Archive

Web 2.0

© Lantip

Layaknya di rimba Papua sini, jagat Twitter dipenuhi berbagai macam kicauan. Mulai dari yang merdu hingga yang parau, ada yang mengalun tertata ada juga yang seperti racauan tanpa pola. Ada juga sepertinya yang kepengen jadi burung elang atau burung hantu, menjerit dan mengeluarkan suara aneh di saat-saat tertentu. Di saat tertentu malah terdengar kayak suara kodok. Meriah lah pokoknya.

Tapi semenjak beberapa minggu ini, ada sekelompok pekicau aneh yang muncul. Kemunculannya diawali oleh beberapa pemuda dengan latar belakang berbeda-beda; ada yang penulis, petualang, wartawan, musisi, praktisi IT,  dan pekerja biasa.

Aku sudah tidak bisa melacak diskusi awal mereka dengan lebih jelas hingga akhirnya mulai ramai kicauan yang diberi tagar #Fiksiminthi.

Nama itu jelas-jelas mengingatkan orang pada Fiksimini, gerakan kicauan yang sudah sangat populer di Twitter. Anehnya, sekalipun aku suka membaca dan menulis, aku tidak pernah ikut membuat Fiksimini. Aku hanya membaca dan mencoba menemukan semacam pola yang bisa aku ikuti agar bisa membuat Fiksimini.

Bedanya dengan Fiksimini, #Fiksi yang diikuti dengan kata minthi ini tidak memiliki akun Twitter sendiri. Mungkin para pencetusnya ingin fiksi ala mereka jadi seperti minthi (Bhs Jawa; anak bebek), bebas bermain dan berkeliaran kemana saja sesuka mereka.

Nah itu juga perlu aku jelaskan, “fiksi ala mereka”. Mereka yang aku maksud itu tentu saja sekelompok orang yang aku jelaskan sebelumnya dan nampak bukan seperti sekumpulan orang yang menggilai fiksi. Mereka punya dunianya sendiri-sendiri.

Fiksi dalam dunia mereka adalah bagian keseharian yang berfungsi seperti gambar bongkar pasang; bisa ditemukan dalam kepingan kenyataan/perjumpaan yang aneh atau sebagai tambal bagi kolom berita atau siaran televisi yang semakin lama semakin janggal.

#Fiksiminthi bahkan punya manifesto. Begini bunyinya; ‘boleh SARA, boleh ngawur, boleh ga ikut, yang penting ga boleh serius”. Manifesto itu lalu diperjelas oleh surat edaran seorang mantan Juri #Fiksiminthi, katanya; sastra itu terlalu penting jika hanya dipercayakan pada sastrawan.

Mau ga mau, yang diimani #Fiksiminthi ini membuatku teringat pada sebuah majalah sastra. Semangat majalah itu dan para penulisnya memiliki pemahaman yang mirip #Fiksiminthi ini, suka sastra atau nulis ga harus jadi orang yang “nyastra”, yang penting bisa menemukan cara baru pengungkapan dan penulisan.

Bagiku, #Fiksiminthi ini cara baru ngudari dan ngunyah berbagai kejadian yang membingungkan di indonesia; bom buku, penindasan Ahmadiyah, pembakaran gereja. Semua kelihatannya acak tapi setelah dikunyah-kunyah sambil tiduran atau ngobrol sama istri, ternyata bisa juga dipahami dengan akal sehat.

Dipahami thok? Ya karepmu. Yang jelas pemahaman itu akan membantumu melakukan sesuatu, mulai dari diskusi, nulis, demo sampe nge-twit.

Selamat berminthi-minthi….

???

Tampilan situsweb VP Book Club

Halaman awal situsweb penerbit Viking ini mengingatkanku pada sebuah kafe di Yogya. Kalo ga salah namanya Deket Rumah. Entah sekarang masih ada atau ga. Kalau kamu di Yogya tolong cek dan kabari aku.

Yang jelas kafe itu dipenuhi buku. Terkadang di meja ada buku dari pengunjung sebelumnya yang belum sempat atau malas mengembalikan, yang terus akan aku baca-baca. Kalau tidak menarik aku akan bergerak ke rak-rak buku.

