabi yang manusia itu diangkat sederajat dengan NYA, atau zat yang maha misterius itu menghambakan diri dan derajatnya setara dengan manusia.’

lalu dia menambahkan: ‘dalam forum para priyayi, antar priyayi berbicara dengan bahasa priyayi. dalam forum rapat akbar (ini jelas merujuk istilah zaman revolusi) saat priyayi bertemu dengan kerumunan kawula alit (rakyat), priyayi yang berapi-api di podium berbicara dengan bahasa kawula alit.’ saya menyimpulkan; tidak ada komunikasi tanpa kesetaraan antara dua pihak yang berkomunikasi. bung, ini bukan untuk berteori komunikasi tetapi sekedar kesimpulan pembicaraan cair di pekuburan mbah halim majalengka cirebon. dengan ini saya jadi bisa mengerti kenapa gusti allah harus menistakan diri di bukit golgota.ini terasa aneh bung, golgota bisa dipotret dengan jernih dari tanah pekuburan majalengka cirebon.

bagi orang kebanyakan yang sering semedi di pekuburan, perkara seperti ini tidak usah dimengerti dengan setumpuk logika yang rumit; bagaimana sang khalik yang mencipta bisa sederajat dengan makhluk yang diciptakannya? kalau bisa lalu lewat bahasa apa? bagi orang kebanyakan, pengetahuan seperti ini memang bukan lahir dari olah otak tetapi olah rasa. ngelmu iku lelaku. tidak sekedar cas cis cus.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 386 other followers