Bedanya dengan kafe itu, situsweb ini tidak meminjamkan buku tapi menjual, dan hanya dari penerbit Penguin dan Viking Press.

Selamat menjelajah, selamat membaca di akhir pekan…

Screenshot situsweb Literacy Bridge

Dulu aku biasa nulis soal review situsweb di blog-ku yang lama.  Tapi karena kita sepakat bahwa yang sudah lewat biarlah lewat maka aku tulis di sini, dan semoga aku tetap akan nulis review situsweb di sini. Perlu disepakati sekali lagi bahwa; karena saya bukan praktisi IT dan desainer maka review ini kesannya amatiran sekali.

Halaman awal situsweb Literacy Bridge ini sangat bagus sekali. Pengunjung langsung akan terjerat banner gambar besar yang berganti setiap beberapa detik. Situsweb ini milik sebuah lembaga yang memiliki program unik; membangun literasi masyarakat di Ghana, Afrika, dengan audio book dan bukan dengan buku. Lebih jelas soal lembaga ini bisa klik di halaman ini.

Aku jadi ingat kata istriku yang sekarang mengajar di sekolah internasional, “yang penting anak itu bisa membangun logika berbahasa dulu baru diajar menulis, bukan kebalikannya”.Di Papua sini, anak masih susah membaca sampai SMP karena para guru menekankan anak untuk bisa menulis. Itu pun kalau gurunya ada di tempat tugas.

Desainer situsweb ini tahu bahwa koleksi foto adalah aset tapi juga bisa jadi bencana, seperti yang layaknya kita jumpai di situsweb LSM atau lembaga yang menjejali situswebnya dengan foto. Tidak semua halaman di situsweb ini dihiasai foto. Nampak benar bahwa foto-foto yang diunggah menunjukkan penggunaan alat yang disebut Talking Book, ada ibu-ibu, bapak-bapak di ladang, anak sekolah, yang menggunakan Talking Book.

Tapi sayangnya di halaman testimonial, yang bersaksi tentang alat itu adalah para bapak dan ibu, anak-anak tidak nampak entah kenapa.

Pemilihan dan penempatan foto yang cermat diimbangi dengan pemanfaatan ruang yang efisien bagi teks. Tidak serta merta sang desain menjejali situsweb dengan teks sampai pengunjung harus menelusur browser jauh ke bawah.

Yang bikin agak membosankan mungkin latar belakang situsweb yang berwarna coklat. Jadi ingat salah satu template blog di WordPress. Satu-satunya bagian yang menjadi aksentuasi adalah tombol “Donate now” di pojok kanan atas.

Situsweb ini bisa jadi referensi yang pas bagi LSM atau lembaga yang ingin memajukan pendidikan di daerah seperti Papua dengan memanfaatkan teknologi.

Selamat membaca….

screenshot instalasi awal wordpress for bb

screenshot instalasi awal wordpress for bb

Pada awalnya aku ingin menyebutmu dengan Bblogging. Blogging melalui BB (Blackberry). Atau bisa juga BB untuk blogging.

Hal itu berawal sejak aku membaca sebuah tulisan di situsweb tentang sebuah aplikasi yang memungkinkan membuat posting di wordpress melalui BB.

Lalu di BB baruku, kado natal dari seseorang, aku langsung mencoba mendownload aplikasi WordPress untuk BB.

Setelah beberapa kali mencoba akhirnya aku bisa mendownload dan mengaktifkan aplikasi ini.

Inilah saatnya. Aku tidak pernah membayangkan bertemu dirimu di tempat sesempit ini dan membentuk dirimu dengan tuts kecil yang sangat menyiksa.

Tapi toh aku sangat takjub akan kemungkinan baru masa depan yang bisa aku cicipi dengan perangkat ini.

Aku bisa menemukan dirimu dan bergumul dengan dirimu di mana saja. Bahkan di samping istriku yang sedang tertidur lelap di sampingku saat ini.

Karenamu aku bisa menempatkan semua peristiwa menjadi kisah dan kisah menjadi bagian bagian seperti dalam buku cerita.

Kamu membuatku menelusuri kedalaman diri di tengah kedangkalan hidup keseharian. Sekalipun jalanku tertatih-tatih seperti seorang pria yang kakinya sudah lama tidak menyentuh pasir pantai.

Di pantai itulah aku kerap menyadari diriku bahwa aku sedang berlibur dengan dirimu. Aku tidak lagi menemukanmu di dalam laporan atau uraian kerja.

Orang boleh menyebutmu dengan blogging, microblogging, tweeting. Bagiku, itu hanya nama julukanmu di tengah dunia yang semakin terlipat.

Aku minta izin untuk tetap menyebutmu sebagai tulisan dan kegiatan menemukanmu sebagai menulis. Dengan alat apa pun aku melakukannya.

Ternyata seluas provinsi Jawa Timur!

Setahun yang lalu, di sebuah acara pentas seni di Surabaya yang diadakan untuk mengenang 3 tahun peristiwa lumpur Lapindo, seorang orator berteriak lantang;  “bayangkan jika desa Renakenongo adalah rumahmu, bayangkan jika lumpur Lapindo itu muncul di halaman depan rumahmu di manapun di Surabaya, apa yang akan kalian lakukan?”

Bagi kebanyakan hadirin di acara itu, pertanyaan itu sudah tidak perlu dipikirkan lagi. Sudah jelas Lapindo salah! Bakrie taek asu! SBY presiden bencong!

Tapi tentu tidak demikian dengan orang-orang yang sambil lalu lewat di depan Taman Apsari malam itu.

Bicara soal luas daerah yang tertimpa luapan lumpur Lapindo, kita kerap kali hanya melihat foto atau membaca di koran, atau melihat langsung di lokasi. Tapi kerap kali kita kurang bisa membayangkannya, atau membuat para pengambil keputusan di negeri ini jadi bisa membayangkan seberapa parahnya lumpur Lapindo.

Aku pernah baca di koran para korban lumpur Lapindo membawa lumpur Lapindo ke halaman DPR di Jakarta sana.  Usaha semacam itu yang perlu dilakukan. Mendekatkan mereka di Jakarta dengan bencana.

Rasanya di Indonesia perlu ada yang membuat situsweb seperti ifitweremyhome.com. Situsweb ini dibuat dengan tujuan untuk mendekatkan kita dengan besarnya dampak sebuah bencana, baik alam maupun akibat ulah manusia, dengan diri kita.

Bagi pengampu situsweb tersebut, mengajak orang membayangkan jika bencana itu menimpa daerah mereka jauh lebih mengena katimbang menyajikan sederet fakta.

Ada dua kejadian yang mereka tampilkan di situsweb, bencana tumpahan minyak BP di Teluk Meksiko dan bencana banjir Pakistan.

Setelah kita memilih tumpahan minyak BP misalnya, akan muncul tampilan Google Map. Lalu tulis nama daerah kita di kolom yang disediakan.

Surabaya, misalnya, lalu klik “move the spill” dan lihatlah hasilnya. Ternyata tumpahan minyak British Petroleum di Teluk Meksiko itu bisa menutup hampir seluruh provinsi Jawa Timur dan bahkan se-Kabupaten Mimika!

Selamat mencoba. Dan siapa tahu kamu mau menyempatkan waktu untuk menulis kepada mereka, meminta membuat fitur di situsweb itu untuk menggambarkan lumpur Lapindo.


Belum lama ini aku melihat sebuah acara menarik di Discovery Channel. Di acara itu dijelaskan bahwa kota-kota besar dunia sedang berusaha menata dirinya menghadapi perkembangan zaman. Kota besar seperti Chicago misalnya, untuk mengatasi cepatnya laju pertumbuhan kota dan penduduk, sedang membangun kota di bawah tanah.

Amsterdam, ibukota Belanda, sedang menata dirinya untuk membuat hal serupa. Tapi masalahnya, jika penggalian dilakukan seperti di Chicago, gedung-gedung kuno di kota itu terancam ambles karena kondisi tanah di bawah kota Amsterdam yang sangat rentan. Solusi mereka ternyata cukup hebat dan sederhana. Supaya tidak menimbulkan guncangan, maka mesin penggali diletakkan di kanal-kanal yang sudah dikeringkan. Di situlah penggalian dilakukan. Setelah selesai, kanal kembali dialiri air, dan voila, Amsterdam kembali unik seperti sedia kala.

Proyek itu kabarnya masih belum rampung dan akan butuh waktu lama untuk menyelesaikannya. Agak ragu juga sebenarnya; bisa selesai, ga? Tapi negara kecil berpenduduk 16 juta jiwa itu terkenal sebagai negara yang ulet serta konsisten dengan proyek jangka panjang.

Mereka sudah terbiasa mencari jalan keluar kreatif dan mengerjakan proyek-proyek ambisius, seperti Zuiderzeewerken yang dimulai tahun 1918. Bahkan sudah sejak lama, orang Belanda dipercaya mengerjakan proyek pengelolaan air di luar Belanda seperti pengeringan daerah di Cambridgeshire, Inggris dan pembangunan kanal kota Gothenburg, Swedia pada abad 17 hingga pemanfaatan daerah rawa-rawa dan gurun di sepanjang sungai Awash, Ethiopia pada tahun 1953.

Beberapa temanku berpendapat bahwa mahakarya Belanda dalam konstruksi adalah Afsluitdijk, kanal dan bendungan yang dibangun antara tahun 1927 dan 1933. Padahal ada lagi proyek pengelolaan air yang jauh lebih rumit dan bermanfaat di Belanda, Deltawerken.

Deltawerken adalah megaproyek yang dikerjakan dari tahun 1950 hingga 1997 (!) dan bertujuan untuk mengelola daerah delta tiga sungai besar di Eropa; Rhine, Meuse, dan Scheldt. Sepanjang sejarah Belanda, daerah delta tiga sungai besar tersebut adalah daerah langganan banjir.

Banjir melanda desa Serooskerke, Belanda

Studi awal dilakukan pada tahun 1937 oleh Rijkswaterstaat (Departemen Pekerjaan Umum). Hasilnya, banyak wilayah di Belanda rentan bencana akibat badai dan naiknya air laut, terutama di daerah muara sungai Rhine, Meuse, Schelde yang padat penduduk (dalam versi Belanda tentunya).

Daerah muara sungai Rhine-Meuse-Scheldt; berkah sekaligus bencana

Proyek ini sempat mangkrak beberapa saat akibat Perang Dunia II dan pro – kontra di masyarakat Belanda tentang salah satu bagian proyek Deltawerken, yakni rencana penghadang badai di Oosterschelde yang dipandang akan merusak lingkungan.

Akhirnya, pada 21 Februari 1953, komisi pembangunan Deltawerken dibentuk. Tujuannya cukup jelas; pengeringan dan perlindungan daerah langganan banjir dan perlindungan daerah supaya tidak menjadi daerah payau. Maka dimulailah proyek jangka panjang berbagai macam konstruksi seperti bendungan, kanal, pintu air, dan modifikasi aliran sungai. Megaproyek ini juga sangat memperhitungkan perencanaan urban dan ekologi serta keterlibatan para pemangku kepentingan.

Hasilnya, Belanda semakin aman terhadap banjir dan memiliki daerah baru yang dapat dimanfaatkan. Beberapa spesies ikan dan tanaman memang terpengaruh akibat pembangunan beberapa proyek Deltawerken, tapi kini ekosistem dan spesies baru muncul menggantikan yang hilang. Deltawerken kini diakui sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia modern oleh American Society of Civil Engineers.

Penghadang badai Oosterschelde, nampak pulau Neeltje Jans di kejauhan.

Tidak heran jika senator Mary Landrieu dari Negara bagian Louisiana, Amerika Serikat, memuji Belanda sebagai “pemimpin dunia dalam perlindungan banjir secara menyeluruh, memadukan perencanaan tanah, teknologi dan rekayasa sipil mutakhir, serta edukasi masyarakat secara ekstensif” (27 September 2008, www.hollandtrade.com)

Sekarang para insinyur Belanda sedang memikirkan pekerjaan selanjutnya setelah Deltawerken selesai, seperti memikirkan permasalahan seperti meningkatnya permukaan air laut akibat pemanasan global dan penurunan ketinggian tanah.

Seharusnya pemerintah Indonesia juga mulai memikirkan proyek serupa. Apalagi mengingat ibukota negara kita tercinta yang semakin sering kebanjiran serta daerah delta Sungai Bengawan Solo. Hitung saja berapa kota dan luas daerah produktif yang berada di delta sungai Bengawan Solo dan dampak yang akan kita rasakan jika Bengawan Solo sudah benar-benar rusak.

Wikimap of Mimika

Wikimap of Mimika


Karena Google Earth tidak bisa diakses aku sempat kesulitan mencari peta Timika dan Mimika. Padahal perlu sekali. Google Map informasinya kurang memadai. Dari Rendra aku dapat informasi bahwa Wikimapia cukup bisa diandalkan. Setelah aku coba ternyata benar juga. Cukup luas daerah Mimika yang sudah dipotret dari atas sana. Yang bikin kurang nyaman adalah banyaknya informasi yang ditinggalkan orang. Masa cuma rumah kos saja dikasih tanda.

Aku menambahkan tiga penanda di peta yang sudah ramai penanda itu;
1. Kantor LPMAK 1-2
2. LPMAK 3-4 (Ex Incubator PTFI)
Keduanya ada di Timika
3. Rumah di Kuala Kencana (cari ke arah utara dari Timika)
4. Asrama Penjunan
5. Distrik Akimuga

Selamat jalan-jalan di Mimika….

Ada fenomena komunikasi dewasa ini yang cukup layak menjadi perenungan kita, bahwa perkembangan internet harus diikuti dengan kepemilikan gadget. Maka, semakin seringlah kita melihat kafe dipenuhi orang yang membawa laptop dan tangan-tangan yang mengenggam iPhone atau Blackberry, tapi tidak bisa memanfaatkan internet dengan efektif. Perkembangan teknologi mestinya memacu produktivitas, dalam kerja maupun peningkatan kapasitas pribadi.

Padahal selain efektif, internet tentu juga harus ekonomis. Buat apa harus beli iPhone atau smart phone lainnya jika kita tidak harus mengirim berita atau membuka kotak surat setiap hari? Ini bukan pembelaan bagi yang berkantong cekak seperti mahasiswa atau pekerja produktif tapi defisit melulu seperti saya ini, tapi saya yakin semua pengembang program internet bertujuan memudahkan kehidupan tanpa harus menambah beban baru dan dengan niatan menjadikan internet sebagai ruang luas tak terbatas untuk berbagi ilmu dan pengetahuan oleh siapa saja.

Pemerintah sebenarnya sudah cukup tanggap dengan perkembangan internet, dengan mengembangkan Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas) dan Buku Seri Elektronik (BSE). Tapi masih perlu usaha keras untuk menyinergikan upaya itu dengan pengaruh kuasa modal dalam perangkat keras pendukung internet, seperti komputer dan laptop murah.

Sementara itu kita, di komputer kantor dengan koneksi yang memble, komputer warnet yang sudah butut, atau komputer pribadi di rumah, setiap hari diiming-imingi laptop murah, smart phone dan berbagai gadget lainnya. Sembari kita membayangkan semua benda itu, kita tersesat di jagat dunia maya, tercangkul di dalam berbagai program social networking (jejaring sosial) macam Friendster, Facebook, atau Myspace.

Sebuah survei di majalah BusinessWeek edisi Juli 2007 menempatkan Jakarta sebagai kota yang paling banyak melakukan aktivitas di ranah blog, jauh di atas Beijing dan Mumbai. Tapi kenapa Indonesia tidak banyak bicara di dalam perkembangan dunia internet seperti India? Kenapa kampanye Visit Indonesia Year 2008 tidak cukup banyak berbicara di jagad maya? Pertanyaan-pertanyaan itu patut kita imbangi dengan beberapa torehan prestasi generasi muda yang mampu menggunakan keuntungan internet.

Saya yakin bahwa juga banyak orang yang memikirkan produktivitas kita berinternet, dan suatu saat pasti akan jadi gerakan semacam menggunakan listrik dengan efektif. Saat ini saya hanya akan mengajak berbagi kiat dan siasat menggunakan internet dengan efektif dan produktif menurut bidang kerja dan minat kita masing-masing.

Baca lebih lanjut >>

From infonie

Akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke wordpress. Terserah kamu mau bilang ini pengkhianatan atau bagaimana. Toh aku masih pake hampir semua produk Google dan usaha Google untuk mengorganisasikan semua hal di dunia ini. Akun di blogger ini tidak akan aku hapus. Untuk kenang-kenangan.

Pertama belajar bikin blog ya pake blogger, tahun 2003 dulu. Aku dulu biasa ngenet di sebuah warnet yang kotor dan lambat sekali koneksinya di dekat rumah. Setelah lulus kuliah aku biasa ngenet di sebuah warnet di daerah Bratang yang sama mutunya dengan warnet dekat rumahku. Entah kenapa di Surabaya jarang sekali ada warnet bagus.

Blog ini awalnya sempat diniatkan untuk jadi tempat nulis rame-rame. Ari sempat nimbrung sebelum akhirnya dia mencuri ilmu blog dan membuat blog sendiri yang (rasanya) lebih bermutu isinya ketimbang blogku. Dasar taoke. Muhaimin juga pernah ikutan. Tapi mungkin dia lebih tepat berdakwah lewat kamera ketimbang blog.

Masa paling sepi mungkin tahun 2004 sampai 2006. Pas aku tinggal di Yogyakarta blog ini malah semakin kuabaikan, gara-gara bermimpi bisa mahir PHP dan bikin web sendiri. Tapi setelah ke Surabaya lagi malah rajin nulis. Sekalipun sebagai pelampiasan sumpek kerja tapi aku ga pernah ngrasani kantor di blog. Sama sekali bukan topik yang menghibur, baik untuk diriku sendiri maupun untuk orang lain.

Semua posting di blog ini juga bisa dibaca di akun multiply-ku yang aku bikin untuk cari-cari mp3.

Baiklah kawan. Selamat datang di rumah baruku.

Asu. Seharian kemarin aku panik. Beberapa account google yang aku gilai selama ini ngadat tidak bisa diakses, seperti gmail dan blogger. Google reader aku belum sempat cek. Picasa baik-baik saja tapi untuk unggah gambar lama sekali. Tidak seperti biasanya.

Tidak hanya itu, situs web lain yang selalu aku gunakan juga tidak bisa diakses, seperti del.icio.us dan wordpress. Email kantor sendiri juga lambat sekali untuk kirim email.

Setelah mencuri-curi waktu di antara rapat anggaran aku bisa mengakses semua situs web itu lewat vtunnel. Tapi belum puas juga. Wong biasanya ga ada masalah kok.  Masa kena virus? Ah itu kan cuma terjadi sama orang-orang yang selalu apes sama komputer aja. Apalagi yang sifatnya merusak seperti ini.

Tapi setelah aku baca-baca beberapa artikel di Techspot, akhirnya aku harus menerima kenyataan bahwa laptopku kena virus. Bahkan mungkin jenis yang berbahaya, yang sampai mencuri ”identitas”ku di dunia maya. Aneh. Padahal aku ga pernah melakukan transaksi on-line.

Sebuah artikel di International Herald Tribune menjelaskan bahwa sejak pertengahan tahun ini banyak pengguna Gmail yang kerepotan karena ga bisa buka emailnya karena sistem google dibajak oleh perusahaan yang namanya Zoho. Yah begitulah. Namanya juga dagang. Sesekali saling sikut.

Setelah komputer aku pindai dengan software pelacak spyware adware dan barang-barang haram internet lainnya, akhirnya pas di sore hari aku bisa buka Gmail dan Yahoomail. Sesuai petunjuk di techspot aku lakukan beberapa langkah pengamanan email.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 386 other followers